MEDAN, Waspada.co.id – Memasuki 100 hari kerja Wali Kota Medan, Boobby Nasution berdampingan dengan Aulia Rachman dinilai belum memberikan kinerja nyata di mata publik atau masyarakat.
Sebab, kinerja yang selama ini dijalankan menantu Presiden Jokowi sejak dilantik menjadi orang nomor satu di Pemko Medan belum ada program khusus untuk perubahan Kota Medan. Demikianlah pandangan yang disampaikan Pengamat Kebijakan Kota Medan, Rafriandi Nasution, SE MT kepada Waspada Online, Minggu (6/6).
Menurutnya, langkah yang telah dilakukan Bobby dengan mencopot beberapa pejabat di bawah jajarannya bukanlah sebuah program, tetapi sikap dan etika yang sifatnya hanya mencari perhatian publik atau masyarakat. Sehingga, apa yang telah dilakukannya terkesan by design atau sengaja didesain dari pusat.
“Coba lihat, kasus pencopotan kepala dinas dan lurah kemarin. Apa yang dilakukan Bobby di Medan sama seperti yang dilakukan Gibran di Solo. Sudah pasti kalau kita menilai ini terkesan terorganisir dari pusat untuk mencari simpatik masyarakat,” cetus Rafriandi.
Seharusnya, sebut Ketua Lembaga Pengawas Kinerja Aparatur Negara (LPKAN) Sumatera Utara ini, Bobby membuat program khusus jangka pendek dan jangka panjang dengan memprediksi kinerjanya dalam 100 hari. Misalnya, melakukan program khusus dengan mengaudit kinerja jajaran bawahannya dengan melihat kompetensi dan kualitas di setiap sektor organisasi perangkat daerah (OPD).
“Kita kan tahu, semua sektor kerja ada di OPD. Seharusnya Bobby mengaudit kinerja mereka (OPD) dengan mengevaluasi kinerja jajaran yang berkualitas sesuai kelayakan. Dengan demikian, Bobby mampu melakukan evaluasi kinerja jajaran untuk mendukung program kerjanya.
“Selama ini Bobby main copot saja, tanpa harus mengaudit kinerja orang yang dicopot. Ini yang salah, harusnya dia bisa menelusuri dan mengkaji apa yang salah di OPD tersebut yang diukur oleh publik. Begitu juga sebaliknya di jajaran pejabat di tingkat kecamatan hingga kelurahan dan kepala lingkungan, jangan main copot saja,” tegas Rafriandi.
Dengan gerakan yang dilakukan Bobby turun ke lapangan tanpa didukung oleh perangkat kerjanya di OPD, akan membuat Bobby lelah sendiri. Untuk itu, kepada menanti Presiden Jokowi ini harus bisa membedakan mana program dan tindakan untuk mencari simpatik di masyarakat.
“Menurut saya, 100 hari kerja Bobby belum ada yang nampak. Karena sifatnya masih mencari simaptik publik, ini merupakan desan yang diciptakan dari ‘istana’. Jadi, kesannya apa yang dilakukan Bobby di masyarakat tidak original atau terogranisir dari pusat,” pungkas mantan Dirut BUMD ini.
Harapan Rafriandi, Bobby harus mampu membangun sistematis dengan mengaudit kinerja bawahaannya, kemudian membuat analisis swot untuk mengetahui kelemahan, kekuatan, peluang dan ancaman terhadap program yang akan diwacanakannya selama menjabat Wali Kota Medan.
“Kalau kinerja Bobby berjalan sesuai program, dia (Bobby) harusnya melakukan pembenahan secara internal. Apabila internal sudah dibenahi, maka Bobby dapat melaksanakan skala prioritas program di masyarakat untuk mendapat simpatik dari publik,” cetus Rafriandi.
Dengan adanya program secara terukur, Bobby dapat membangun terobosan untuk perubahan Kota Medan demi kepentingan masyarakat. Jadi, selama ini apa yang dilakukan Bobby programnya tidak termanajemen sehingga pencapaian yang diperoleh OPD-nya masih memiliki nilai di bawah rata-rata.
“Coba lihat, apa yang sudah dicapai atau dihasilkan di setiap dinas yang ada di jajaran Pemko Medan,” siggung Rafriandi.
Harapannya, kepada Bobby untuk mencapai kinerja baik ke depannya, Rafriandi menyarankan agar menantu Presiden Jokowi tersebut bersifat positif kepada seluruh jajaran OPD-nya dengan tidak mendudukan pejabatn jajaran di bawahannya antara suka dan tidak suka. Sehingga, program kerjanya bisa berjalan dengan baik untuk menuju perubahan kemajuan Kota Medan.
“Kita sudah lihat, 100 hari kinerja Bobby belum ada yang nampak jelas. Harapannya, ke depannya Bobby bisa membangun sebuah program kerja dengan manajeman yang teratur agar fokus pada suatu permasalahan. Sehingga, program jangka pendek dan jangka panjang dapat dikerjakan secara nyata kepada masyarakat Kota Medan,” harapan Rafriandi mengakhiri. (wol/ril/data3)
Editor AGUS UTAMA


















Discussion about this post