MEDAN, Waspada.co.id – Pengamat Politik, Universitas Sumatera Utara (USU), Dr. Warjio, menilai 100 hari Bobby Nasution dan Aulia Rachman menjadi Wali Kota dan Wakil Wali Kota Medan masih dalam pencarian dan pemetaan masalah.
“Saya nilai sampai saat ini masih fokus pada penguatan struktur di birokrasi. Tetapi masih belum maksimal,” kata Warjio saat dikonfirmasi melalui telepon seluler, Sabtu (5/6).
Sejak dilantik menjadi pemimpin di kota ke tiga terbesar di Indonesia, Bobby dan Aulia, terlihat masih mencoba menata sturuktur di tingkat bawah, seperti lingkungan, kelurahan, kecamatan, dan SKPD.
Meski demikian, hal itu menurut Warjio, persoalan pelayanan publik masih tetap menjadi yang utama, sehingga kata Dia, tindakan tersebut masih belum cukup, sebab, dampaknya belum bisa dirasakan.
“Misalnya begini, apakah betul-betul proses rekruitmen yang sudah dijalankan terhadap calon SKPD yang mau ditempatkan merupakan representasi orang yang bisa mendukung untuk keberhasilan pembangunan, atau sebaliknya, menjadi boomerang,” ujarnya.
Selanjutnya, Dia pun mengatakan, adanya persoalan kontra produktif dalam kepemimpinan Bobby-Aulia, yakni membangun Medan sebagai The Kitchen Of Asia di tengah masa pandemi Covid-19.
“Itu betul-betul suatu kebijakan yang bermasalah. Bukan saja ditelurkan di masa Covid-19, tapi juga menjadi penyebab penyebaran virus Covid-19 di wilayah Medan sehingga tidak aman,” ungkapnya.
Selain itu, Warjio sangat menyayangkan, kebijakan tersebut, sebab tidak dipertimbangkan terlebih dahulu secara matang. Sehingga lanjutnya, kebijakan itu sangat kontraproduktif dan bermasalah.
“Seharusnya bukan faktor ekonomi saja yang harus dipertimbangkan, tetapi harus diselaraskan juga dengan kebijakan penanganan Covid-19 di Medan. Walau pun akhirnya sekarang ditutup atau tidak dilanjutkan. Tetapi seharusnya Bobby dan timnya harus sudah memberi arahan itu,” katanya.
Lebih lanjut, Warjio mengungkapkan, perihal penangan Covid-19, komunikasi politik Bobby Nasution secara struktur birokrasi kurang baik. Hal itu terlihat dari komunikasi politik antara Bobby Nasution dan Edy Rahmayadi.
“Bagaimana Bobby tidak mengetahui tempat wilayah penampungan terpapar Covid-19 itu. Nah, sayang sekali ini, bisa jadi timnya memang tidak memberikan informasi yang cukup. Malah, diekspose ke media. Makanya kejadian itu memberi gambaran negatif,” ungkapnya.
Terakhir, Kata Warjio, jika ditinjau dari janji politik Bobby Nasution dan Aulia Rachman, terkait masalah banjir, drainase, infrastrukur, dan kesehatan. Ke empat hal itu belum tersentuh secara baik.
“Itu jalan di Medan masih banyak daerah yang buruk jalannya dan sangat mengganggu masyarakat. Kemudian penanganan Covid-19 yang jelas sekali dari nasional menyoroti Medan belum mampu menangani. Ini lah yang jadi persoalan,” jelasnya.
“Jadi kita tidak memberikan nilai yang baik ke Bobby. Paling hanya 40 karena bagaimana pun masih banyak catatan untuk proses pembangunan ke depan agar lebih baik. Sebab, Bobby dipilih karena masyarakat berharap ada perubahan,” tutupnya.(wol/man/d2)
Editor: SASTROY BANGUN


















Discussion about this post