Friday, 14 December 2007 07:01    PDF Print E-mail
Beberapa Masalah Dalam Pelaksanaan Kurban
Mimbar Jumat
Beberapa hari lagi umat Islam akan menyambut Hari Raya Adha 1428 H. Salah satu ibadah yang disyariatkan pada Hari Raya Adha adalah menyembelih hewan kurban. Hukum kurban hewan ini adalah sunnat muakkadah. WASPADA Online

Oleh DR. H. Ramli Abdul Wahid, MA


Beberapa hari lagi umat Islam akan menyambut Hari Raya Adha 1428 H. Salah satu ibadah yang disyariatkan pada Hari Raya Adha adalah menyembelih hewan kurban. Hukum kurban hewan ini adalah sunnat muakkadah. Dalilnya antara lain adalah hadis riwayat at-Tirmizi yang artinya, "Saya (Nabi) diperintahkan menyembelih kurban dan kurban itu sunnat bagi kamu," dan hadis riwayat adDaraquthni yang artinya, "Diwajibkan atas saya (Nabi) kurban dan tidak wajib atas kamu." Namun demikian, ada juga pendapat yang mewajibkannya berdasarkan surat al-Kautsar : 2 yang artinya, "Maka salatlah karena Tuhanmu dan sembelihlah kurban."

Kurban ini setiap tahun dilaksanakan umat Islam di Indonesia. Mengenai hukum-hukumnya selalu dibahas setiap kali dekat masa penyembelihannya. Namun, namanya kaji tidak pernah tamat. Selalu saja ada yang perlu diperhalus. Bahkan, dalam pelaksanaannya kadang-kadang melenceng dari kaji. Misalnya, menjual atau membuat kulit kurban sebagai bagian dari upah pekerjanya hukumnya haram, baik menurut hadis maupun literatur. Tapi, sampai saat ini masih ada panitia yang menjual atau menjadikan kulit sebagai bagian dari upah bagi petugas yang membersihkan hewan kurban. Alasan panitia adalah karena dibagi-bagi pun kulit itu akan mubazir. Lebih baiklah dijadikan upah atau dijual untuk menambah-nambah bagi upa pekerja. Padahal, menurut kaji tidak begitu.

Hukum menjual kulit kurban, jelas haram dari hadis riwayat al-Hakim dan al-Baihaqi yang berbunyi, Man ba'a jilda udhhiyatahu fala udhhiyata lahu (Barangasiapa yang menjual kulit kurbannya maka tiada kurban baginya). Dalam riwayat al-Bukhari dan Muslim dijelaskan bahwa Ali ra. diperintahkan oleh Nabi Saw. agar tidak memberikan kepada penyembelih suatu apa pun dari kurbannya. Maksudnya sebagai upah. Karena itu, kulit atau tanduk atau bagian apa pun dari kurban tidak boleh diberikan kepada tukang sembelih atau pekerja membersihkan dan memotong-motong kurban sebagai gaji atau imbalan kerjanya.

Tetapi, semua itu boleh diberikan kepadanya atas dasar kemiskinannya, bukan sebagai upah. Pemberian kulit atau kepala kurban kepada orang miskin yang mengerjakannya sah sebagai tamlik (pemilikan). Selanjutnya, pekerja itu boleh memakannya dan mengolahnya untuk dijual.  Hewan yang dapat dijadikan kurban adalah unta, lembu, kambing, dan biri-biri. Seekor kambing hanya boleh untuk satu orang, sedang seekor unta atau lembu boleh untuk tujuh orang, baik ketujuh orang itu dari satu keluarga maupun dari keluarga yang berbeda. Bahkan, mereka yang tujuh boleh berbeda niat.

Misalnya, empat orang berniat untuk kurban, dua orang untuk akikah anaknya, dan satu orang hanya untuk mengambil dagingnya sebagai makanan keluarganya. Ketika menjelaskan hadis riwayat Muslim yang artinya, "Kami berkurban bersama Rasul Saw. di Hudaibiyah seekor untuk untuk tujuh orang dan seekor lembu untuk tujuh orang," al-Khatib asy-Syarbaini berkata dalam kitabnya, Mughnil Muhtaj, jilid VI halaman 126 bahwa zahirnya mereka (yang tujuh orang itu) tidak berasal dari satu rumah. Dia juga menambahkan bahwa kebolehan itu sama ada niat jenis taqarrubnya sama atau berbeda, seperti sebagian mereka bermaksud kurban dan yang lainnya denda haji atau sebagian menghendaki dagingnya dan yang lain bermaksud kurban. Mereka yang berniat kurban akan menggunakan kurbannya sesuai dengan hukum kurban, yaitu wajib menyedekahkan sebagiannya kepada orang miskin. Sementara orang yang menghendaki dagingnya menggunakan dagingnya sesuai keinginannya, boleh memakan semua daging bagiannya.

Kebolehan berbeda jenis niat ini juga berlaku kepada orang yang bermaksud kurban dan yang bermaksud akikah. Sebab, sepertujuh dari unta atau lembu dipersamakan dengan seekor kambing atau kibas. Keterangan ini dapat dibaca dalam kitab tersebut di atas pada halaman 139. Al-Khathib asy-Syarbaini berkata bahwa sepertujuh unta atau lembu sepertri seekor kambing. Sekiranya seorang menyembelih seekor unta atau lembu untuk akikah tujuh orang anaknya atau beberapa orang berserikat menyembelihnya boleh saja, sama ada mereka semua bermaksud akikah atau sebagian mereka untuk akikah dan yang lainnya hanya menghendaki dagingnya.

Adapun penyembelihan kurban untuk orang lain yang masih hidup, seperti orang tua atau saudara, hukumnya tidak boleh kecuali dengan izin yang bersangkutan. Sebab, kurban itu ibadah. Ibadah tidak dilakukan untuk orang lain kecuali dengan niatnya atau minimal persetujuannya. Demikian juga, kurban untuk orang mati tidak terlaksana tanpa ada wasiatnya. Jika kurban itu berdasarkan wasiat, maka boleh dilaksanakan sedang dagingnya disedekahkan seluruhnya kepada orang miskin. Pelaksananya dan orang kaya tidak boleh memakan daging kurban wasiat. Namun demikian, ada juga yang berpendapat bolehnya menyembelih kurban untuk orang mati tanpa wasiatnya dengan memandang pekerjaan itu sebagai satu jenis sedekah. Keterangan ini dapat dibaca dalam kitab yang sama halaman 137-138. Bagaimana pun, pendapat pertama lebih kuat dan seyogianya dijadikan pegangan.

Mengenai pendistribusian daging kurban, Alquran memberikan keterangan secara umum. Dalam surat al-Hajj : 28 dan 38 Allah berfirman yang artinya, "Maka makanlah sebagian darinya (kurban) dan beri makanlah orang yang sengsara dan fakir," dan "Maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang miskin yang tidak meminta-minta dan orang miskin yang meminta." Di samping itu, dalam riwayat Ahmad, Nabi saw. bersabda, "Janganlah kamu jual daging denda haji dan daging kurban, tetapi makanlah, sedekahkanlah, manfaatkanlah kulitnya, dan janganlah dijual. Berdasarkan ayat dan hadis-hadis ini, sebagian daging kurban sunnat dimakan oleh orang yang berkurban sendiri dan sebagaian lagi diberikan kepada orang yang susah.

Para ulama memahami perintah memberikan di sini sebagai perintah wajib. Artinya, meskipun hukum kurbannya sunnat, sebagian dagingnya wajib diberikan dalam keadaan mentah kepada orang miskin yang Islam. Pemberian ini sifatnya tamlik (pemilikan). Karena itu, orang yang menerima daging kurban boleh menjual atau memakannya. Misalnya, penerima daging kurban itu membutuhkan uang atau tidak suka memakan daging atau sudah terlalu banyak daging kurban yang diterimanya, maka ia boleh saja menjualnya.

Bagian yang tinggal boleh dimakan atau disimpan oleh yang melaksanakan kurban dan boleh juga dihadiahkannya kepada orang kaya. Akan tetapi, pemberian daging kurban kepada orang kaya sifatnya hadiah, bukan tamlik (pemilikan). Karena itu, orang kaya yang menerima daging kurban hanya boleh memakannya dan tidak boleh menjualnya. Namun yang afdal (cara yang paling baik) dilakukan orang yang berkurban adalah menyedekahkan seluruh kurbannya kecuali sedikit saja—terutama hati hewan kurban—dimakannya sebagai mengambil berkat dari kurbannya. Mengenai pemberian daging kurban kepada non-Muslim, dalam ayat dan hadis tersebut tidak dibedakan antara Muslim dan non-Muslim. Dalam memahami ini para ulama berbeda pendapat pula. Ulama mazhab Maliki memakruhkan pemberian daging kurban sunnat kepada Yahudi dan Nasrani. Ulama mazhab Hambali membolehkannya sebagai hadiah.

Menurut kalangan Syafiiyah, daging kurban yang sunnat boleh diberikan kepada orang miskin kafir Zimmi dan tidak boleh diberikan kepada mereka daging kurban yang wajib. Adapun orang kaya non-Muslim sama sekali tidak boleh diberikan daging kurban. Keterangan ini lebih jauh dapat dibaca dalam kitab al-Majmu' karya an-Nawawi, jilid VIII halaman 425 dan kitab al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu karya DR. Wahbah az-Zuhaili, jilid III halaman 415. Ini dikemukakan sebagai pengetahuan. Bagaimana pun, prioritas tentunya diberikan kepada orang Islam. Karena orang Islam pun masih banyak yang menghajatkannya.

Dalam perkembangan toleransi dan harmonisasi belakangan ini, ada pula sebagain non-Muslim yang ingin turut menyembelih hewan kurban. Berdasarkan kaedah-kaedah umum, pemberian non-Muslim boleh diterima asalkan sepanjang pengetahuan penerima, pemberiannya itu tidak berasal dari hasil yang haram dan tidak membawa mudrat kepada Agama dan umat.

Karena itu, jika non-Muslim menyerahkan hewan untuk disembelih sebagai kurban, panitia kurban boleh menerimanya dan menyembelihnya secara syariat. Akan tetapi, penyembelihannya tidak niat kurban karena kurban adalah ibadah (qurbah), sedang syarat sahnya suatu ibadah adalah Islam. Dagingnya halal dan sah dibagi-bagikan kepada kaum Muslim dan non-Muslim, baik yang miskin maupun yang kaya. Perbuatan non-Muslim seperti ini dinilai sebagai budi baik terhadap orang Islam dan harus dihargai dalam pergaulan duniawi.

Penulis adalah Ketua Komisi Dikbud MUI SU.

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment