Friday, 30 November 2007 07:43    PDF Print E-mail
Islam Dan Perlakuan Terhadap Bayi Yang Baru Lahir
Mimbar Jumat
"Ya Tuhan ku, anugerahkanlah kepada ku dari sisi Engkau keturunan/zurriyat yang baik". Q.S. 3 – Ali Imran: 38. WASPADA Online

Oleh H. Fachrurrozy Pulungan, SE

"Ya Tuhan ku, anugerahkanlah kepada ku dari sisi Engkau keturunan/zurriyat yang baik". Q.S. 3 – Ali Imran: 38.

Melahirkan anak adalah buah suatu pernikahan dan pernikahan adalah wujud dari keinginan antara seorang laki-laki dewasa dan perempuan untuk hidup dalam suatu wadah yang disebut rumah tangga, yang diiringi cita-cita luhur, yakni terbentuknya sebuah rumah tangga yang sakinah mawaddah dan rahmah, dimana setiap anggotanya merasakan ketenangan, saling cinta, dan saling sayang menyayangi. (Q.S.30 Ar rum: 21) Cita-cita luhur itu akan terwujud manakala setiap anggota rumah tangga tekun dan bergairah melaksanakan ajaran Islam. Dan dari rumah tangga yang demikian itulah insya Allah akan lahir keluarga muslim yang baik/zurriyatan thoiyyibah, sebagaimana do'a Nabi Zakaria as pada ayat di atas, yaitu komunitas yang tunduk patuh kepada ajaran Islam.

Usaha untuk membentuk suatu komunitas yang khoiru ummah, maka setiap anak yang baru lahir harus membentuk jati dirinya sebagai manusia mukmin pula. Dan membentuk setiap anak mukmin harus dilakukan sedini mungkin, bukan menunggunya setelah ia dewasa/baligh, akan tetapi semenjak dari bayi bahkan sebelum suami istri melakukan hubungan sebadan. Islam mengajarkan pembentukan itu untuk dilakukan, sebagaimana sabda Rasulullah SAW melalui Ibnu Abbas, "Jika salah seorang kamu akan mencampuri/bersebadan dengan istrinya, hendaklah ia berdo'a, "Bismillahi Allahumma jannibnasysyaithon wajannibisysyaithona fima rozaqtana".

Maka sesungguhnya bila ditentukan Allah lahir seorang anak dari keduanya kelak tidak akan dicelakakan syetan selamanya". H.R. Imam yang tujuh. Karena orang yang ikhlas beribadah, syetan tidak mampu menggodanya. Hal ini ditegaskan Allah dalam surah al-Hijir ayat 39-40. Iblis berkata, "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka (manusia) memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semua, kecuali hambahamba Engkau yang ikhlas.

Beberapa hal yang diajarkan Islam dalam proses melahirkan anak yang sholeh/sholehah adalah:

1. Melakukan pernikahan secara sah/legal, baik menurut hukum Islam maupun undangundang perkawinan yang sudah diatur pemerintah. 2. Melakukan pembenihan dengan terlebih dahulu berdo'a, seperti do'a di atas. 3. Memberi makanan/belanja pada istri yang hamil secara ma'ruf/halal, sebagaimana fiman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 233. 4. Setelah anak lahir maka dilakukan:

a. Mengazankan ditelinga si bayi, sebagaimana dilakukan Rasulullah SAW terhadap Hasan dan Husein cucu beliau. Dari Abi Rafi', katanya, "Aku pernah melihat Rasulullah SAW mengazani pada telinga Husein ketika dilahirkan oleh Fathimah seperti azan shalat". Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Daud dan Turmudzi, dan Turmudzi mensahihkannya dan keduanya berkata bahwa anak itu adalah Hasan. (Kitab Nailul Authar). Demikian juga keterangan dalam kitab Al Majmu' Syarah Al Muhadzdzab Imam Nawawi Juz 8.

b. Memotong tali ari/placenta (istihdad). Dari Abu Hurairah ra. Telah bersabda Rasulullah SAW, "Lima hal yang termasuk fitrah, potong ari-ari bayi yang baru lahir, berkhitan, cukur kumis, mencabut bulu ketiak dan memotong kuku". H.R. Bukhari-Muslim. Setelah tali ari tersebut dipotong, lalu menanamnya.

c. Memberi cicipan pada si bayi (tahnik) dengan kurma (atau madu) pada langit-langit si bayi, kemudian berdo'a untuk keberkahannya. Dari Abu Musa ra katanya: "Telah lahir bagiku seorang anak. Aku mendatangi Nabi SAW, maka beliau menamai anakku dengan Ibrahim, dan menyuapinya dengan kurma dan beliau berdo'a untuk keberkahannya: Sebaiknya perlakuan tahnik itu dimintakan kepada orang yang saleh, sehingga diharapkan berkahnya/tabarruk. (Kitab Subulus Salam).

d. Menyembelih kambing dan membagi-bagikan dagingnya (aqiqah). Diriwayatkan dari Samurah ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya, yang harus disembelih untuknya pada hari ketujuh dan diberinya nama anak tersebut pada hari itu, serta dicukur rambutnya". H.R. Imam yang lima dan dishahihkan Turmudzi (Kitab Nailul Authar).

Daging aqiqah, kulit, dan bagian-bagian tubuhnya yang lain, sama dengan hukum yang berlaku pada hewan qurban, baik dalam hal memakannya, dan membagikannya serta tidak boleh dijual. (Kitab Bidayatul Mujtahid). Jumhur ulama berpendapat bahwa, hukum aqiqah adalah 'sunat' hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan imam Ahmad, Abu Daud dan an Nas'i, sabda Rasulullah SAW "man ahabba mingkum an yansuka 'an waladihi fal yaf'al". Barang siapa diantara kamu yang suka menyembelih (aqiqah) untuk anaknya, maka lakukanlah. Sementara itu, jumlah hewan aqiqah, bagi anak laki-laki dua ekor (kambing) dan bagi anak perempuan satu ekor.

Namun apabila satu ekor bagi anak laki-laki juga cukup. Penyembelihan aqiqah itu sangat dianjurkan pada hari ketujuh dari kelahiran si anak. Boleh juga lewat dari hari ketujuh itu, hal ini berdasar hadis riwayat Turmudzi, sabda Rasulullah Saw, "al 'aqiqotu tazbahu lisab'i wali arba'a 'asyarata waliihda wa'isyrina". Aqiqah itu disembelih pada hari ketujuh, keempat belas dan hari kedua puluh satu. Sementara mengaqiqahkan diri sendiri setelah dewasa, ada ulama membenarkannya berdasarkan hadis riwayat Imam Baihaqi dari Anas ra, "Sesungguhnya Nabi SAW mengaqiqahi dirinya setelah masa ke Nabiannya".

e. Memberi nama yang baik (tasmiyah) dan mencukur rambut. Hadis ini sama dengan poin (d) di atas. Memberi nama yang baik, adalah baik kedengarannya, baik maknanya/artinya, dan tercermin pada nama itu harapan dan cita-cita luhur, Rasulullah Saw banyak mengganti nama-nama sahabat yang berbau Jahiliyah kepada nama-nama yang Islami, demikian juga Nabi SAW tidak suka dengan gelar yang bernada angkuh seperti 'syahinsyah'/raja diraja, dsb. Serta beliau tidak suka dengan panggilan-panggilan buruk. (Kitab Majmu' Syarah al Muhadzdzab juz 8). Mencukur rambut si anak dan mensedekahkan berat rambut yang dicukur dengan perak (bukan dengan emas) atau dapat menggantinya dengan uang seberat rambut yang dicukur. Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad dari Abi Rafi', sesungguhnya Hasan bin 'Ali ketika lahir, ibunya Fathimah bermaksud mengaqiqahi dua ekor kambing, lalu Rasulullah SAW bersabda "Janganlah engkau aqiqahi dia, tetapi cukurlah rambutnya lalu bersedekahlah dengan perak seberat rambutnya itu". (Hal ini karena Rasulullah Saw yang mengaqiqahi Hasan demikian juga Husein).

f. Menyusui si anak sampai ia berumur dua tahun. Firman Allah "Hendaklah para ibu menyusukan anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan". Q.S. al Baqarah A. 233. Dan kewajiban si ayah untuk memberi nafkah yang cukup (sandang dan pangan) kepada si ibu dan si anak secara ma'ruf/halal. Memberi makan istri dari hasil yang haram dan istri menyusui anak dengan hasil yang haram pula, akan berdampak kepada pertumbuhan si anak kelak.

g. Mengkhitankan si anak. Jumhur ulama berpendapat bahwa berkhitan adalah suatu sunnah bagi muslim laki-laki. Golongan Syafi'i berpendapat, wajib hukumnya mengkhitankan anak sebelum baligh.
Sementara itu menindik telinga anak perempuan (syahmatal uzun), pada anak perempuan yang masih bayi menurut faham Imam Abu Hanifah adalah pekerjaan orang-orang masa Jahiliyah, akan tetapi Nabi SAW tidak melarangnya.Islam mengajarkan pemeluknya dalam menghadapi anak yang baru lahir dan usaha/pendidikan dini terhadap anak sehingga diharapkan menjadi anak-anak yang sholeh-shalihah. Wallahu a'lam.

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment