Monday, 26 November 2007 07:53    PDF Print E-mail
Berguru Ke Jepang
Ekonomi & Bisnis
Seorang Romi Satria Wahono yang pernah 10 tahun tinggal di sana ada mengamati 10 hal penting atas sukses mereka. Minggu lalu, kita sudah membahas bagaimana negeri Jepang bisa maju karena karakter penduduknya yang suka bekerja keras, memiliki rasa malu, hidup dengan hemat dan memiliki loyalitas tinggi. WASPADA Online

Oleh Cahyo Pramono
Pengamat & Praktisi Manajemen


Seorang Romi Satria Wahono yang pernah 10 tahun tinggal di sana ada mengamati 10 hal penting atas sukses mereka. Minggu lalu, kita sudah membahas bagaimana negeri Jepang bisa maju karena karakter penduduknya yang suka bekerja keras, memiliki rasa malu, hidup dengan hemat dan memiliki loyalitas tinggi. Berikut lanjutan dari ulasan berdasar pengamatan seorang Romi Satria Wahono;

Inovasi
Jepang bukan bangsa penemu, tapi orang Jepang mempunyai kelebihan dalam meracik temuan orang dan kemudian memasarkannya dalam bentuk yang diminati oleh masyarakat. Cassete tape  tidak ditemukan oleh Sony, patennya dimiliki perusahaan Phillip Electronics. Tapi yang berhasil mengembangkan dan membundling model portable sebagai sebuah produk yang booming selama puluhan tahun adalah Akio Morita, founder dan CEO Sony pada masa itu Teknik perakitan kendaraan roda empat juga bukan diciptakan orang Jepang, patennya dimiliki orang Amerika Tapi ternyata Jepang dengan inovasinya bisa mengembangkan industri  perakitan  kendaraan yang lebih cepat dan murah. Mobil yang dihasilkan juga relatif  lebih murah, ringan, mudah dikendarai, mudah dirawat dan lebih hemat bahan bakar.

Perusahaan Matsushita Electric yang dulu  terkenal dengan sebutan "maneshita" (peniru) punya legenda sendiri dengan mesin pembuat  rotinya. Inovasi dan ide dari seorang insinyurnya yang bernama Ikuko Tanaka yang berinisiatif untuk meniru teknik pembuatan roti dari sheef di Osaka International Hotel, menghasilkan karya mesin pembuat roti (home bakery) bermerek Matsushita yang terkenal itu.

Pantang menyerah
Sejarah membuktikan Jepang termasuk bangsa yang tahan banting dan pantang menyerah. Puluhan tahun di bawah kekaisaran Tokugawa yang menutup semua akses ke luar negeri, Jepang sangat tertinggal dalam teknologi. Ketika restorasi Meiji (meiji ishin) datang, bangsa Jepang cepat beradaptasi dan menjadi fastlearner. Kemiskinan sumber daya alam juga tidak  membuat Jepang menyerah. Tidak hanya menjadi pengimpor minyak bumi, batubara, biji besi dan kayu, bahkan 85 persen sumber energi Jepang berasal dari negara lain termasuk Indonesia. Kabarnya kalau Indonesia menghentikan pasokan minyak bumi, maka 30 persen wilayah Jepang akan gelap gulita.

Rentetan bencana terjadi di 1945, dimulai dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, disusul dengan kalah perangnya Jepang dan ditambahi dengan adanya gempa bumi besar di Tokyo. Ternyata Jepang tidak habis. Dalam beberapa tahun berikutnya Jepang sudah berhasil  membangun industri otomotif dan bahkan juga  kereta cepat (shinkansen).

Mungkin cukup menakjubkan bagaimana Matsushita Konosuke yang usahanya hancur  dan hampir tersingkir dari bisnis peralatan elektronik di tahun 1945 masih mampu merangkak, mulai dari nol untuk membangun industri sehingga menjadi kerajaan bisnis di era kekinian. Yang juga cukup unik bahwa ilmu dan teori dimana orang harus belajar dari kegagalan ini mulai diformulasikan di Jepang dengan nama shippaigaku (ilmu kegagalan).
Budaya membaca

Jangan kaget kalau anda datang ke Jepang dan masuk ke densha (kereta listrik), sebagian  besar penumpangnya baik anak-anak maupun dewasa sedang membaca buku atau koran. Tidak peduli duduk atau berdiri, banyak yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca. Banyak penerbit yang mulai membuat manga (komik bergambar) untuk materi-materi  kurikulum sekolah baik SD, SMP maupun SMA. Pelajaran Sejarah, Biologi, Bahasa, dsb disajikan dengan menarik yang membuat minat  baca masyarakat semakin tinggi.

Budaya baca orang Jepang juga didukung oleh kecepatan dalam proses penerjemahan buku-buku asing (bahasa inggris, perancis, jerman, dsb). Konon kabarnya legenda penerjemahan buku-buku asing sudah dimulai pada tahun  1684, seiring dibangunnya institut penerjemahan dan terus berkembang sampai jaman modern. Biasanya terjemahan buku bahasa Jepang sudah tersedia dalam beberapa minggu sejak buku asingnya diterbitkan.

Kerja sama kelompok
Budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi kerja-kerja yang terlalu bersifat individualistik. Termasuk  klaim hasil pekerjaan, biasanya ditujukan untuk tim atau  kelompok tersebut. Fenomena ini tidak hanya di dunia kerja, kondisi kampus dengan lab penelitiannya juga seperti itu, mengerjakan tugas mata kuliah biasanya juga dalam bentuk kelompok. Kerja dalam kelompok mungkin salah satu kekuatan terbesar orang Jepang. Ada anekdot bahwa "1 orang profesor Jepang akan kalah dengan satu orang profesor Amerika, hanya 10 orang profesor Amerika tidak akan bisa mengalahkan 10 orang profesor Jepang yang berkelompok". Musyawarah mufakat atau sering disebut dengan "ringi" adalah ritual dalam kelompok. Keputusan strategis harus dibicarakan dalam "ringi".

Mandiri
Sejak usia dini  anak-anak dilatih untuk mandiri. Anak TK (Yochien) saja  di Jepang harus membawa tiga tas besar berisi pakaian ganti, bento (bungkusan makan siang), sepatu  ganti, buku-buku, handuk dan sebotol besar minuman yang menggantung di lehernya. Di  Yochien  setiap anak dilatih untuk membawa perlengkapan sendiri dan bertanggung jawab terhadap barang miliknya sendiri. Lepas SMA dan masuk bangku kuliah hampir sebagian besar tidak meminta biaya kepada orang tua. Mereka mengandalkan kerja part time untuk biaya sekolah dan kehidupan sehari-hari. Kalaupun kehabisan uang, mereka "meminjam" uang ke orang tua yang itu nanti mereka kembalikan di bulan berikutnya.

Jaga tradisi
Perkembangan teknologi dan ekonomi, tidak membuat bangsa Jepang kehilangan tradisi dan budayanya. Budaya perempuan yang sudah menikah untuk tidak bekerja masih ada dan hidup sampai saat ini. Budaya minta maaf masih menjadi reflek orang Jepang. Kalau suatu hari anda naik sepeda di Jepang dan menabrak pejalan kaki, maka jangan kaget kalau yang kita tabrak malah yang minta maaf duluan. Bagi orang Jepang Pertanian merupakan tradisi leluhur dan aset penting di Jepang. Persaingan keras karena masuknya beras Thailand dan Amerika yang murah, tidak menyurutkan langkah pemerintah Jepang untuk melindungi para petaninya.

Kabarnya tanah yang dijadikan lahan pertanian mendapatkan pengurangan pajak yang signifikan, termasuk beberapa insentif lain untuk orang-orang yang masih bertahan di dunia pertanian. Pertanian Jepang merupakan salah satu karya yang tertinggi di dunia. Bangsa Indonesia  sebenarnya punya hampir semua resep orang Jepang diatas, hanya mungkin kita belum mengerjakannya dengan baik. Di Jepang mahasiswa Indonesia termasuk yang unggul dan bahkan mengalahkan mahasiswa Jepang. 

Kita —Orang Indonesia—sudah terbukti beberapa kali memenangkan berbagai award berlevel internasional untuk perkara sain. Sayangnya kemampuan akademik yang hanya mengandalkan otak tidak cukup diiringi batin dan emosi yang cerdas sehingga menciptakan karakter maju yang kuat.

Kondisi tersebut diperparah dengan banyaknya stand menjual daging dan ikan serta rempah-rempah diizinkan kepala pasar setempat untuk dirubah menjadi kios penjual dagangan sejenis dengan lantai II sehingga menimbulkan kemarahan pedagang lainnya, paparnya. Kondisi ini terjadi disaat para pedagang menunggu janji PH Dirut PD Pasar yang akan menertibkan dan menata pedagang di Pasar Aksara dalam tempo sebulan.
(m40) (wns)

Comments

avatar jims
0
 
 
COPAS
B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by Joomla Professional Solutions
Submit Comment
Cancel
B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment