Friday, 13 July 2007 03:27    PDF Print E-mail
Ilmu-ilmu Keislaman Di Tengah Era Globalisasi
Mimbar Jumat
Di zaman era globalisasi ini pertukaran budaya, seni dan kemajuan ilmu pengetahuan semakin di galakkan. Sudah barang tentu hal tersebut ada yang membawa dampak positip dan ada pula yang membawa dampak negatip terhadap masyarakat suatu bangsa. Melalui siaran televisi, internet, gaya hidup suatu bangsa diberi kebebasan untuk mempengaruhi bangsa-bangsa lain.

WASPADA Online.

Oleh Zulhamdi
Di zaman era globalisasi ini pertukaran budaya, seni dan kemajuan ilmu pengetahuan semakin di galakkan. Sudah barang tentu hal tersebut ada yang membawa dampak positip dan ada pula yang membawa dampak negatip terhadap masyarakat suatu bangsa. Melalui siaran televisi, internet, gaya hidup suatu bangsa diberi kebebasan untuk mempengaruhi bangsa-bangsa lain.

Oleh sebab itu bangsa yang dipengarruhi itu dituntut untuk melakukan filter terhadap pengaruh-pengaruh yang dating melalui media tersebut. Globalisasi merupakan konsekuensi dari adanya kemudahan tekhnologis informasi dan komunikasi masa yang dampaknya meluas pada bidang ekonomi, politik, sosial dan budaya. Oleh karena itu kehadirannya tidak dapat dihindari dari dalam kehidupan ini. Namun sebaliknya, kehadirannya membutuhkan kecerdasan dan kerja keras, bukan dengan sikap pasrah, malas dan tidak kreatif. Memasuki era globalisasi dengan segala implikasinya tentu saja membutuhkan kesiapan dan keunggulan untuk bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Bangsa yang tidak memiliki kesiapan dan keunggulan untuk bersaing dengan bangsa-bangsa lain akan mengalami ketertinggalan.

Di era zaman serba modren ini, dunia Barat dipandang sebagai kiblat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kebudayaan nya juga dipandang lebih relevan dan pantas untuk diterapkan suatu bangsa. Sementara ituIslam yang diturunkan dari belahan Timur dipandang sudah ketinggalan zaman dan tidak relevan lagi.
Pemikiran seperti ini adalah keliru. Pada dasarnya Islam telah memberikan kontribusi yang amat besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang sedang kita rasakan sekarang.  Dan Islam juga telah memberikan kontribusi bagi kemajuan Barat, yakni mereka mempelajari karya yang dihasilkan oleh ilmuan-ilmuan Islam seperti; Ibnu Rusyd, Al Farabi, Ibn Sina, dan banyak lagi yang lainnya.

Posisi Akal dan Nakal Dalam Melahirkan Ilmu-ilmu Ke Islaman
Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang amat sempurna. Manusia telah dianugerahi-Nya akal, dan dengan akal tersebut ia dapat mengetahui yang baik dan yang buruk, mengkaji dan memecahkan persoalan yang ada di sekelilingnya. Dengan adanya akal tersebut berarti akal merupakan cikal bakal dalam melahirakan dan mengembangkan ilu pengetahuan. Tanpa adanya akal mustahil ilmu pengetahuan ada, mustahil pula tekhnologi akan muncul di zaman serba modern ini. Akal yang dijalin dengan nakal (Al-Quran dan As sunnah) akan melahirkan dimensi ilmu-ilmu keislaman. Sebaliknya aqal tanpa kedua sumber pokok agama Islam tersebut akan melahirkan ilmu-ilmu sekuler. Di dalam islam akal dan nakal berjalan seiring. Al-Quran diturunkan Allah SWT dikarenakan manusia itu telah diberikan-Nya akal untuk memahaminya. Dan hikmah diturunkannya Al-Quran bagi akal itu sendiri adalah sebagai petunjuk agar aqal yang ada pada manusia itu tidak tersesat dalam mengkaji sesuatu.
Berkaitan dengan hal ini Imam Al Ghazali mengemukakan, bahwa tingkatan-tingkatan aqal itu ada empat, yakni;

Pertama; akal berarti kecerdasan, ini dimiliki oleh setiap manusia yang membedakannya dari hewan dan makhluk lainnya, yaitu arti yang umum dipakai orang. Akal inilah yang dibawa manusia sejak dari lahirnya sebagai modal pokok untuk hidup.
Kedua; akal berarti pengertian, yang tumbuh pada manusia setelah akalnya yang pertama mulai berjalan, dan berkembang semenjak dari kecilnya, terus meningkat naik setelah berusia muda, menjadi dewasa. Akal inilah yang telah mengerti akan benar dan salah, baik dan buruk.
Ketiga; akal berarti pengetahuan, yang timbul karena pengajaran dan pengalaman setelah menyelidiki dan mempelajari segala sesuatu dengan seksama. Akal inilah yang telah melahirkan ilmu pengetahuan yang begitu banyaknya, begitu luasnya dan begitu tingginya sebagaimana yang kita saksikan saat sekarang ini.
Keempat; akal berarti ma’rifat, yang merupakan puncak dari segala tingkatan akal yaitu keinsafan rohani manusia yang menyadari akibat-akibat sesuatu dan yang membawanya kepada keluhuran budi dan akhlak seseorang serta memimpinnya kepada ketuhanan yang setinggi-tingginya. Dari pendapat Al Ghazali tersebut dapatlah dipahami bahwasanuya akal itu sudah tertanam pada diri manusia sejak ia lahir kedunia ini. Dan ketika ia telah dewasa manusia di tuntut untuk mengembangkannya dengan cara memikirkan, mengadakan penelitian terhadap segala ciptaan-Nya.

Islam Di Tengah Globalisasi
Islam adalah tatanan yang melindugi aqidah dan menegakkan syari’at. Islam juga  adalah agama rahmatan lil alamin yang tidak ada unsur paksaan untuk memeluknya. Ia menyuruh umat manusia pada umumnya dan umat Islam pada khususnya untuk menggali ilmu pengetahuan. Karena menggali ilmu pengetahuan adalah kewajiban syari’ah dan kebutuhan umat. Kini islam dihadapkan dengan gelombang era globalisasi, yaitu zaman yang tidak hanya di miliki, dirasakan oleh sekelompok orang, masyarakat, suku bangsa atau negarab tertentu. Tetapi dinikmati dan dirasakan oleh setiap orang, kelompok masyarakat lintas negara. Kehadirannya memperpendek jarak komunikasi dan memperluas pada mobilisasi orang dan barang.

Di lain sisi tidak sedikit umat islam memandang, bahwa era globalisasi merupakan zaman yang menyeret manusia untuk jauh dari konsepsi masyarakat Islam. Kemudian banyak berkembang ideologi-ideologi sekuler yang bertentangan dengan konsep ajaran Islam itu sendiri. Dalam menyikapi era globalisasi ini hendaknya umat Islam terlebih dahulu memahami peta masalahnya. Hal ini dikarenakan globalisasi merupakan tantangan dan tantangan itu memerlukan jawaban. Untuk menjawab tantangan tersebut maka diperlukanlah peran dari ilmu-ilmu ke islaman yang bertujuan agar kehadiran globalisasi dapat di manfaatkan secara positip demi maksimalisasi keuntungan dan mengurangi eksis negativnya demi minimalisasi kerugian.

Ilmu-ilmu ke islaman di perlukan dalam menjawab tantangan era globalisasi dikarenakan  ilmu-ilmu tersebut berdasarkan atas Al-Quran dan As sunnah. Kedua sumber pokok dalam Islam tersebut mengatur tata hubungan antara manusia dengan Tuhan yang disebut juga dengan jiwa agama dan mengatur hubungan antara manusia dengan manusia serta mengatur hubungan manusia dengan alam sekitarnya. Tata hubungan manusia dengan Tuhan itu bertahan tidak akan berubah-ubah sebagaimana di teladankan oleh baginda Rasul. Sementara tata hubungan manusia dengan manusia semenjak Islam diturunkan selalu mengalami perubahan. Tata hubungan ini adalah jiwa kebudayaan. Prinsip-prinsip kebudayaan itu bertahan tetap, karena ditetapkan oleh Islam itu sendiri, tetapi pelaksanaan nya selalu berubah.

Dengan demikian umat Islam yang sedang mengarungi globalisasi tidak akan kaku dan tidak akan panik dalam melihat kemajuan-kemajuan Barat terutama dari segi keilmuan dan tekhnologinya. Kemajuan tersebut akan dimanfaatkan nya sedemikian rupa tanpa mengabaikan nilai-nilai ke Islaman yang gunanya untuk membangkitkan Islam itu kembali dengan gaya baru. Karena tidak mungkin umat islam akan kembali kezaman kejayaan nya dalam peradaban dan keilmuannya pada masa lampau. Tetapi yang mungkin adalah mengambil nilai-nilai kejayaan tersebut dalam arti positip yang telah dikembangkan oleh ilmuan-ilmuan barat. Wallahu A’lam.


(wns)

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment