Saturday, 22 September 2007 04:02    PDF Print E-mail
Keutamaan Bulan Ramadhan
Mimbar Jumat
Dalam Islam, Ramadhan adalah penghulu dari segala bulan. Ramadhan adalah bulan yang mulia, penuh berkah dan dapat membersihkan manusia dari dosa. Pada bulan Ramadhan, Al-Qur'an diturunkan buat pertama kalinya. Pada bulan Ramadhan pahala amal sunat disamakan dengan pahala amal wajib di luarnya. Padanya juga diwajib-kan puasa. Disunatkan shalat tarawih dan diwajibkan mengeluarkan zakat fitrah. Di dalamnya juga terjadi lailatuqadar yang pahala beramal yang jatuh pada malam itu lebih baik daripada pahala amal seribu bulan di luarnya. Mengenai lailatulqadar disebutkan hadis Rasul Saw. WASPADA online

Oleh DR. H. Ramli Abdul Wahid, MA


Dalam Islam, Ramadhan adalah penghulu dari segala bulan. Ramadhan adalah bulan yang mulia, penuh berkah dan dapat membersihkan manusia dari dosa. Pada bulan Ramadhan, Al-Qur'an diturunkan buat pertama kalinya. Pada bulan Ramadhan pahala amal sunat disamakan dengan pahala amal wajib di luarnya. Padanya juga diwajib-kan puasa. Disunatkan shalat tarawih dan diwajibkan mengeluarkan zakat fitrah. Di dalamnya juga terjadi lailatuqadar yang pahala beramal yang jatuh pada malam itu lebih baik daripada pahala amal seribu bulan di luarnya. Mengenai lailatulqadar disebutkan hadis Rasul Saw. dalam Shahih al-Bukhari disebutkan yang artinya: "Barangsiapa bangun pada malam lailatulqadar dengan iman dan mengharapkan ridha Allah diampunkan dosanya yang telah lalu, dan barang siapa melaksanakan puasa pada bulan Ramadhan dengan iman dan mengharapkan ridha Allah diampunkan dosanya yang telah lalu."

Dalam kitab yang sama di halaman 227, al-Bukhari meriwayatkan yang artinya: "Apabila masuk bulan Ramadhan, pintu-pintu langit dibuka, pintu-pintu neraka ditutup , dan setan-setan dibelenggu." Ibnu Hajar mengemukakan di dalam kitabnya, Fath al-Bari, jilid IV, hlm. 143-144, penjelasan para ulama tentang maksud hadis ini. Di antaranya ia mengemukakan pendapat 'Iyadh bahwa maksud hadis tersebut bisa dalam pengertian tekstual dan bisa juga dalam arti isyarat akan banyaknya pahala serta keampunan, sedang godaan setan-setan berkurang sehingga mereka seperti dibelenggu.  Kemungkinan lain, terbukanya pintu-pintu surga berarti Allah SWT membukakan bagi hamba-hamba-Nya ketaatan yang menjadi penyebab masuk surga. Tertutupnya pintu-pintu neraka berarti terpalingnya keinginan berbuat maksiat yang membawa pelakunya ke dalam neraka. Terbelenggunya setan-setan berarti ketidak mampuan mereka untuk memperdaya dan membangkitkan hawa nafsu orang yang sedang berpuasa.

Sementara itu, al-Qurthubi cenderung kepada pengertian tekstualnya. Kemudian, ia mencoba menjawab pertanyaan yang mungkin timbul tentang bagaimana bisa terjadi kejahatan kalau memang setan-setan sudah dibelenggu dengan penjelasan bahwa kejahatan luput dari orang-orang yang melakukan puasa yang syarat-syarat dan tatatertibnya benar-benar dipelihara. Ini juga bisa berarti bahwa setan yang dibenggu itu hanya sebagian saja atau berarti kejahatan berkurang dalam bulan Ramadhan. Berbagai penafsiran ini menunjukkan keistimewaan bulan Ramadhan dan bahwa orang yang melakukan puasa seharusnya terhindar dari kemaksiatan sehingga dengan latihan pensucian mental selama sebulan penuh itu dirinya menjadi bersih untuk masa setahun-setahun berikutnya.

Puasa yang menjadi salah satu rukun Islam itu hanya terdapat pada bulan Ramadhan. Puasa yang sahih akan menghapuskan dosa yang telah lalu, mendapat pahala langsung dari Allah dan membentuk perilaku orang yang takwa. Takwa adalah derajat yang paling tinggi di sisi Allah. Rasul saw. bersabda yang artinya: "Dan barang siapa berpuasa pada bulan Ramadhan karena iman dan karena mengharapkan ridha dari Allah Swt. diampunkan dosanya yang lalu." Hadis ini termuat dalam kitab Shahih al-Bukhari,  juz 2 halaman 228 dengan sanad yang lengkap sehingga dinilai shahih. Keterangan hadis ini dapat dibaca dalam kitab Fathul Bari jilid 4 halaman 145. Makna zahir dari hadis ini adalah bahwa dosa yang dihapuskan itu semua jenisnya, yakni dosa besar dan dosa kecil. Sementara mayoritas ulama memangdangnya khusus bagi dosa-dosa kecil saja.

Pahala dan rahasia beribadah pada Lailatulqadar sangat istimewa. Dalam bulan Ramadhan terdapat suatu malam yang disebut Lailatulqadar. Pahala beramal padanya sama dengan pahala beramal seribu bulan di luar Ramadhan sebagaimana tersebut dalam surat al-Qadr. Lailatulqadar bermula terjadi pada awal turunnya ayat Al-Qur'an. Namun, menurut mayoritas ulama, lailatulqadar terus turun setiap datangnya bulan Ramadhan. Namun, sebagian ulama memahami lailatulqadar hanya turun sekali pada waktu ayat Al-Qur'an buat pertama kali. Pendapat terakhir ini tidak sejalan dengan bahasa Al-Qur'an. Dalam surat Al-Qadr terdapat ayat yang berbunyi, tanazzalul malaikatu warruh fiha (turun para malaikat padanya). Tanazzal adalah fi'l mudhari', kata kerja untuk masa akan datang dan mengandung makna berterusan. Suatu hal penting bahwa pada malam ini ditentukan nasib manusia. Seolah-olah pada malam itu diperbaharui rencana Allah terhadap manusia untuk masa satu tahun ke depan. Karena itu, Rasul Saw. selalu mengintai lailatulqadar pada setiap bulan Ramadhan, tidak hanya pada bulan Ramadhan awal turunnya Al-Qur'an.

Bahkan, pada Ramadhan turunnya Al-Qur'an, Rasulullah saw. tidak mengetahuinya sebagai lailatulqadar sehingga peristiwa lailatulqadar pertama itu membuatnya cemas dan menggigil. Sementara lailatulqadar yang RasulSaw. berjaga-jaga padanya terutama pada sepuluh malam terakhir dan bahkan ia selalu mengajak keluarga agar beribadah pada malam itu adalah pada Ramadhan-Ramadhan sesudah Ramadhan turunnya awal surat al-A'laq. Hadis-hadis tentang lailatulqadar adalah shahih dan diriwayatkan melalui berbagai jalur. Di antaranya adalah hadis yang termuat dalam Shahih al-Bukhari dengan sanad lengkap. Karena itu, hadis ini shahih yang artinya: "Intailah lailah al-Qadr pada sepuluh malam dari bulan Ramadhan". Ini menunjukkan keutamaan bulan Ramadhan. Pendapat orang yang mengatakan lailatulqadar terjadi hanya sekali saja, sekarang tidak ada lagi tidak sejalan dengan Al-Qur'an, praktik dan penjelasan Rasul Saw. Pahala umrah di bulan Ramadhan sangat besar. Rasul saw. bersabda yang artinya: "Satu kali umrah pada bulan Ramadhan sama dengan satu kali haji."

Hadis ini termuat dalam kitab Sunan at-Tirmidji, jilid 3 halaman 276 dengan sanad yang lengkap dan dinilai oleh at-Tirmidzi hasan garib. Berarti, hadis dapat menjadi hujah. Hukum ibadah umrah sunat kapan saja.  Sejalan dengan keutamaan Ramadhan, wajar bila pelaksanaan umrah padanya memperoleh keutamaan yang lebih daripada bulan lain. Karena itu, pada bulan Ramadhan Masjidilharam menjadi ramai dan padat seperti pada musim haji. Orang Indonesia pun belakangan ini semakin banyak melaksanakan umrah dan tinggal di sanasepanjang bulan Ramadhan. Mereka pun merasakan nikmat beribadah di sana selama bulan Ramadhan jauh lebih nikmat daripada di tanah air. Di Indonesia dahulu orang sangat membesarkan bulan Ramadhan dan pelaksanaan puasa. Begitu hebohnya masa menyongsong bulan Ramadhan sehingga bulan Rajab dikenal dengan bulan serabi karena padanya orang banyak mengadakan kenduri serabi dan bulan Syakban dikenal dengan bulan nasi karena padanya orang banyak kenduri nasi. Kegiatan ini adalah kegiatan memuliakan kedatangan bulan Ramadhan. Setidaknya, tradisi ini semarak berlaku di kalangan Melayu pesisir. Tradisi ini tidak ada hadisnya.

Tapi, menurut hemat penulis, tradisi ini bagus. Sayangnya, tradisi ini berlangsung semarak sampai tahun 1960-an. Sekarang sudah hampir hilang. Namun, tampaknya pemerintah Tanjungbalai Asahan kembali menghidupkannya. Sekitar dalam tiga tahun belakangan ini, kenduri serabi dan kenduri nasi dilaksanakan dalam suatu perhelatan khusus di Mesjid Raya Tanjungbalai Asahan yang dimotori oleh Wakil Walikota, Drs. H.M. Thamrin Munthe, M.Hum. Acara ini dilaksanakan dengan meriah, dihadiri ribuan massa dan bahkan pernah mengundang para qori dari tingkat Provinsi dan tingkat nasional. Namun, kenduri ini tidak diikuti pelaksanaannya oleh warga seperti di masa lalu. Dalam memeriahkan malam-malam Ramadhan, di masjid dan musalla beberapa grup melaksanakan tadarus Al-Qur'an. Namun sekarang sudah jarang. Dahulu, sanak saudara dan tetangga saling mengirim pembuka, sekarang sudah jarang. Dahulu orang yang tidak berpuasa segan menunjukkan dirinya tidak berpuasa, tapi sekarang orang yang tidak berpuasa tanpa rasa malu makan dan merokok sesuka hatinya. Ini menunjukkan bahwa pengaruh suasana Ramadhan sekarang tidak lagi besar seperti dulu. Karena itu, usaha-usaha untuk mengembalikan pengaruh suasana Ramadhan perlu dipikirkan bersama oleh kaum muslimin.

Mohon Infak Sajadah Dan Quran
Dalam rangka persiapan kegiatan ibadah Ramadhan, Badan Kemakmuran Masjid Ulul Albab, memohon kepada para dermawan kiranya berkenan memberikan infak untuk penggantian sajadah panjang, penambahan Quran Masjid ulul Albab, baik dalam bentuk barang dengan menyesuaikan warnanya dengan yang sudah ada, maupun dalam bentuk uang tunai dan kami akan membelikannya. Demikian, mudah-mudahan infak para dermawan kami menambah berkah kepada harta yang tinggal dan mendapat pahala yang berlipat ganda dari sisi Allah Swt. 

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment