Monday, 31 March 2008 03:36    PDF Print E-mail
Mengenal Masalah Beser Buang Air Besar Pada Lansia
Ragam
Beser buang air besar (inkontinensia fekalis atau inkontinensia alvi) merupakan masalah kesehatan yang sering didapati pada lanjut usia (lansia), yaitu keluarnya kotoran dari dubur (feses) tanpa disadari, dalam jumlah dan kekerapan yang dapat menimbulkan masalah sosial. WASPADA Online

Beser buang air besar (inkontinensia fekalis atau inkontinensia alvi) merupakan masalah kesehatan yang sering didapati pada lanjut usia (lansia), yaitu keluarnya kotoran dari dubur (feses) tanpa disadari, dalam jumlah dan kekerapan yang dapat menimbulkan masalah sosial.

Masalah ini sering dirasakan sebagai suatu keadaan yang tidak menyenangkan atau tidak nyaman, yang sering dihubungkan dengan usia yang semakin tua.

Keluhan beser buang air besar sering menjadi penyebab dari para lansia dirawat untuk jangka waktu lama di rumah sakit. Dari para lansia yang tinggal di panti-panti jompo ternyata kurang lebih 65 % mengalami beser buang air besar, dan biasanya keluhan ini terjadi bersamaan dengan beser buang air kecil (inkontinensia urine).

Beser buang air besar dapat ditemukan berupa seringnya keluar kotoran setengah cair dari dubur yang menetap untuk beberapa lama, dan dapat pula berupa keluarnya kotoran padat sekali atau beberapa kali sehari ditempat tidur ataupun pada pakaian.

Seperti halnya dengan buang air kecil maka buang air besar merupakan proses yang melibatkan otot-otot, saraf, koordinasi refleks-refleks tubuh, kesadaran dan kemampuan fisik untuk pergi ke toilet untuk buang air besar, sehingga gangguan dari hal-hal tersebut di atas dapat menyebabkan beser buang air besar.

Terjadinya Beser
Dalam keadaan normal, seseorang tidak mengalami beser buang air besar karena adanya otot-otot yang mencegah agar feses tidak mudah keluar dari dubur, yaitu otot yang terdapat pada bagian luar dubur (sphincter eksternus), otot pada bahagian dalam dubur (sphincter internus) dan otot-otot pada dasar panggul.

Selain dari pada itu, yang menyebabkan feses tidak mudah keluar dari dubur adalah bentuk dari saluran yang bermuara ke dubur tersebut yaitu pada separuh bagian atas seperti celah sedangkan pada separuh bagian bawah berbentuk seperti huruf Y. Segala kelainan yang menyebabkan terganggunya mekanisme yang mencegah agar feses tadi tidak mudah keluar dari dubur akan menyebabkan beser buang air besar.

Penyebab yang paling sering dari beser buang air besar pada lansia adalah sulit buang air besar (konstipasi). Selain daripada itu, dapat pula disebabkan pemakaian obat pencahar dan obat yang mengganggua kerja saraf yang mengontrol buang air besar, serta beberapa penyakit termasuk penyakit strok dan kencing manis.

Pada beser buang air besar yang disebabkan konstipasi, poros usus (rektum) terus menerus teregang dan hilangnya kekuatan dari otot-otot pada dubur untuk mencegah keluarnya feses, sehingga terjadi beser buang air besar dengan keluarnya kotoran setengah padat seringkali setiap hari, yang sering disebut sebagai overflow incontinence.

Beser buang air besar dapat disebabkan kerusakan saraf yang mensarafi otot-otot dasar panggul dan dubur (anorectal incontinence). Beser buang air besar dapat disebabkan penyakit-penyakit pada otak, misalnya demensia/kepikunan berat atau strok menyebabkan penderita tidak mampu menahan buang air besar sehingga terjadi beser buang air besar berupa keluarnya kotoran  padat sekali atau dua kali sehari yang biasanya setelah makan atau meminum minuman panas, yang dikenal sebagai neurogenic incontinence.

Beser buang air besar pada lansia paling sering disebabkan pemakaian obat-obat pencahar, keracunan makanan, penyakit-penyakit pada saluran cerna, penyakit kencing manis, penyakit kelenjar gondok dan lain-lain (inkontinensia simtomatik).

Keracunan makanan sering terjadi pada lansia, khususnya mereka yang tinggal sendiri, tidak memasak makanan atau minuman sendiri, dan membeli makanan atau minuman dari luar. Juga, pada mereka yang memakan makanan yang sudah lama serta disimpan secara tidak memenuhi syarat-syarat kesehatan atau makanan yang tidak dipanaskan dengan baik sebelum makan.

Selain itu, pada lansia sering pula terjadi kecemasan, baik sewaktu pulang dari rumah sakit maupun sewaktu masuk ke panti jompo untuk dirawat, yang menyebabkan mencret dan beser buang air besar.

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan penderita beser buang air besar ini tergantung pada jenis beser yang telah diuraikan diatas.

* Pada overflow incontinence yang disebabkan konstipasi, perlu diberikan obat pencahar, dan perlu pula dibantu dengan pemberian makanan yang mengandung banyak serat (buah-buahan dan sayur-sayuran, tahu, tempe dan lain-lain), minum yang cukup serta perlu gerakan tubuh yang cukup.
* Pada anorectal incontinence perlu dilatih kekuatan otot-otot pada dasar panggul.
* Pada neurogenic incontinence pengobatannya sulit. Hal yang paling penting adalah melatih penderita untuk memasuki kamar kecil (WC) setiap kali setelah makan dan berjalan di pagi hari ataupun setelah minum air panas. Latihan ini saja dapat memadai pada sebahagian penderita. Jika perlu, dapat diberikan obat pencahar setelah makan dan 20 menit kemudian penderita harus telah berada di kamar kecil. Jika tidak menolong, dapat dilakukan dengan memompa kotoran tadi dengan alat dan melatih pola buang air besar yang teratur.
* Pada inkontinensia simtomatik, perlu diketahui terlebih dahulu penyakit yang menyebabkannya dan memberikan pengobatan.
* dr.Pirma Siburian Sp PD
(Pemerhati masalah kesehatan lansia, dokter pada klinik lansia Klinik Spesialis Bunda dan RS Permata Bunda Medan)
(ags)

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment