Friday, 14 March 2008 07:00    PDF Print E-mail
Cara CIMB Menguasai Perbankan RI
Ekonomi & Bisnis
NAMA CIMB harusnya sudah tak asing lagi di Indonesia. Jika dari Singapura ada Temasek yang menguasai BII dan Danamon maka CIMB merupakan grup bisnis dari Malaysia yang menguasai Niaga dan Lippo. Bukan hanya ini, gurita bisnis mereka di Indonesia juga terus berkembang. WASPADA Online

NAMA CIMB harusnya sudah tak asing lagi di Indonesia. Jika dari Singapura ada Temasek yang menguasai BII dan Danamon maka CIMB merupakan grup bisnis dari Malaysia yang menguasai Niaga dan Lippo. Bukan hanya ini, gurita bisnis mereka di Indonesia juga terus berkembang.

Beberapa investasi besar di dalam negeri adalah kepemilikan di operator selular XL, Bank Bumiputera, PT Bank Jabar, Mobile 8 Telecom, dll. Mereka terus meningkatkan bisnisnya di Indonesia. Beberapa waktu lalu Waspada sempat berjumpa dengan Kepala Eksekutif CIMB Grup Nazir Razak di Kuala Lumpur. Bagi penduduk Malaysia, nama Razak tidak asing. Maklum, tokoh besar memiliki nama Razak.

Antara lain Tun Abdul Razak yang pernah menjabat sebagai Perdana Menteri Malaysia kedua dan Dato Sri Najib Tun Razak yang menjabat Wakil Perdana Menteri Malaysia.

Jika menghubunghubungkan Nazir Razak yang saat ini menjabat sebagai Kepala Eksekutif Grup CIMB Group dengan kedua tokoh itu, sudah pasti ada. Soalnya, mereka masih satu kerabat.

Tun Abdul Razak tak lain adalah ayah Nazir. Sedangkan Sri Najib Tun Razak merupakan kakak kandung Nazir. Meskipun begitu, Nazir malas jika ditanya masalah poltik. Bahkan, dia mengaku tidak tertarik terjun ke politik mengikuti ayah ataupun kakak. “Dunia saya bukanlah politik, tapi perbankan,” ujar pria berusia 41 tahun ini.

Dalam menjalankan kepemimpinannya, Nazir mengatakan ada tiga hal yang selalu diterapkan olehnya bagi seluruh karyawan CIMB Group. “Integritas, kecepatan, dan ketepatan,” katanya. Ketiganya sangat dibutuhkan jika seorang pemimpin membesarkan bisnis perbankan. “Bisnis kami berkaitan dengan uang. Jika tidak cepat, maka uang itu akan lari,” ujarnya.

Bagi CIM perbankan di Indonesia sangat menggiurkan sekaligus menjanjikan. Potensi dana masyarakat yang besar terkombinasi dengan kebutuhan permodalan. Apalagi, fakta menunjukkan kondisi ekonomi Indonesia sedang tumbuh dan berkembang.Alasan inilah yang menyebabkan banyak investor asing datang ke Indonesia dan berebut menjadi pemilik di bank lokal.

Terikait dengan kebijakan BI mengenai single presence policy (Kepemilikan tunggal di perbankan) CIMB sudah menyiapkan berbagai skenario. “Mungkin kami akan melakukan merger, akuisisi, atau skenario lain. Sebab, pemegang saham kami, yaitu Khazanah Berhad, di sisi lain adalah pemegang saham Bank Lippo. Kami akan menepati janji untuk memberitahu secepatnya sebelum deadline yang ditetapkan berakhir.”

Lepas dari soal itu, bisnis perbankan di Indonesia adalah bisnis yang sangat berkembang. Tentunya sangat berbeda dengan kondisi beberapa tahun yang lalu. Dia masih ingat ketika kami melakukan investasi di Bank Niaga 2002. Waktu itu mereka menanamkan modal hingga 125 juta dolar AS.

Bisnis perbankan itu sangat kompetitif. Akibatnya, karena keputusan ini saham CIMB sempat jatuh di bursa Malaysia. Tapi, keputusan mengambil alih niaga tidak salah. Buktinya, saat ini Bank Niaga mengalami pertumbuhan yang sangat pesat dan bisa dikatakan sebagai salah satu bank terbesar di Indonesia.

Bisnis perbankan di Indonesia memiliki pertumbuhan yang sangat baik jika dibandingkan dengan Malaysia. Semua itu bisa dilihat dari non performing loan (NPL) Bank Niaga yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan NPL CIMB.

Saat ini NPL Bank Niaga di sektor perumahan hanya 3 persen, sedangkan NPL CIMB 8 persen. Nasabah Indonesia jauh lebih baik daripada nasabah Malaysia. Tapi, NPL CIMB tidak semuanya disebabkan oleh kredit bermasalah, melainkan karena aksi korporasi membeli Commerce Bank dua tahun lalu.(m13)

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment