Friday, 29 February 2008 07:34    PDF Print E-mail
Keimanan Dan Makhluk Gaib
Mimbar Jumat
Aqidah, adalah kumpulan dari hukum-hukum kebenaran yang jelas yang dapat diterima oleh akal, pendengaran, dan perasaan yang diyakini oleh manusia serta dipujinya. Ia merupakan nyawa bagi suatu agama dan pelita rohani yang menentukan jalan yang akan ditempuh. WASPADA Online

Oleh H. Fachrurrozy Pulungan, SE

Aqidah, adalah kumpulan dari hukum-hukum kebenaran yang jelas yang dapat diterima oleh akal, pendengaran, dan perasaan yang diyakini oleh manusia serta dipujinya. Ia merupakan nyawa bagi suatu agama dan pelita rohani yang menentukan jalan yang akan ditempuh.

Apabila aqidah tidak lagi memberikan cahaya bagi hidup seseorang, maka manusia akan tergelincir, bahkan dapat terjerumus kedalam jurang kepercayaan/keyakinan yang lain, yang akhirnya membelokkan pandangan hidup keberagamaannya. Aqidah juga didefinisikan sebagai ‘keimanan’ (pembenaran) yang tidak mengandung kontradiktif, yaitu tidak ada sesuatu selain pembenaran (iman) dalam hati setiap individu  tidak ada asumsi selain beriman kepada Allah, yang tidak ada keraguan, dugaan, waham dan sebagainya.

Makhluk Gaib

Surah kedua ayat kedua dan ketiga dari al Qur’an di atas adalah uraian tentang fungsi al Qur’an sebagai petunjuk/hudaan bagi orang-orang yang bertaqwa. Sedang sifat pertama orang yang bertaqwa pada ayat tersebut adalah membenarkan/iman kepada yang gaib/yu’minuna bil ghaib. Dalam bahasa Indonesia, kata gaib diartikan sebagai ‘sesuatu yang tersembunyi, tidak kelihatan, atau tidak diketahui sebab-sebabnya’. Dalam kamus bahasa Arab, kata gaib adalah antonim dari kata syahadat. Kata syahadat dalam kamus al Munjid berarti ‘hadir atau kesaksian’, baik dengan mata kepala maupun dengan mata hati. Dengan pengertian ini, maka segala sesuatu yang tidak hadir, adalah gaib.

Demikian pula sesuatu yang tidak disaksikan adalah gaib, bahkan sesuatu yang tidak terjangkau oleh panca indra juga merupakan gaib, baik disebabkan oleh kurangnya kemampuan indra-indra tersebut maupun oleh sebab lainnya. Banyak hal yang gaib bagi manusia, serta beragam pula tingkat kegaibannya. Agama melalui wahyu ilahi mengungkap sekelumit yang gaib yang harus dipercaya itu, yang di dalamnya termasuk tentang kedudukan ‘jin’. Kepercayaan terhadap makhluk gaib atau jin di Indonesia, sudah ada sebelum agam Islam datang . Hal ini dapat dilihat pada upacara-upacara tradisional terhadap hal-hal tertentu. Munculnya kepercayaan tentang makhluk gaib khususnya jin dengan mudah mendapat tempat, kemudian pandangan dan pengertian terhadap bagsa jin itu terdapat berbagai corak pemahaman sehingga muncul berbagai sebutan/nama seperti; tuyul, dedemit, memedi, genderuwo, kuntilanak, leak, peri, mambang dan sejumlah nama-nama lain sesuai kepercayaan masyarakat itu.

Dalam literatur Islam juga ditemukan bahwa kepercayaan masyarakat jahiliyah tentang makhluk yang bernama jin, dan mereka meyakini bahwa jin sebagai makhluk yang memiliki kekuatan tersembunyi. Menurut kepercayaan masyarakat jahiliyah maupun masyarakat tradisioanal Indonesia, jin adalah makhluk yang mampu mengakibatkan gangguan terhadap kehidupan manusia, disamping dapat juga memberi manfaat. Kepercayaan masyarakat jahiliyah dan masyarakat tradisional Indonesia tentang kemampuan jin membuat gangguan mengantarkan masyarakat itu menyembelih binatang sebagai sesaji kepada jin ketika mereka menghuni sebuah rumah baru, atau ketika masyarakat membangun jembatan baru, dan lain-lain sebagainya.

Pandangan Islam
Dalam Islam kedudukan jin sebagai makhluk sama dengan manusia, yaitu sebagai hamba yang mengabdikan dirinya hanya kepada Allah. Q.s. Adz-dzariyat: 56. Dalam mengabdikan dirinya kepada Allah, bangsa jin juga ada yang ingkar, ada juga yang taat patuh pada perintah Allah sebagaima diungkapkan dalam al Quran surah al Jin ayat 11, "Dan sesungguhnya diantara kami ada jin-jin yang saleh dan diantara kami ada pula yang tidak. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda".
Dari segi kejadian jin berbeda dengan manusia. Jin diciptakan dari unsur api yang sangat panas.Q.s. al Hijr:27. Demikian juga keterangan yang dapat diperoleh dari hadis Nabi SAW sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim dari Aisyah, ‘ Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari api yang berkobar (wa khuliqa al jannu min marijin min naar.......)’
Jin juga memiliki masyarakat sebagaimana masyarakat manusia. Q.s ar Rahman:33.

Kata ‘yama’syara’/jama’ah yang ditujukan kepada jin dan manusia menunjukkan bahwa antara masing-masing jenis terdapat ikatan yang menyatukan anggota-anggotanya. Demikian juga dengan jenis kelamin, bahwa makhluk jin terdiri dari jenis laki-laki dan perempuan.Q.s.al Jin: 6. Dalam sebuah hadis dari Anas bin Malik, Rasulullah SAW apabila masuk ke jamban/toilet membaca do’a, ‘allahumma inni a’udzubika minal khubtsi wal khobaits’/ Ya Allah, aku berlindung kepada Mu dari gangguan setan khubuts/laki-laki dan setan khubaits/perempuan. (Fathul Bari sarah hadis Bukhari, Ibnu Hajar al Asqolani). Makhluk yang bernama jin itu juga mempunyai keturunan dan memiliki kelebihan bahwa mereka tidak bisa dilihat oleh manusia. Q.s.al Kahfi: 50, s. Al A’raf : 27. Disamping itu, jin memiliki kemampuan merubah dirinya dalam berbagai bentuk.

Memanfaatkan Jasa Jin dan Setan

Dari banyak keterangan baik al Qur’an maupun Hadis Nabi SAW, bahwa setan termasuk dari golongan jin. Q.s.al An’am:112. dan setan adalah keturunan iblis yang membangkang terhadap perintah Allah serta memusuhi manusia. Q.s.al Kahfi 50. Setan sebagai keturunan iblis memusuhi manusia karena dendamnya kepada Adam sebagai kakek manusia yang kedudukannya lebih tinggi disisi Allah dari kedudukan kakek setan. Karena keengganan iblis untuk respek/hormat kepada Adam yang mengakibatkan ia terusir dari surga, kemudian ia mengancam Adam serta keturunannya untuk ia jerumuskan kedalam pengingkaran kepada Allah SWT. Iblis bersumpah dihadapah Allah Robbul jalil, bahwa ia akan menggoda umat manusia dari hadapan mereka, dari belakang mereka, dari kiri dan kanan mereka. Q. S. al A’raf : 17.

Ibnu Katsir, seorang pakar Tafsir dalam uraiannya tentang ayat di atas, bahwa iblis serta turunannya menggelincirkan manusia dari berbagai jalan ketaatan, dengan menghalang-halangi mereka dari jalan-jalan kebaikan, selalu mengajak manusia mengagungkan rasio/akal sebagaimana ia menggunakan rasio/akalnya dalam mengingkari perintah Allah, iblis berasumsi bahwa ia lebih baik dari Adam, dengan mengatakan, ‘ana khairun minhu khaqtani minnar, wakhalqtahu min thiin’. Q.S.7:12. Iblis menjadikan dalil/argumen diatas kebaikan penciptaan dirinya. Api yang sifatnya membakar, memusnahkan tidak lebih baik dari tanah yang sifatnya mengembangkan dan menjadi sumber rezeki. Disamping itu api yang memiliki sifat berkobar, tidak mantap, sangat mudah diombang ambingkan oleh angin. Sementara tanah memiliki sifat yang mantap, tidak berubah, tenang dan dibutuhkan oleh makhluk lain, seperti hewan dan tumbuh-tumbuhan. Pada dasarnya keutamaan bahan-bahan antara satu dengan lainnya adalah relatif. Hanya Allah yang Maha Mengetahui segala kelebihan dan kekurangan makhluk , ‘inni a’lamu mala ta’lamun’.

Malaikat yang diciptakan dari unsur cahaya masih lebih baik dari api, namun saat perintah Allah ditujukan kepada mereka untuk respek/sujud kepada Adam, mereka langsung sujud menunjukkan kepatuhan atas perintah itu/fully submission. Sesungguhnya iblis telah menempuh jalan yang sesat, karena nalar/akal tidak dapat digunakan untuk mengubah atau membatalkan perintah Allah yang jelas dan rinci. Dalam berbagai informasi baik yang disebarkan oleh media TV maupun bacaan-bacaan, kita bisa melihat banyak manusia menggunakan jasa tuyul atau memedi (nama lain dari setan/jin) untuk menjaga rumah, mencari kehidupan agar menjadi kaya , menahan hujan atau memindahkan hujan dan sebagainya. Islam yang mengajarkan pemeluknya untuk taat dan patuh kepada perintah Allah, tidak boleh meminta bantuan kepada selain Allah. Setan adalah musuh yang nyata bagi manusia, maka tidaklah wajar bila manusia menggunakan jasa mereka dalam kehidupan, karena akan menambah dosa, sebagaimana firman Allah, " Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki diantara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan ". Q.s. al Jin.a. 6. Wallohu a’lam.

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment