Wednesday, 03 March 2010 23:39    PDF Print E-mail
Keranjang bambu palopat Maria diminati Toke Salak
Ragam
AHMAD CEREM MEHA
         
Tangan-tangan cekatan di bawah tenda biru siang itu nampak serius dengan anyaman keranjang bambu, dengan bermodalkan keterampilan yang mereka miliki.
         
Mereka datang dengan penuh harapan, kampung halaman nan jauh di mata rela ditinggalkan demi mencukupi kebutuhan pokok untuk keluarga.

‘’Kalau di kampung pekerjaan sulit, tetapi dengan peluang pekerjaan untuk kerajinan keranjang ini kami lega di saat harga bahan pokok yang mahal,” kata Lilik kepada Waspada.
          
Empat belas perajin, selalu kompak mengerjakan orderan anyaman-anyaman bambu itu. Bahan baku didatangkan dari Binjai, karena bahan baku tersebut bukanlah bambu biasa yang ada di Padangsidimpuan. Biasanya banyak terdapat di Tanah Karo yang kerap dinamai bambu tali.
         
“Jika bukan jenis itu digunakan untuk anyaman bambu, keranjang-keranjang itu akan rapuh. Sudah pernah dicoba dengan beberapa jenis bambu, namun hanya bambu tali yang sesuai untuk keranjang,” ujar Lilik, perajin dari Kelurahan Palopat Maria, Kecamatan Padangsidimpuan Hutaimbaru, Kota Padangsidimpuan.
          
Konsumen utama keranjang bambu Palopat Maria adalah para toke/pedagang salak. Jika musim panen besar buah salak pada Januari, Juli dan Agustus, pesanan dari para toke tidak bisa dilayani saat. “Jika tidak musim panen besar , kami kewalahan juga, keranjang menumpuk, kadangkala kami tidak bekerja beberapa hari,’’ papar Lilik.
          
Ada dua bentuk keranjang bambu, berbentuk persegi dan bulat. Untuk persegi panjang dihargai per keranjang Rp5.000, dan bentuk bulatan Rp3.000. Pesanan dapat diantar ke pemesan jika jumlahnya banyak setelah dipesan dulu.

Lilik menuturkan harapannya pada pemerintah agar memperhatikan pengembangan kerajinan bambu itu.
(dat04/wsp)

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment