|
WASPADA ONLINE
Obat yang digunakan secara luas guna menangani tekanan darah tinggi dan sakit jantung tampaknya juga mengurangi risiko Alzheimer dan bentuk lain seperti dementia.
Beberapa veteran militer AS yang menggunakan angiotensin receptor blocker (ARB) menghadapi kemungkinan 19-24% lebih kecil untuk terserang dementia selama masa empat tahun dibandingkan dengan seusia mereka yang menggunakan obat lain.
Di antara pasien yang didiagnosis terserang Azheimer pada masa empat tahun, mereka yang menggunakan ARB hampir separuh lebih memerlukan perawatan pada akhir masa tersebut, demikian hasil penelitian yang disiarkan oleh British Medical Journal (BMJ).
ARB menghalangi angiotensin, molekul yang membuat otot di pembuluh darah berkontraksi. Sebagai akibat dari aksi obat tersebut, pembuluh darah membesar, sehingga meringankan tekanan darah.
Berbagai studi sebelumnya pun sudah menunjukkan ARB lebih efektif dalam memberi perlindungan terhadap diabetes dan mungkin stroke ketika dibandingkan dengan obat lain. Tetapi, para penyelidik mengungkapkan, itu adalah masa pertama kali mereka menyaksikan pertahanan terhadap dementia.
Para dokter yang dipimpin Benjamin Wolozin, seorang profesor di Boston University School of Medicine, meneliti peristiwa dementia di kalangan 819.000 orang yang berusia 65 tahun atau lebih, yang mayoritas laki- laki dan penderita sakit jantung serta pembuluh darah, sejak 2002 sampai 2006.
Data yang disediakan lembaga Urusan Veteran AS tersebut merupakan pasien yang dinilai berdasarkan apakah mereka menggunakan ARB, obat jantung dan pembuluh darah yang disebut lisinopril maupun obat pembanding lain untuk mengobati sakit jantung.
Didapati perlindungan nyata ARB terhadap dementia sangat jelas di kalangan pria yang menggunakan obat tersebut sejalan dengan pengobatan lain bagi penderita tekanan darah tinggi yang disebut penghalang angiotensin converting enzyme (ACE).
Dalam satu komentar yang juga disiarkan oleh BMJ, Colleen Maxwell dan David Hogan dari University of Calgary, Kanada mengatakan, studi itu ternyata memiliki batas. Hasil penelitian itu tidak berpengaruh pada sejarah keluarga yang memang menderita dementia dalam masa yang agak singkat, serta tak menunjukkan dementia di kalangan perempuan. "Studi lebih jauh diperlukan guna mengkonfirmasi temuan tersebut," kata peneliti.
Mengingat bahwa sebanyak 36 juta orang di seluruh dunia terserang satu bentuk dementia seperti penyakit Alzheimer, jumlahnya dikhawatirkan akan meningkat menjadi dua kali lipat dalam waktu 20 tahun mendatang. "Manfaat pencegahan penyakit itu 'sangat besar'," kata mereka.
Usia, warisan genetika dan sakit jantung adalah faktor utama yang diketahui mempengaruhi dementia. Selain itu, juga ada faktor diabetes dan tekanan darah tinggi pada usia setengah baya.
Editor : Fazaris Tanti (dat03/ann)
|
Comments