Thursday, 31 December 2009 06:02    PDF Print E-mail
Indikator program malaria
Opini
CHANDRA SYAFEI

Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang upaya penurunan kasusnya terkait komitmen internasional dalam MDGs. Kabupaten yang merupakan daerah endemis penyakit malaria malaria di Provinsi Sumatera Utara adalah Asahan, Labuhan Batu, Langkat, Karo, Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, Nias, dan Nias Selatan.

Dalam 6 (enam) tahun terakhir , mulai tahun 2003 s/d 2004 angka kasus malaria mengalami penurunan dari 60.268 kasus turun menjadi 49.844 kasus (AMI 3,82/1000 pddk), Namun tahun 2005 mengalami peningkatan peningkatan kembali dengan jumlah 68.005 kasus dengan angka kesakitan akibat malaria ( AMI) meningkat menjadi 6,1 per 1000 penduduk .

Pada tahun 2006 jumlah kasus turun kembali menjadi 64.116 kasus dengan AMI 5,5 per 1000 penduduk. Tahun 2007 kasus malaria mengalami kenaikan menjadi 99,692 kasus kasus ( AM I7,77per 1000 penduduk, tahun 2008 turun kembali menjadi 91.609 kasus ( termasuk penderita klinis ) dengan angka kesakitan malaria menjadi 7,02 per 1000 penduduk.

Berdasarkan persentase penderita malaria yang mendapatkan pengobatan di Sumatera Utara telah diketahui bahwa pada tahun 2008 hanya 74,66 % penderita malaria diobati. Dari 28 Kabupaten/ Kota, 24 Kab / Kota yang melaporkan adanya kasus malaria secara berurutan 3 kabupaten. Yang tertinggi jumlah penderitanya adalah Deli Serdang 23.012 penderita, Nias Selatan 15.543 penderita dan Mandiling Natal dengan 15 397 penderita.

Kabupaten / Kota yang melaporkan tidak ada kasus adalah Tebing Tinggi, Medan, Binjai dan Toba Samosir. Wabah malaria adalah kejadian suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari pada keadaan yang lazim,pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka (UU RI NO.4/1984).

Kejadian Luar Biasa adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan / kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu dan merupakan keadaan yang dapat menjurus pada terjadinya wabah (PP RI No.40/1991 dan Kep Dirjen PPM & PLP No.541-I/PD.03.04.IF/1991) KLB malaria adalah kejadian meningkatnya kasus yang melebihi keadaan biasa di suatu kelompok masyarakat atau wilayah KLB malaria.

Sistem kewaspadaan dini malaria adalah suatu kegiatan untuk memantau secara teratur perkembangan penyakit malaria di suatu wilayah yang men cegah timbulnya KLB . Malaria positif adalah penderita yang dalam darahnya ditemukan parasit plasmodium melalui pemeriksaan mikroskopis (atau dengan rapid diagnostic test).

Surveilans malaria adalah kegiatanyang terus menerus, teratur dan sistematis  dalam pengumpulan, pengolahan, analisis dan interprestasi data malaria untuk menghasilkan informasi yang akurat yang dapat disebar luaskan dan digunakan sebagai dasar untuk melaksanakan tindakan penanggulangan yang cepat dan tepat disesuaikan dengan kondisi setempat, sehingga menghasilkan informasi yang cepat, akurat dan dapat di sebar luaskan serta digunakan sebagai dasar penanggulangan malaria yang cepat dan tepat.

Hal ini juga dapat dipergunakan untuk menyusun perencanaan yang sesuai dengan permasalahannya. Dari kegiatan surveylans kita dapatkan gambaran distribusi penyakit Malaria menurut orang,tempat dan waktu. Selain itu juga untuk m engetahui arah perkembangandan trend penyakit malaria dari waktu kewaktu.

Melakukan pengamatan dini (SKD) malaria dalam rangka mencegah KLB malaria, dan melakukan penanggulangan KLB malaria secara dini dan terpadu . Dimulai dari pengumpulan, pemilihan ,pengelolaan dan interprestasi data malaria yang dapat dilakukan pada semua tingkat administratip pelayanan kesehatan.

Mengingat besar dan kompleksnya permasalahan maka dalam rangka penanggulangan Malaria, petugas kesehatan dituntut dapat meningkatkan kemitraan dalam membangun jaringan informasi malaria dengan sektor-sektor terkait. Upaya pembrantasan malaria yang tepat dan cepat.

Senantiasa harus berpedoman pada “evidence base”. Kegiatan surveilans ada 3 (tiga ) tahap. Pertama, surveilans periode peringatan dini (sebelum kejadian luar biasa). Kedua, periode kejadian luar biasa. Ketiga, pasca kejadian luar biasa. Sasaran dari surveilans adalah data tersangka dan waktu.

Data tersangka adalah data para penderita malaria (klinis) dan positif malaria yang meliputi dari populasi dan wilayah yang terkena resiko malaria (sumber dan wilayah penelusuran). Sedangkan waktu atau periode penularan adalah waktu kejadian (out break) malaria.

Jenis kegiatan lain yang berhubungan dengan pembarantasan malaria adalah pengamatan terus menerus terhadap 1).kasus penyakit malaria (kasus positif . bayi, Pf, indegenus, kasus klinis malaria). Hal ini untuk melihat adanya kasus kematian karena atau diduga malaria. 2).Jentik di TPN potensial (perbulan).3).

Vector (nyamuk dewasa) apakah ada jenis vector yang berpotensi menjadi penular malaria. Pengamatan secara periodik terhadap 1).Vector secara longitudinal / spot 2).Perilaku masyarakat, yakni kegiatan migrasi, pola hidup sehat, Pekerjaan yang berisiko. Pengamatansewaktu-waktuterhadap curah hujan apakah ada dampak dan potensi terhadap kemungkinan untuk berpeluang terjadinya tempat perindukan malaria.

Analisis hasil pengamatan dilakukan dengan melakukan penguraian data dengan cara membandingkan dan mengukur terhadap objek–objek sebagai sasaran pengamatan.

Data kesakitan malaria yang dikumpulkan adalah a. Data kasus malaria mingguan. b. Kasus malaria bulanan kasus malaria bulanan pada tahun yang lalu. c.Kasus malaria bulan 3-5 Tahun sebelumnya . d.Analisis data kesakitan malaria tahunberjalan .e. Jumlah penderita malaria setiap bulan dibandingkan dengan angka kesakitan malaria bulan sebelumnya pada tahun yang sama . f.Analisis data kesakitan malaria tahun berjalan dan tahun sebeldengan umnya. g.Jumlah penderitaan malaria setiap bulan pada tahun berjalan dibandingkan dengan angka kesakitan malaria pada bulan yang sama tahun sebelumnya.

Indikator program
Adapun Indikator Outcome meliputi: 1. API (Annual Parasite Incidence) kegunaannya untuk mengetahui ancidence malaria pada satu daerah tertentu selama satu tahun.

2. AMI (Annual Malaria Incidence) kegunaannya untuk mengetahui ancidence malaria klinis pada satu daerah tertentu selama satu tahun.

3. MoPI (Monthly Parasite Incidence) kegunaannya untuk mengetahui ancidence , malaria klinis pada satu daerah tertentu selama satu bulan.

4. MoMI (Monthly Malaria Incidence) kegunaannya untuk mengetahui ancidence , malaria klinis pada satu daerah tertentu selama satu bulan .

5. CPR (Case Fatality Rate). Kegunaannya untuk mengukur angka kematian (kematian disebabkan malaria) dibandingkan dengan jumlah penderita malaria, biasanya digunakan pada saat KLB.

Indikator output

1. PR (Parasite Rate), kegiatan Malariometrik Survery (MS) kegunaannya untuk mengetahui prevalence malaria pada suatu daerah tertentu.

2. IPR (Infant Parasite Rate), kegiatan Malariometrik Survery (MS) kegunaannya untuk mengetahui Prevalence kasus malaria penularan setempat (indigenous) pada satu daerah tertentu.

3. SR (Spleen Rate), kegiatan Malariometrik Survery Dasar(MSD)kegunaannya untuk mengetahui Prevalence malaria pada suatu daerah tertentu.

4. SPR (Slide Positivity Rate), dari kegiatan PCD di sarana pelayanan kesehatan kegunaannya untuk mengetahui proprosi ketepatan diagnose. 5 % P Falciparum + mix : kegunaannya menentukan kebijakan pengobatan pada Daerah tertentu salah satu indikator KLB malaria.

Penulis adalah Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara
(dat01)

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment