|
||||
| MUI: Jangan nilai kurban dari segi materi |
| Warta |
|
WASPADA ONLINE MEDAN - Umat Islam diimbau untuk tidak menilai ibadah kurban dari segi materi semata tetapi lebih pada niat untuk membuktikan ketakwaan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. "Bukan daging kurbannya yang dinilai Allah SWT tetapi niat dan tujuan dari orang yang menyumbangkannya," kata ketua umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumut, Abdullah Syah, pagi ini. Secara umum, katanya, ibadah kurban memang berupa penyembelihan hewan ternak seperti lembu dan kambing untuk diberikan kepada fakir miskin.Namun secara substansi, penyembelihan hewan kurban itu lebih bertujuan untuk membuktikan kesediaannya membantu dan menyisihkan sebagian harta guna membahagiakan fakir miskin demi mendekatkan diri kepada Allah SWT. Karena itu, penyembelihan hewan kurban jangan dilihat sekadar ibadah sebagai kegiatan menyisihkan sebagian materi semata, tetapi lebih pada keinginan untuk membuktikan ketakwaan kepada Allah SWT. "Allah tidak menilai daging hewan yang dikurban tetapi niat pemberi kurbannya," katanya. Dikatakan, dalam hari raya, baik Idul Fitri mau pun Idul Adha yang penuh rasa gembira, umat Islam diimbau untuk memperbanyak zikir dan syukur kepada Allah SWT. Zikir itu dilakukan dengan memperbanyak takbir pada malam dan pagi hari raya tersebut, baik di rumah mau pun di tempat ibadah. Sedangkan rasa sukur diwujudkan dengan memperbanyak memberikan bantuan kepada kalangan kurang mampu. "Zakat fitrah pada idul fitri dan menyembelih kurban pada Idul Adha," katanya. Jadi, katanya, perintah penyembelihan hewan kurban itu juga memiliki tujuan agar umat Islam bersedia untuk berbagi kebahagiaan dengan kalangan kurang mampu seperti kaum fakir miskin. (dat01/ann) |




Comments