Monday, 23 November 2009 20:59    PDF Print E-mail
Menggantung asa pada moris
Ragam - Features
MUHAMMAD RAPYAN
            
“Oooohh…Simeulueeeeee. Arao talon mo, Simeulue Atee Fulawaaan,” ini adalah bagian syair lagu gubahan Sekda Simeulue Mohd. Riswan alias Moris Mesa Sillae. Lagu ciptaan Moris yang satu ini cukup populer di kalangan muda, laris manis disetiap jengkal tanah Simeulue.
           
Menganalisa sekilas dari bait lagu di atas bisa berarti sebuah ratapan, kegusaran yang terselip di relung jiwa seorang anakulao yang mencintai pulau tempat dia dan keluarganya lahir, besar serta menjalani kehidupan.
            
Benar memang bak seperti terjemahan penggal lagu di atas, Oh Simeulue, jauh letak mu, Simeulue ku sayang yang laksana emas, intan-berlian. Ya, faktanya memang Simeulue terletak di laut lepas, bibir pantai terdekat dari Pulau Sumatera. Yakni; Labuhan Haji—Aceh Selatan, sekitar 108 mil laut.
            
Tak heran, kondisi geografis Simeulue yang nun jauh dari penduduk ramai, terisolir dan terbatas oleh pantauan media—pers. Terkadang menjadi lahan empuk bagi oknum-oknum kontraktor besar dan manusia-manusia tak bermoral. Menjadikan Simeulue, ladang uang, menguras hasil, menumpuk kekayaan pribadi dan kelompok.
            
Pun demikian, dalam kurun 7 tahun belakangan tepatnya, tatkala Simeulue mulai ‘didandani’ dua serangkai putra terbaik pulau itu, yaitu: Drs. Darmili, Bupati, Drs. Ibnu Aban GT ULMA (alm), laju pembangunan melesat cepat.
            
Pengakuan grafik pertumbuhan pembangunan Simeulue tidak hanya terlontar oleh orang cilet-cilet yang ingin mencari muka. Tetapi tokoh-tokoh Aceh berpengaruh dari luar yang mengamati setiap cengkal tanoh Aceh tak kecuali itu, Simeulue.
            
Diantaranya, oleh mantan legislator Aceh, ternama, H. Adnan NS, S.Sos saat masih di bercokol di Senayan kepada media ini dia menyebut ke-pesat-an pembangunan Simeulue semasa di tangan dua serangkai itu masih bersama-bersama, bahkan tergolong spektakuler. Kata Adnan waktu itu, badingkan saja dari segi jumlah kendaraan bermotor di Simeulue. Sekitar tahun 2001, ketika Adnan NS bertandang ke-pulau Darmili, dia melihat kendaraan bemotor amat sedikit. Iya, bisa dihitung dengan jari. Demikian sarana umum, perkantoran pemerintah, fasilitas kesehatan, gedung sekolah yang permanen nyaris tiada bayang.   
            
Katanya mengenang waktu itu, kesan pertama tiba perdana di Sinabang, “Ya hanya sebagai sebuah perkampungan.”
            
Maklum kala itu nyaris tak ada bangunan permanen bertingkat, bagai terlihat dikota kebanyakan. Hanya bangunan pendopo bupati, kantor pajak, kantor camat Simeulue Timur. Itu-pun bila dibanding jauh lebih elok kantor-kantor lurah di Medan sekarang ini.    Lantas muncul pertanyaan bagaimana Simeulue kini?. Iya, maju pesat. Lihat bagaimana indah-nya Bandara Lasikin?. Bahkan decak kagum akan bandara itu pernah terlontar oleh seorang tokoh nasional—Ketua PWI Drs. Tarman Azzam, ketika berkunjung ke pulau yang memiliki pesona bahari menakjubkan ini beberapa waktu lalu. Katanya, cukup bagus, “Lasikin, jauh lebih indah dari Bandara di Gorontalo.” .
            
Keberhasilan tak cuma sekadar itu. Pandang pula bagaimana megah-nya kantor Dinas PU setempat, gedung Bappeda, kantor Bupati, kantor DKP, kantor BPM, kantor Dinsos, kantor PN, kantor Kejaksaan, kantor Polres, kantor Pengadilan Agama, kantor Dinas Kesehatan, RSU, Puskesmas dan Pustu-pustu di sana yang sebelumnya praktis tidak ada kini bertabur bagai jamur di musim hujan. Mewah dan gagah..
            
Kesan wah betamba seiring berdirinya Depo Pertamina, berkapasitas relatif besar untuk tataran Simeulue. Dibangunnya Pasar Impres dengan model permanen dan bearsitektur. Gedung Supermarket Simeulue (SMS) yang tak kala bagus. Plus pelabuhan umum baru, ditambah lagi pelabuhan cargo dengan bobot sandar kapal ratusan ribu GT.
            
Pokoknya kalau bicara soal bangunan di Kota Sinabang, bak sitilah kata anak betawi, “Sip deeh,” atau ‘Is, ok,” timpal Sibule Kampung. Ditambah jalan lingkar yang hampir rampung. Meskipun soal jalan lingkar Simeulue ini, kini banyak masalah timbul di lapangan.
            
Lagi-lagi, diduga itu semata-mata ulah oknum kontraktor, demikian-pun bicara soal bangunan infrastruktur lain yang kurang baik. Tak ayal melihat realita ini legitimasi Simeulue sebagai daerah yang cepat berkembang sukar sudah untuk dibendung.
            
Nah, tentunya perubahan ini berfundamen. Tak seperti yang terjadi dalam cerita dongeng. Misalnya cerita tentang Aladin, “Sen salah ben, kadabera wakadabera,” berubahlah sesuatu hanya dalam sekedib mata. Bupati Drs. Darmili & Wakilnya Drs.H. Ibnu Aban GT Ulma (almarhum) adalah dua “serangkai“. Sutradara sekaligus pemeran utama dalam meraih berbagai sukses di sana. Alhamdulillah, sejauh ini pun penabalan itu belum ada yang berani membantanya. Uniknya lagi meski salah satu telah tiada. Acungan jempol masyarakat atas prestasi yang ditorehkan oleh tiga serangkai itu belum ada yang menukikkan jempol mereka yang diacung ke atas berbalik ke arah bawah.. Darmili, Ibnu Aban “Hero” pembangun pulau yang berada di tengah Samudra itu. Namun sebagai manusia yang berbudi ‘kita’ tak pantas rasanya jika tahu, lalu menaifkan jasa orang. Soalnya, Tuhan yang maha segalanya saja. Dalam Al Quran, jelas Allah menegaskan bahwa Dia tidak akan menghilangkan sebijih sar’ah-pun akan kebaikan yang dilakukan seorang manusia di dunia dan sebaliknya.
            
Demikianhalnya dengan kepesatan pembangunan Simeulue yang tergambar kini. Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Simeulue. Drs. Mohd. Riswan R, alias Moris, merupakan sosok yang namanya belum terkenal. Sesungguhnya dia juga seorang yang memiliki andil besar dalam pemerintahan Darmili.
            
Ungkapan ini bukan hanya sekadar ilustrasi. Agaknya semua orang pun mengakui kepiawaian Moris dalam membantu jalannya pemerintahaan daerah. Tak ayal Darmili sejak awal sampai kini bahkan Bupati Simeulue Pjs. Drs. Dermawan MM tetap memosisikan Moris pada posisi yang sama sebagai Sekda Kabupaten Simeulue ketika terjadi peralihan jabatan bupati saat Pilkada lalu.
            
Lalu siapa dan bagaimana sosok Moris, berikut secuil rekam jejaknya. Moris merupakan singkatan dari nama lengkapnya Drs. Mohammad Riswan R. Putra Simeulue kelahiran, 25 Desember 1952. Ayahnya bernama Mohd. Roesli (alm), lahir 20 Mei 1920. Nama ibunda Moris, bernama Siti Sadimah, lahir tahun 1926.
           
Drs. Mohd. Riswan R menikah dengan gadis pujaan hati yang selalu mendampingi hingga kini dalam berbagai situasi, suka-duka, satu Januari tahun seribu sembilan ratus tujuh pulu tiga. Istrinya bernama Rosmidawani, lahir di Sinabang—Simeulue, 11- Febrouari-1952.
            
Dari pernikahan itu Moris dan Rosmidawani dikarunia tujuh orang anak. 4 putra dan 3 putri. Anak Sulung bernama Afriansyah, lahir Banda Aceh, 12 April 1974, Budi Dharma, Banda Aceh, 30-April-1976, Dede Firmansyah lahir di Sinabang 27 Febrouari 1980, Juliano (alm), Banda Aceh 7-7-1981, Rika Sri Mulyati (alm), Banda Aceh 11-11-1982. Rsiki Sri Refita (alm), Sinabang 14-04-1985. Yenni Oktraini (alm), Sinabang 25-10-1986.
           
Moris orangnya familiar dan tergolong low profil, selama ini terekam nyaris tak beriak karena memahami dan menjaga patsun/etika kepada pimpinan. Meyakini prinsip; emas tetap emas, loyang takkan bisa menjadi emas.
            
Pernah sekali waktu Waspada di Simeulue mengkonirmasi soal peran dan andil Moris dalam menggenjot pembangunan di sana. Hakekatnya layak untuk ditonjolkan. Sang Moris menjawab, “Saya adalah pegawai negeri, abdi negara, bekerja yang baik dan memberikan pelayanan prima kepada rakyat memanglah kewajiban saya. Jadi, saya pikir pengabdian itu tak perlu lah di-follow up kali, biarlah semua berjalan bagai air,“ ujarnya dengan sangat diplomasi.
           
Moris juga berusaha tidak ria terhadap apa yang sudah disumbangkan. “Biasanya hanya ayam, bertelur satu, ribut sekampung,“ jelas dia. Lalu, sekitar sepekan nan silam, ’Tuan Moris’ Bupati Darmili mengerang soal singkatnya usia aspal di sana. Kegalauan yang sama juga disampaikan pimpinan DPRK setempat, bahkan H. Aryaudin menyampaikannya melalui media masa.
            
Nah, bak kita ketahui. Memang CS Darmili, Ibnu Aban GT ULMA telah pergi meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Diyakini tak banyak yang bisa memahami dan membantu masalah yang melilit 'raja' Simeulue, Drs. Darmili. Khususnya mengatasi masalah jalan raya. Namun setidaknya masih ada Moris. Lalu akankan Moris mampu membantu sang 'raja'. Mudah-mudahan saja.
(dat02)

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment