Friday, 02 November 2007 07:27    PDF Print E-mail
Kisah-kisah Dalam Al-Quran
Mimbar Jumat
Makna 'kisah' secara bahasa (Arab) adalah mengikuti  bekas-bekas yang tersisa. Firman Allah: "Dan dia berkata kepada saudara perempuannya ikutilah (qossi) bekasnya sampai engkau menemukan siapa yang mengambilnya." (QS al-Qashhas: 11). Di samping itu kisah juga bermakna berita yang turun-temurun. WASPADA Online

Oleh Ummu Hafizhatunnisa


Makna 'kisah' secara bahasa (Arab) adalah mengikuti  bekas-bekas yang tersisa. Firman Allah: "Dan dia berkata kepada saudara perempuannya ikutilah (qossi) bekasnya sampai engkau menemukan siapa yang mengambilnya." (QS al-Qashhas: 11). Di samping itu kisah juga bermakna berita yang turun-temurun. Firman Allah: "Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal." (QS Yusuf: 211). Atau di dalam surah Hud pada ayat 100, Allah Swt berfirman: "Itu adalah sebagian dari berita-berita negeri (yang telah dibinasakan) yang Kami ceritakan kepadamu (Muhammad), di antara negeri-negeri itu ada yang masih kedapatan bekasnya dan ada (pula) yang telah musnah."

'Berita' dalam surah Hud ayat 100 di atas ialah apa yang dikisahkan oleh Allah Swt tentang sikap dan perlakuan umatumat terdahulu terhadap para nabi yang diutus Allah kepada mereka, serta akhir dari kehidupan mereka. Kata 'goim' ialah mereka yang tegak di atas kekuasannya. Namun 'goim' juga bisa diartikan sebagai kemakmuran. Maksudnya di antara mereka ada yang masih tersisa bekas-bekasnya seperti gambaran tentang bagaimana kekuatan dan kemampuan mereka membangun tempat tinggal. Misalnya sisa-sisa kaum 'Ad yang dikisahkan dalam surah al-Ahqaf, kisah tentang sisa-sisa kaum Tsamud dalam surah al-Hijr.

Sedang 'Hasid' adalah yang tidak ada bekasnya. Ia juga berarti yang binasa. Makna 'hasid' sebenarnya adalah sesuatu yang di panen atau hasil panen. Negeri-negeri itu diumpamakan dengan sebuah ladang. Ketika mereka dibinasakan bagaikan tanaman-tanaman yang dipanen, atau hasil panen. Maksudnya, di antara mereka ada yang binasa (hasid) bagaikan tanaman yang dikeluarkan dari bumi dan kemudian dibinakan. Misalnya yang terjadi atas kaum Nabi Nuh dan Nabi Luth. Adapun yang dimaksud kisah dalam Al-Quran adalah apa-apa yang diberitakan oleh Al-Quran mengenai keadaan dan peristiwa yang terjadi pada umat terdahulu maupun tentang kenabian.

Al-Quran sendiri banyak sekali memuat kisah tentang peristiwa masa lalu dari kehidupan umat manusia ini. Seperti sejarah yang mengisahkan tentang negeri-negeri dan kampung-kampung, menguraikan dan menurut kisah-kisah manusia sebelum kenabian serta menampilkan semua itu dalam sentuhan kisah-kisah yang hidup dan mampu berbicara sendiri bahkan untuk konteks kekinian dari setiap masa yang hadir.
    
Macam-macam Kidah alam Al-Quran
Kisah-kisah yang ada dalam Al-Quran terbagi menjadi tiga macam.
Pertama, kisah para nabi yang mencakup kisah dakwah dan perjuangan mereka menyampaikan risalah kenabian. Kemudian tentang mukjizat yang dikaruniakan kepada mereka. Juga kisah para penentang dakwah mereka, fase dakwah yang dilaluinya serta akibat akhir dari orang beriman dan orang yang kafir.

Kedua, yang berkaitan dengan peristiwa-peristiwa penggalan yang sifatnya temporal atau tentang kisah beberapa orang yang bukan nabi maupun rasul. Seperti kisah orang yang keluar dari rumahnya sedang dia dalam keadaan takut akan kematian, atau kisah tentang Jalut, Thalut, kisah tentang dua anak Adam Qabil dan Habil tentang ashabul kahfi, tentang Dzulqornain, Qorun, mereka yang terlibat pada "Peristiwa Sabtu", tentang Maryam, tentang ashabul ukhdud, tentang tentara gajah dan lain-lain.

Ketiga, kisah-kisah yang berkaitan dengan peristiwa yang terjadi pada zaman Rasulullah Saw, seperti kisah tentang terjadinya Perang Badar, Perang Uhud dalam surah Ali Imran, tentang perang Hunain dan Perang Tabuk dalam surah at-Taubah, Perang Ahzab dalam surah al-Ahzab, tentang peristiwa hijrah Rasulullah dari Makkah ke Madinah, tentang Isra' Mi'raj dan lain-lainnya.

Dalam Al-Quran, terkadang satu kisah disebutkan beberapa kali dalam tempat yang berbeda. Bahkan cara menguraikannya pun berbeda-beda, baik dalam mendahulukan dan mengakhirkan (taqdim dan takhir), maupun dalam hal singkat (i'jaz) dan panjang lebar (ithnab). Tentu saja pengulangan itu bukan tanpa alasan.  Banyak hikmah dan ibroh (pelajaran) yang dapat dipetik dari pengulangan kisah tersebut, di antaranya:

Pertama, untuk menunjukkan ketinggian sastra (balaghoh) yang dimiliki Al-Quran. Karena di antara karakteristik ketinggian sastra ialah kemampuannya untuk mengungkapkan peristiwa maupun perkara yang hanya satu, dalam gambaran yang bermacam-macam. Kisah-kisah yang diungkapkan Al-Quran dari satu peristiwa mempunyai ciri pengungkapan (uslub) yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Bahkan masing-masing uslub mempunyai keistimewaan sendiri yang tidak dimiliki uslub yang lainnya.

Kisah-kisah itu diungkapkan dalam suasana yang berbeda-beda. Tidak pernah menjadikan pembacanya merasa bosan akan pengulangan, bahkan dari masing-masing pengungkapan itu akan selalu ditemukan nuansa makna baru yang tidak ditemukan di tempat lain. Semua itu termasuk kekuatan mukjizat (quwwatul i'jaaz) yang dimiliki Al-Quran dalam mengungkapkan makna yang satu dalam bentuk yang berbeda-beda. Bangsa Arab sendiri tidak mampu membuatnya meskipun untuk satu macam bentuk pengungkapan saja.

Kedua, untuk memberikan perhatian yang besar terhadap kisah-kisah tersebut agar semakin meresap di dalam hati. Pengulangan adalah salah satu bentuk 'penekanan' serta tanda-tanda meresap di dalam hati. Pengulangan adalah salah satu bentuk 'penekanan' serta tanda-tanda adanya perhatian yang lebih, misalnya kisah antara Nabi Musa dan Fir'aun. Kisah tersebut merupakan simbol yang utuh dan abadi tentang perseteruan antara kekuatan yang haq dan kekuatan yang bathil sehingga diulangi berkali-kali dalam Al-Quran.

Ketiga, karena kadang masing-masing pengulangan tersebut memiliki tujuan yang berbeda. Misalnya, pada salah satu pengungkapan yang ditonjolkan adalah bagaimana seharusnya setia di jalan perjuangan. Sementara pada pengungkapan yang lain ditekankan pelajaran bagaimana akhir dari kebenaran dan kebathilan.

Memetik Manfaat dari Kisah-kisah dalam Al-Quran

Jika kita benar-benar menghayati dan menyelami makna dari kisah-kisah yang diceritakan dalam Al-Quran maka akan terasa bagi kita bagaimana susunan kalimat yang digunakan tersebut begitu menyentuh kepada dasar yang paling dalam dari relung-relung hati dan perasan. Semua pertarungan tergambarkan dengan jelas. Peristiwa yang dialami pelaku-pelaku yang dikisahkan tersebut tergambarkan dengan jelas dan seakan bisa kita saksikan pada hari ini, betul-betul menguasai sudut dan ruang perasaan dan angan-angan.

Di antara mereka yang dikisahkan itu, ada yang tenggelam dalam gelombang berlapis-lapis yang dahsyat seakan-akan kita lihat seperti peristiwa tsunami yang terjadi pada beberapa waktu yang lalu. Ada pula yang dibinasakan oleh angin kencang yang menghancurkan, seakan-akan yang kita lihat pada peristiwa badai Katrina dan badai Rita yang melanda beberapa kota di Amerika Serikat beberapa waktu yang lalu. Atau ada juga yang ditenggelamkan di dalam bumi bersama tempat tinggal mereka.

Semua kisah yang disampaikan Allah di dalam Al-Quran pasti ada manfaatnya bagi semua umat manusia sampai akhir zaman. Beberapa manfaat yang dapat dipetik dari paparan kisah-kisah tersebut antara lain:

Pertama, untuk menerangkan asas dan lansan dakwah di jalan Allah, serta menjelaskan pilar-pilar umum dari syariat masing-masing Rasul yang diutus oleh Allah. Firman Allah, "Dan tidaklah Kami mengutus rasul-rasul sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwasanya Tidak ada Tuhan selain Aku, maka dari itu sembahlah Aku." (QS. Al-Anbiya': 25).

Kedua,
untuk meneguhkan hati Rasulullah dan umatnya agar tetap berada dalam dienul Islam yang dibawa olehnya. Serta untuk menguatkan ketsiqahan dan kepercayaan orang-orang mukmin akan pertolongan dan bantuan tentara Allah yang haq adanya. Juga untuk meyakinkan akan kehinaan kebathilan serta para pengikutnya.

Ketiga, untuk membenarkan kenabian para rasul sebelum Muhammad dan melanggengkan pengingatan terhadap mereka serta mengabdikan kenangan dari perjalanan dakwah mereka.

Keempat, untuk menunjukkan kebenaran Nabi Muhammad beserta risalah dan dakwah yang dibawanya, sebagaimana diberitakan dan dibenarkan oleh para nabi sebelumnya.

Kelima, untuk menghadapi ahli kitab dengan hujjah yang nyata, atas apa-apa yang mereka sembunyikan dari petunjuk dan hidayah, serta menantang mereka tentang apa yang mereka miliki dalam kitab mereka sebelum terjadi penyimpangan dan penyelewengan yang mereka lakukan. Firman Allah: "Sesungguhnya semua makanan itu asalnya halal untuk Bani Israil kecuali apa-apa yang diharamkan oleh Bani Israil sendiri atas diri mereka sebelum diturunkan Taurat, katakanlah: "Datangkanlah Taurat dan bacalah kalau memang kalian yang benar." (QS. Ali Imran: 93).

Demikianlah, ternyata kisah tentang sebuah peristiwa yang dikaitkan dengan sebab-sebab terjadinya serta dampak yang dihasilkan oleh peristiwa tersebut memang sangat enak di dengar. Maka dari itu, menasihati dengan menggambarkan kisah-kisah nyata dari penggalan kehidupan masa lalu untuk dijadikan pelajaran jauh lebih bisa menuai sasaran. Dan kisah-kisah yang penuh dengan kejujuran dan kebenaran dalam bahasa Arab, dengan kedalaman sastra serta memiliki ketinggian bahasa, namun mudah dicerna, hanya dimiliki oleh Al-Quran. Wallahu a'lam.

Comments

avatar wagisan
0
 
 
kisah yang diceritakan apabila adalah kisah nyata maka dapat mempertebal iman para pemeluk agama tersebut, tetapi apabila yang diceritakan adalah sebuah dongeng maka hanya akan menjadi harapan kosong saja (hampa) bagi para pengikutnya.
coba anda simak apakah cerita-cerita yang dikatakan oleh nabi anda adalah kisah nyata atau hanya sebuah dongeng? pelajarilah dan carilah bukti-bukti kebenarannya selagi masih ada waktu. insyaallah anda akan menemukan TUHAN yang benar.
selama nafas masih di kandung badan maka pintu tobat masih selalu terbuka, semoga anda dapat menemukan dan memahami kebenaran itu.
jangan hanya katanya pak ustad, jika anda hanya membaca quran maka anda tidak dapat menemukan mana yang benar dan mana yang salah (dongeng), tetapi jika anda mau menyempatkan diri untuk membaca kitab-kitab yang lain yang beredar antara tahun 100-600 masehi, maka insyaallah anda dapat menemukan kebenarannya.
berdoalah, karena tuhan pasti menolong manusia yang ingin mencari kebenaran tentang diriNYA.
shaloom.
B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by Joomla Professional Solutions
Submit Comment
Cancel
B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment