Monday, 26 October 2009 06:16    PDF Print E-mail
Pemuda dalam pergulatan sejarah
Opini
SHAFWAN HADI UMRY

Maka sekitar tahun 50-an banyak tumbuh geng-geng remaja berdasarkan latar belakang budaya dan lingkungan. Pengaruh film dan buku-buku “cowboy” yang membanjiri bioskop dan toko buku di kota Medan termasuk satu sumber tumbuhnya jiwa ketangkasan dan kemandirian.

Tidak mengherankan banyak berita terdengar adanya perkelahian antar geng atau kelompok pemuda yang bebas dan mandiri dalam julukan preman Medan. Beberapa tokoh pemuda yang memiliki karisma dan watak pemimpin muncul dalam pergolakan pemuda di daerah Sumatera Utara.

Ambil misalnya tokoh M.Y. Efendi Nasution yang memiliki pergaulan akrab  “dengan para preman” tersebut. Beberapatokohmiliteryangpopuler ketika itu seperti Kapten R.M. Soekardi dan Kapten CPM Hasanuddin bertemu dengan M.Y. Efendi Nasution (Pendi Keling) untuk mengumpulkan kelompok preman yang meresahkan itu dan membentuk sebuah wadah yang diberi nama P2KM (Persatuaan Pemuda Kota Medan) pada awal tahun 1958.

Tokoh MY. Fendi Nasution mampu memilih tempat yang paling tepat. Oleh karena dalam kerjasama itu ada pembagian tempat dan pembagian kerja. Kepribadiannya menempatkan dirinya di “Jalan Raya” di depan masa dengan retorika yang bisa membangkitkan semangat pemuda dan menjadi aset dalam  pembagian kekuatan antara birokrasi kekuasaan dengan tokoh informal yang bebas berkelompok di jalanan.

Sejarah Pemuda Pancasila
Organisasi PP merupakan salah satu organisasi massa di Indonesia. Organisasi ini didirikan pada tanggal 28 Oktober 1959, tepatnya pada hari sumpah pemuda dan berkedudukan di Jakarta. Kelahiran PP berdasar pada hasil kongres IPKI tahun 1959 di Lembang Jawa Barat. Pemuda Pancasila pada mulanya bernama pemuda Patriotik.

Pada tahun 1961 beberapa anggota IPKI berdelegasi menemui Ketua Umum DPD IPKINy. Ratu Aminah Hidayat untuk segera melantik PP dan bernaung di bawah IPKI (Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia). Fungsionaris pertama PP adalah S. Game, Andi Pareng, Taufik Yoenoes Madjid, dan Albert Sondakh (Pasaribu, 2002).

Sebagai organisasi pemuda, PP bersifat mandiri, memiliki idealisme, patriotisme, memiliki keterampilan, kepemimpinan, kesegaran jasmani dan berorientasi pada prestasi dan karya nyata sesuai dengan asas Pancasila. Organisasi PP berkembang di berbagai daerah hampir ke seluruh wilayah Indonesia, terutama di Sumatera Utara. Di daerah ini masyarakat yang heterogen, toleransi dan memiliki jiwa sportivitas yang tinggi merupakan tempat yang potensial menggalang massa.

Pada waktu itu banyak kelompok pemuda yang orientasi perjuangannya tidak jelas selain mempertahankan ciri-ciri ke-lompoknya (Karina, 2008). Faktor-faktor inilah yang dilihat Kerani Bukit sebagai Ketua IPKI Sumatera Utara untuk mengumpulkan massa sebagai ang-gota Pemuda Pancasila.

Pada tahun 1960 pemuda Rachmadsyah seorang utusan Kerani Bukit datang ke  Medan Bioskop untuk menjumpai Ketua P2KM yang bernama M.Y. Efendi. Selesai membicarakan rencana membentuk organisasi PP, maka M.Y. Efendi Nasution selaku Ketua P2KM mengajak tokoh-tokoh pemuda untuk membentuk PP di Medan.

M.Y. Efendi Nasution dengan dibantu teman-temannya segera mengumpulkan dan merekrut pemuda-pemuda kota Medan yang selama ini dijuluki preman Medan. Untuk menentukan pimpinan atau ketua diantara mereka berdasarkan siapa yang “paling jago” atau kuat dikelompoknya masing-masing.

Maka dari sinilah segera terbentuk pimpinan anak ranting, ranting, cabang sampai dengan pimpinan tertinggi yaitu Dewan Pimpinan Wilayah PP yang langsung ketika itu diketuai oleh M.Y. Efendi Nasution.

Awal kiprah Pemuda Pancasila
Pada bulan Agustus 1961 di gedung Selecta Jalan Listrik Medan, Ketua IPKI (Kerani Bukit) melantik dan meresmikan PP kota Medan dengan direstui dan disaksikan H.A. Aziz mewakili Gubernur Sumut dan Mayor Hamid dari Koanda Sumatera Utara.

Pada ketika itu jumlah anggota PP sebanyak 40 orang dengan tugas pokok menjaga NKRI, mengawal dan mengamankan Pancasila daan UUD 45 dari rongrongan PKI beserta orang-orang yang ingin mengambil ideologi Negara RI.

Militansi anggota PP Medan sangat menonjol, dan berbeda dengan daerahdaerah lain yang ada di Indonesia. Oleh karenanya, dalam masa satu tahun personil anggotanya telah mencapai ribuan orang. Adapun fungsionaris PP Medan terdiri atas M.Y. Efendi Nasution, Rosiman, Yan Paruhun Lubis, Amran YS, Das Tagor Lubis, M, Saat Gurning Razali, Yansen Hasibuan, Amril YS, dan lain-lain.

Sistem organisasi PP pada awal berdirinya belumlah sebaik sekarang ini. Pelaksana pembentuk organisasi PP tidak hanya oleh pengurus PP saja, melainkan IPKI juga berperan dalam membentuk organisasi kuat di Kota Medan.Hubungan antara organisasi PP de-ngan IPKI pada masa itu sangat rancu. Hal ini terjadi karena belum jelasnya garis koordinasi PP dengan IPKI sebagai induk organisasi, misalnya pada hari dan jam yang sama terjadi dua peristiwa pelantikanpengurusPPditempatyang berbeda.

Pengurus PKI melantik pengurus ranting PP di Pulo Brayan dan Ketua PP Medan Amran YS, melantik pengurus PP di daerah Medan Area.

Figur Pemuda Pancasila
Setelah membentuk PP Kota Medan dengan pimpinan Das Tagor Lubis, maka MY.Efendi Nasution menjadi Ketua Dewan Pimpinan Wilayah PP Sumatera Utara. Adapun susunan pengurus PP wilayah adalah :

Ketua umum               : M.Y. Efendi Nasution
Ketua                          : Daniel Mamora
Ketua                          : Barik
Sekretaris umum         :Yansen Hsb.
Sekretaris                    : Rosiman
Bendahara                  : Klengki A (seorang WNI keturunan Tionghoa)

Perkembangan organisasi PP Sumut dibawah kepemimpinan M.Y. Efendi Nasution sangat pesat. Banyak pemuda yang masuk menjadi anggotanya. Dalam memimpin dan menakhodai PP, beliau sangat tegas sekaligus mengayomi para pemuda untuk berani bertanggung jawab.

Pemuda Pancasila memiliki 3 resep yang populer yang dinamakan tiga-O yaitu: otot, omong, otak. Maksudnya bahwa organisasi PP membutuhkan anggota yang kuat dan berani mengandalkan fisik, pandai berbicara, dan memiliki pemikiran yang pandai dan cerdik.

Orang kuat disegani, pandai omong, tidak mudah diperdaya dan mempunyai otak yang cerdas agar tidak bisa ditipu orang. Untuk mengandalkan kekuatan fisik, para anggota PP bukanlah hal yang sulit. Oleh karena mereka sudah ditempa oleh kekerasan di jalan dan perkelahian bukanlah barang baru bagi mereka.

Namun berbicara  diforumresmidalamkoridororganisasi mereka agak gugup dan gamang. Hal ini bertolak belakang bila mereka berbicara di warung kopi dan di pojok-pojok jalan kota Medan. Sesuai dengan latarbelakang dibentuknya PP untuk mengawal Pancasila dan UU 45 maka tantangan yang dihadapi oleh PP makin beragam, namun hal ini dapat diatasi dengan kekompakan dan saling bersatu diantara sesama anggota.

Motto organisasi PP ialah Sekali Layar Terkembang, Surut Kita Berpantang. Pemakaian yel-yel yang populer selalu terdengar “Pancasila Abadi” yang bagi mereka harus dipertahankan keabsahannya sampai akhir hayat. Organisasi PP mempunyai ikrar yang isinyasamadenganikrarsumpahpemuda: Kami Pemuda Pancasila berikrar:

Bertanah air satu, tanah air Indonesia Berbangsa satu, bangsa Indonesia Berbahasa satu, berbahasa Indonesia Berideologi satu, ideologi Pancasila Adapun motto. Yel-yel, berbaju seragam, satu lagu mars itu keluar setelah organisasi PP mengadakan musyawarah besar PP se-Indonesia di Jakarta.

Masa menjelang lahirnya Orde Baru 1965/1966, peran PP bersama rakyat dan ABRI/AD ikut menumpas PKI secara spontan,karenapanggilankesetiaanuntuk mengawal dan mengamankan Pancasila sebagai ideologi negara. Kebangkitan PP secara spontan dan partisipatif banyak andilnya menumpas PKI di Sumatera Utara.

Setelah penumpasan pemberontakan G 30 S/PKI diselenggarakan Mubes I dan M.Y. Efendi Nasution terpilih sebagai Ketua Umum, dan Sekjen dijabat oleh Drs. Nur Achari. Pada Mubes II 1972 PP memilih Ketua Umum yang baru yakni M.L. Tobing. Namun, dalam masa inipun PP mengalami masa kevakuman, dan pernyataan ini ditulis oleh Bosputra Tobing (1996).

Hal ini berbeda di Sumatera Utara. Pengurus wilayah beserta segenap anggotanya makin membesar dan melebar sayapnya ke berbagai daerah tingkat Kabupaten dan Kota. Setelah memimpin PP Sumut selama 7 tahun maka pada tahun 1967 dalam musyawarah wilayah di Medan, M.Y. Efendi Nasution menyerahkan tampuk pimpinan kepada Amran YS sebagai upaya regenerasi kepemimpinan dalam organisasi PP Sumut.

Gebrakan PP semakin meluas di masyarakat, pemuda, dan pemerintahan. Pemuda Pancasila Sumut sudah mengalami pergantian pimpinan tersebut beberapa periode figur pemuda yaitu Marzuki, Ajib Shab, Donald Sidabalok dan saat ini Sdr. Anwar Shah (Aweng).

Organisasi PP yang terbesar sebagai ormas pemuda memiliki 25 pimpinan cabang sampai sekarang. Saat ini PP Sumut masih dapat mempertahankan citra sejati mereka sebagai organisasi massa yang independen, tanpa memihak atau milik satu golongan, tetapi milik masyarakat banyak.

Penulis adalah budayawan dan anggota Eksponen 66 Sumatera Utara
(dat01)
 

 

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment