|
||||
| Proyeksi kinerja kabinet SBY-Boediono |
| Warta |
RAHMAT ANDIWASPADA ONLINE JAKARTA - Kabinet dua kaki alias burfikasi benar-benar terbukti dalam komposisi Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid II ini. Setidaknya dalam dua hari terkahir audisi para menteri kabinet dua kaki akan dibangun oleh SBY dalam lima tahun mendatang. Bagaimana potret kabinet lima tahun ke depan?Harapan publik kepada presiden terpilih SBY agar membentuk kabinet profesional pupus sudah. Setidaknya dua hari audisi KIB jilid II, harapan tersebut tidak terwujud seiring masuknya kader partai politik yang menduduki pos-pos menteri tertentu. Meski belum secara resmi diumumkan oleh Presiden SBY, berbagai petunjuk dan pernyataan calon menteri menunjukkan posisi yang bakal ditempati. Dalam KIB Jilid II ini setidaknya akomodasi partai politik pendukung koalisi SBY-Boediono diakomodasi secara keseluruhan, termasuk partai politik yang berkabung belakangan seperti Partai Golkar. Posisi paling banyak mendapatkan posisi pos menteri tentunya diraih oleh Partai Demokrat yang diwakili oleh Syarief Hasan (Menkop dan UKM), Andi Mallarangeng (Menegpora), Jerro Wacik (Menbudpar), EE Mangindaan (Menteri Negara Pemberdayaan Aparatur Negara) dan Darwin Zahedi Saleh (Menteri ESDM). Selanjutnya PKS mengirimkan tiga delegasi untuk duduk di posisi menteri yaitu Tifatul Sembiring (Menteri Komunikasi dan Informasi), Salim Jufri al-Segaf (Menteri Sosial), dan Suharna Surnapranata (Menristek). Partai Amanat Nasional (PAN) juga mengirimkan tiga delegasi yaitu Hatta Rajasa (Menko Perekonomian), Patrialis Akbar (Menkum dan HAM), dan Zulkifli Hasan (Menteri Kehutanan). Sementara PKB mengirimkan dua delegasi yaitu Abdul Muhaimin Iskandar (Menaker dan Transmigrasi) dan Helmy Faishal Zaini (Menteri Negara PDT). Hal yang sama PPP yang mengirimkan dua utusan yaitu Suryadharma Ali (Menteri Agama) serta Suharso Monoarfa (Menteri Perumahan Rakyat). Meski datang belakangan, Partai Golkar juga mendapat jatah dua kursi yaitu Agung Laksono (Menko Kesra) dan MS Hidayat (Menteri Perindustrian) Sedikitnya sebanyak 17 pos menteri yang telah diduduki oleh figur dari kalangan partai politik. Pembagian kursi kabinet kepada rekan koalisi SBY-Boediono tentunya melalui pertimbangan dukungan, loyalitas, dan komposisi kekuatan di parlemen. Bedanya dengan KIB I, kalangan parpol saat ini mengisi pos makro ekonomi dan departemen teknis. Seperti Hatta Rajasa mengisi Menko Perekonomian, Darwin Zahedi Saleh (ESDM), dan Tifatul Sembiring (Menkominfo). Menurut pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI) Firmanzah menilai potret kabinet lima tahun ke depan di mana posisi makro ekonomi dipegang oleh menteri dari unsur partai politik menunjukkan komitmen SBY untuk mengamankan lobi-lobi di DPR. “Saya kira SBY bertujuan untuk mengamankan lobi-lobi di DPR. Bertujuan untuk mengurangi friksi dalam rapat anggaran. Saya kira itu psikologi yang SBY rasakan,” ujarnya di Jakarta, malam ini. Terkait akselerasi kabinet yang diisi oleh figur dari partai politik, Firmanzah menilai, hal tersebut telah jauh-jauh hari dipikirkan SBY, buktyinya dengan menggandeng Boediono sebagai wapresnya yang merupakan dari kalangan teknokrat. “Jadi nanti praktiknya, fungsi akselerasi kabinet ada di tangan Wapres, sedangkan untuk kelancaran dan pencairan anggaran, tugas menteri dari parpol,” jelasnya. Sebagaimana diketahui, figur calon menteri dari partai politik merupakan top leader di masing-masing partai. Seperti Tifatul Sembiring (Presiden PKS), A Muhaimin Iskandar (Ketua Umum PKB), Suryadharma Ali (Ketua Umum PPP), Hatta Rajasa (Wakil Ketua Pertimbangan PAN), dan Agung Laksono (Wakil Ketua Umum Partai Golkar). Meski demikian, Firmanzah mengkhawatirkan, dengan komposisi KIB jilid II ini, relasi ekseksutif parlemen cukup bagus, namun implementasi di lapangan secara teknis dan di daerah terjadi kendala. “Saya khawatir di tingkat teknis dan daerah yang memiliki potensi akan terganggu. Karena memang keputusan politik harus diterjemahkan ke adminitasri berupa alokasi dana program hingga sampai ke daerah. Nah, menteri dari parpol kurang mengusai di poin ini,” jelasnya. Apapun pertimbangan SBY-Boediono dalam memilih para menterinya khususnya dari kalangan partai politik, ekspektasi dari publik terhadap pemerintahan SBY-Boediono cukup tinggi. Program 100 hari yang dicanangkan SBY, sepatutnya menjadi langkah awal yang bagus bagi kalangan menterid ari parpol untuk unjuk gigi. Bukan sebaliknya, menyia-nyiakan momentum hingga memelemahkan publik. (dat05/wol-jkt) |




JAKARTA - Kabinet dua kaki alias burfikasi benar-benar terbukti dalam komposisi Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid II ini. Setidaknya dalam dua hari terkahir audisi para menteri kabinet dua kaki akan dibangun oleh SBY dalam lima tahun mendatang. Bagaimana potret kabinet lima tahun ke depan?
Comments
Sekedar untuk mengenal sebelum menjabat.
Profil & Prediksi Calon Kabinet Indonesia Bersatu Jilid 2 SBY-Budiono 2009-2014
Semoga bermanfaat.
mohon maaf jika ada kesalahan penulisan.