Wednesday, 03 October 2007 08:00    PDF Print E-mail
Puasa (Lawak-Lawak) Ramadhan
Opini
Di antara acara yang paling banyak menyita jam tayang TV semenjak Ramadhan menjelang adalah acara lawakan, guyonan, atau komedi, dalam segala bentuk, genre, dan kualitasnya. Bagi saya tidak terlalu jelas asal muasal fenomena ini; yang pasti acara lawakan begitu terasa peningkatan frekuensinya setiap kali Ramadan masuk, setidaknya dalam empat lima tahun belakangan ini. Sepintas, sepertinya setiap stasiun TV merasa berkepentingan untuk menyisihkan satu slot dalam daftar acaranya untuk menu lawakan. Entah karena rating dari acara lawakan begitu tinggi, atau karena acara ini ada kaitan substansial dengan kegiatan puasa Ramadan, tak terlalu jelas sejauh ini. WASPADA Online

Oleh Dr. Hasan  Asari, MA


Di antara acara yang paling banyak menyita jam tayang TV semenjak Ramadhan menjelang adalah acara lawakan, guyonan, atau komedi, dalam segala bentuk, genre, dan kualitasnya. Bagi saya tidak terlalu jelas asal muasal fenomena ini; yang pasti acara lawakan begitu terasa peningkatan frekuensinya setiap kali Ramadan masuk, setidaknya dalam empat lima tahun belakangan ini. Sepintas, sepertinya setiap stasiun TV merasa berkepentingan untuk menyisihkan satu slot dalam daftar acaranya untuk menu lawakan.  Entah karena rating dari acara lawakan begitu tinggi, atau karena acara ini ada kaitan substansial dengan kegiatan puasa Ramadan, tak terlalu jelas sejauh ini.

Puasa dan Lawakan

Dalam hemat saya, substansi puasa dan substansi lawakan tak dapat dipadukan secara baik. Puasa Ramadan menghendaki pengendalian diri secara mutlak, mulai dari yang paling fisikal hingga yang paling spiritual. Puasa Ramadhan mengasumsikan tindak tanduk fisik umat beriman yang terkendali, tertata dan terarah, lebih dari masa-masa di luar bulan suci ini. Puasa Ramadhan pun menghendaki kondisi batin dan keadaan kejiwaan yang lebih tenang, lebih hening, lebih khusyuk, serta lebih fokus jika dibandingkan dengan waktu-waktu di luar bulan berkah ini.

Ringkas kata, pada bulan Ramadhan umat beriman sejatinya mengupayakan keadaan khusus di mana tingkah polahnya, pikirannya, jiwanya, kalbunya, hatinya terkoordinasi sedemikian rupa untuk menutup sementara hasrat-hasrat keduniaan. Hanya dengan cara itu orang dapat berharap terbukanya secara lebih luas saluran-saluran spiritual untuk membangun hubungan lebih mesra dengan dunia ilahiyah. Imam al-Ghazali menggunakan logika ini dalam Ihya' Ulum al-Din. Itulah hakikat dari puasa Ramadhan: mengontrol satu sisi dan menyuburkan sisi lain dari manusia. Lalu, lawakan. Lawakan-lawakan yang biasa kita saksikan di TV-TV memiliki unsur yang relatif sama dan seragam. Lawakan berupaya mengangkat sisi-sisi yang menggelikan dalam kehidupan; lawakan berupaya menonjolkan sisi-sisi kenaifan dari manusia; lawakan berupaya menggarisbawahi ketololan-ketololan manusia; lawakan berupaya menertawakan kesenjangan-kesenjangan budaya dan tradisi manusia; bahkan tak jarang lawakan menertawakan kesusahan dan kepedihan hidup manusia itu sendiri.

Apa pun tema dan bahan yang diangkat, lawakan bermuara pada upaya menonjok 'urat geli' dari pemirsa; dan dalam banyak kasus, sama sekali tak lebih dari itu. Jika sebuah lawakan berhasil maka pemirsa yang mengikutinya akan dibawa hanyut dari alam realitasnya menuju satu alam di mana banyak hal mengalami perubahan tatanan. Banyak hal memalukan dalam kehidupan normal menjadi sekadar bahan tertawaan semata; banyak kebodohan yang seyogyanya disayangkan dan disikapi dengan keprihatinan justru menjadi objek kegelian sahaja. Majlis lawakan pun menjadi riuh, ramai, dan berada dalam kondisi psikologis yang 'kacau balau'. Maka banyak orang yang menangis, bukan karena sedih, tapi justru karena terlalu banyak tertawa. Lalu, relasi tradisional antara kesedihan dan air mata menjadi batal sama sekali. Pendek kata, lawakan dapat membalik dunia: yang atas menjadi bawah, yang bawah menjadi atas.

Penutup
Kembali ke fokus semula. Puasa itu menghendaki keheningan, ketenangan, konsentrasi, dan kekhusukan. Lawakan, sebaliknya, menimbulkan kegaduhan, melalaikan, menjungkirbalikkan fakta kehidupan. Kalau demikian adanya, bagaimana mungkin orang mendampingkan keduanya namun tetap berharap melaksanakan puasa yang sempurna berbasis imanan wa ihtisaban sembari mengharapkan pencapaian maghfirah yang dijanjikan Rasulullah SAW. Dalam kaitan inilah agaknya kita lebih pantas menyesalkan menjamurnya acara lawakan di TV-TV. Harus diakui bahwa acara-acara lawakan begitu menggoda dan mudah untuk dinikmati, terutama karena acara semacam itu dapat melupakan seseorang dari lapar dan haus berpuasa atau dari kantuk menunggu sahur. Tetapi saya tetap sangat khawatir, jangan-jangan karena terlalu banyak menonton acara lawak-lawak puasa yang kita jalani malah berubah pula menjadi puasa lawak-lawak. Na'uzubillah dan Wallahua'lam.

Penulis adalah Ketua el Misyka Circle