Sunday, 23 August 2009 21:00    PDF Print E-mail
Kiat mendidik anak rajin ibadah dan berpuasa
Ragam
WASPADA ONLINE

Anak sholeh (anak yang berkepribadian Islam) adalah impian setiap orang tua. Namun tidak semua orangtua berhasil mendidik anak mereka menjadi anak solih/solihah. Banyak faktor yang mempengaruhi, salah satunya adalah orangtua tidak memiliki kiat mendidik anak yang professional. Mendidik anak sesungguhnya tidak sekedar bertujuan untuk bisa survive di dunia, namun pada saat yang sama anak diproyeksikan agar mereka menjadi generasi yang unggul. Apa itu generasi ungguhl?. Generasi unggul yaitu generasi yang memiliki double intelligence (kecerdasan ganda); cerdas intelektual, emosional, sosial, dan spiritual.

 Dalam rangkaian bulan Ramadhan yang akan tiba beberapa saat lagi, orangtua memiliki tugas yang tidak ringan. Karena selain dituntut menunaikan kewajiban menjalankan puasa dan ibadah lain di bulan ramadhan, juga dituntut agar mendidik anakanak mereka agar menjalankan ibadah puasa sesuai dengan ajaran Islam. Dalam mendidik anak untuk menjalankan puasa ramadhan, beberapa kiat yang bisa dilakukan yaitu: Pertama, memberikan teladan. Orangtua semestinya memberikan
contoh menjalankan puasa.

Sebagaimana kita ketahui, Allah juga memberikan contoh- contoh Nabi atau orang yang bisa kita jadikan suri teladan dalam kehidupan atau peringatan agar kita tidak menirunya, sebagaimana firman- Nya: “Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari Kemudian. Dan barangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah Dia-lah yang Maha kaya lagi Maha Terpuji” (Qs.. Al Mumtahanah [60]: 6). Selain itu,

Nabi Muhammad Saw bersabda “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. Di pihak lain, Nabi Muhammad Saw bersabda “Barang siapa yang memberikan contoh yang baik dalam Islam maka baginya pahala atas perbuatan baiknya dan pahala orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat. Yang demikian itu tidak menghalangi pahala orang-orang yang mengikutinya sedikitpun. Dan barang siapa yang memberikan contoh yang buruk didalam Islam maka baginya dosa atas perbuatannya dan dosa orangorang yang mengikutinya hingga hari kiamat. Yang demikian itu tanpa mengurangi sedikitpun dosa orang-orang yang mengikutinya” (HR Muslim).

Kedua, memberikan arahan yang benar tanpa pemaksaan dan kekerasan; ketiga, mendidik puasa anak dengan menumbuhkan kesadaran bukan menakut-nakuti mereka; keempat, mengajak mereka saur dan buka puasa bersama, agar mereka merasakan nikmatnya puasa; kelima, melakukan pengawasan yang proporsional terhadap anak, agar anak tidak putus puasanya; keenam, mendampingi anak ketika menonton TV, karena beberapa iklan makanan sering menggoda anak ketika bulan ramadhan; ketujuh, menyadarkan anak, agar puasa dijadikan ladang amal untuk bersikap bijak dalam menyikapi segala sesuatu; melatih anak untuk menja i pribadi teguh, sabar, visioner dan penuh dedikasi.

Perspektif Psikologi Dan Sosial Puasa sesungguhnya memiliki dimensi pskologi dan sosial. Dalam perspektif psikologi makna puasa bagi anak terdapat beberapa hal penting; pertama, menumbuhkan jiwa nyaman, dan jiwa yang tenang; kedua, menumbuhkan kepribadian Islami; ketiga, menumbuhkan rasa tanggungjawab sebagai insan dan hamba Allah yang memiliki kewajiban untuk beribadah; keempat, menjadi momentum intropeksi diri untuk menuju hidup lebih bermakna; kelima, menumbuhkan rasa kesederhanaan dalam kehidupan sehari-hari.

Sementara dari perspektif sosial, puasa memiliki makna sebagai berikut: pertama, integritas ramah sosial; puasa dapat menginspirasi dan menumbuhkan kepribadian yang peka terhadap lingkungan sekitar terutama kaum dhu’afa (kaum lemah); kedua, tauhid-sosial; yaitu semangat menjalankan ibadah yang kuat tanpa meninggalkan perhatiannya dengan orang-orang fakir, miskin, dan anak terlantar; ketiga, transformasi; membentuk pribadi yang menginginkan adanya perubahan sosial menuju masyarakat madani.

Karena, dengan puasa ikut merasakan betapa orang yang berkekurangan menahan lapar dan dahaga. Kesalahan Orang Tua Tanpa didasari ternyata orang tua juga melakukan kesalahan terhadap anak. Bentuk kesalahan yang sering dilakukan oleh orang tua dalam mendidik anak-anaknya agar menjalankan ibadah puasa: Menumbuhkan rasa takut dan minder pada anak. Mendidiknya cara keras, protektif dan kaku. Tidak melakukan pengawasan terhadap anak secara proporsional. Tidak mendampingi anak yang sedang berpuasa ketika melihat TV, padahal beberapa iklan cenderung menggoda anak membatalkan puasanya. Tidak menggunakan pendekatan penyadaran, tetapi menggunakan pendekatan yang doktrinal.

Comments

avatar Abdarhas
0
 
 
Saya sangat setuju dengan tulisan diatas untuk membentuk manusia seutuhnya.
Anak anak yang menjadi penerus bangsa menjadi pemimpin yang adil (Imamun Adil)
B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by Joomla Professional Solutions
Submit Comment
Cancel
avatar wiwi
0
 
 
saya stuju, betulbetul.....
B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by Joomla Professional Solutions
Submit Comment
Cancel
B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment