Wednesday, 23 October 2013 21:33    PDF Print E-mail
SMS SBY: Anas jahat sekali
Warta

WASPADA ONLINE

JAKARTA - Ormas Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI) bentukan Anas Urbaningrum bereaksi keras terhadap pesan singkat (SMS) yang diduga dikirim oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kepada petinggi Partai Demokrat. Menurut PPI, isi SMS SBY itu mengejutkan.

Seperti apa isi SMS tersebut? Berikut dua poin isi SMS dari SBY seperti dikemukakan Pengurus Pusat PPI, Ma'mun Murod Al-Barbasy di Jakarta, hari ini.

join_facebookjoin_twitter

"4. Jahat sekali. Luar biasa. Sebenarnya saya tidak ingin melihat ke belakang. Tetapi, pihak Anas terus-menerus menyerang & menghantam saya & Partai Demokrat. Setelah hampir 3 tahun saya mengalah & diam, saatnya utk saya hadapi tindakan yang telah melampaui batasnya itu.

Partai Demokrat atas kerja keras kita baru saja mulai bangkit. Karena perilaku sejumlah kader, termasuk Anas, partai kita sempat melorot tajam & hancur.

Kalau gerakan penghancuran Partai Demokrat & SBY terus mereka lancarkan, para kader seluruh Indonesia akan sangat dirugikan. Sebagai unsur pimpinan Partai kita harus menyelamatkan partai kita, termasuk nasib & masa depan jutaan kader & anggota PD di seluruh Indonesia.

5. Jika terbukti Pasek (yg masih anggota DPR dari FPD) menyebarkan berita bohong yang mencemarkan nama baik BIN, dan secara tidak langsung nama baik presiden, saya kira dewan kehormatan harus mengambil sikap."

Sebelumnya, Anas Urbaningrum menuturkan, pergerakan tidak boleh dibuat sekadar untuk melawan seseorang. Begitu pula Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI) yang dibentuk sebagai penegasan sikap hidup, budaya, dan cara pandang.

"Terus terang PPI punya sikap budaya, yaitu mendukung budaya meritokrasi menjadi inti proses perekrutan di Indonesia, di semua bidang. PPI didirikan bukan untuk melawan seseorang," ujar inisiator PPI, Anas Urbaningrum, dalam diskusi bertajuk "Dinasti Versus Meritokrasi Politik" di kantor PPI, Duren Sawit, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Alasan PPI mendukung budaya meritokrasi, lanjut Anas, karena budaya perekrutan berbasis meritokrasi ini sejalan dengan tatanan demokrasi.

"Kalau kita mau bangun demokrasi, meritokrasi adalah salah satu intinya. Kalau tidak, nanti bisa berubah jadi familikrasi, dinasti dan keluarga," lanjutnya.

"Meritokrasi ini adalah keinginan bersama untuk membangun demokrasi yang maju," tegas mantan Ketua Umum Partai Demokrat tersebut.
(dat03/republika/rmol)



WARTA KARTUN

 

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment