Tuesday, 24 September 2013 08:09    PDF Print E-mail
Dulu tak ada konflik agama di Banda Aceh
Warta
HENDRO KOTO
WASPADA ONLINE


BANDA ACEH - Ketua Yayasan Hakka Banda Aceh, Akhi mengatakan, konflik antar agama di wilayah ini terjadi hanya dalam beberapa tahun terakhir, sementara sejak dulu hal tersebut tidak pernah terjadi.

"Saya lahir dan besar di Banda Aceh, dan saat ini umur saya sudah hampir mencapai 45 tahun, dan semenjak dahulu kami tidak pernah melihat dan mendapatkan terjadinya konflik agama disini," katanya kepada Waspada Online, kemarin.

Menurutnya, ia tidak mengetahui mengapa saat ini warga Aceh dan Banda Aceh sangat mudah tersulut dengan isu-isu yang berbau agama, dan tentu hal ini ada pihak yang bermain. "Kami menilai ada pihak-pihak yang mengobok-obok toleransi dan kehidupan bergama di Banda Aceh," ujarnya.

Ia menceritakan, pada masa dulu hal-hal terkait dengan kehidupan beragama selalu di kedepankan dialog dalam penyelesaiannya. "Masyarakat Banda Aceh itu sangat mengharga perbedaan, dan selalu mengedepankan dialog dalam penyelesaian masalah," sebutnya.

Namun saat ini, tambah Akhi, hal tersebut sudah tidak terjadi lagi, akibatnya masing-masing agama saling mencurigai. "Ketika dihadapkan pada persoalan agama, di saat pemerintah belum mengambil sikap, masyarakat sudah terlebih dahulu menghakimi," ungkapnya.

Jangankan antar pemeluk agama, sambung Akhi, antara sesama pemeluk agama saja sudah saling bakar dan saling membunuh di Aceh saat ini.

"Tentu hal-hal seperti ini harus menjadi introspeksi kita bersama," tuturnya.

Ia menjelaskan, terkait dengan persoalan pendirian rumah ibadah, di Aceh masih ada kekhawatiran dan ketakutan pihak-pihak tertentu bahwa hal tersebut akan menyebabkan berkembangnya suatu agama tertentu. "Saya kira hal itu kekhawatiran berlebihan," sebutnya.

Di Banda Aceh sendiri, tukasnya, persoalan pendirian rumah ibadah juga masih menjadi problem tersendiri, Pemerintah Kota berpegang pada aturan yang benar, yakni SKB dua menteri, dan Peraturan Gubernur Aceh tentang tata cara pendirian rumah ibadah.

"Saat ini kami kaum minoritas sangat sulit mendirikan rumah ibadah di Banda Aceh, namun tentu hal tersebut dikarenakan pemerintah berpijak pada aturan yang benar, walau kita masih berharap hal tersebut dapat dibangun dialog," tandasnya.

Editor: SASTROY BANGUN
(dat16/wol)

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment