Tuesday, 20 August 2013 07:16    PDF Print E-mail
Penembakan polisi bukan teroris, kata IPW
Warta
WASPADA ONLINE

JAKARTA - Meningkatnya jumlah kasus kekerasan yang terjadi terhadap polisi sangat memprihatinkan. Kekerasan ini menjadi tanda bahwa tingkat kebencian masyarakat terhadap polisi meningkat.

"Jadi kita, IPW sangat prihatin terhadap kasus kekerasan terhadap polisi. Tadi malam kami mendapat informasi satu polisi lagi dikeroyok polantas di BKT (banjir kanal Timur)," kata Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane, di gedung KPK, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, tadi malam.

Neta mengatakan bahwa dari penembakan dan kekerasan yang terjadi terhadap polisi mengindikasikan bahwa itu bukanlah aksi teroris melainkan hasil kriminal yang dilakukan oleh penjahat jalanan. Indikasi-indikasi tersebut adalah penembakan yang dilakukan dari belakang korban dan dalam jarak dekat. Yang mana penembakan dalam jarak dekat hanya dapat dilakukan dengan senjata rakitan.

Nete menjelaskan bahwa polisi itu ditembak dari belakang, kemudian dilakukan dari jarak dekat. Penembakan jarak dekat itu hanya dilakukan dengan senjata rakitan. Sementara yang memegang senjata rakitan di Jakarta adalah para kriminal jalanan yang biasa melakukan perampokan di minimarket dan pompa bensin.

"Sedangkan teroris selalu menembak dari depan, kasus kasus di Medan, Poso, di Solo, itu teroris menembak polisi dari depan jarak jauh. Itu menunjukkan senjata mereka senjata organik dan senjata original bukan senjata rakitan," jelas Neta Pane.

Berdasarkan dari beberapa indikasi tersebut, Neta Pane pun bisa memastikan bahwa ini kriminalitas penjahat jalanan dan bukan aksi teroris. Ia pun menyayangkan pihak polisi yang terlihat terburu-buru dalam memutuskan bahwa kasus-kasus penembakan dan kekerasan terhadap polisi ini sebagai kasus terorisme.
(dat16/rmol)

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment