Tuesday, 02 July 2013 22:53    PDF Print E-mail
BLSM salah sasaran
Warta
WASPADA ONLINE

JAKARTA - Banyaknya ditemukan kasus salah sasaran dalam penyaluran dana bantuan langsung sementara masyarakat (BLSM) disebabkan oleh lemahnya data yang dimiliki oleh pemerintah.

Menurut ekonom Dahnil Anzar Simanjuntak, sebenarnya hal tersebut tidak mengejutkan. Karena selama ini kebijakan ekonomi seringkali mengalami deviasi alias penyimpangan serta gagal memberikan dampak yang efektif karena data ekonomi yang tidak valid dan benar.

join_facebookjoin_twitter

Bahkan tidak jarang data ekonomi berhenti menjadi justifikasi politik seperti data kemiskinan, pengagguran, pertumbuhan ekonomi dan sebagainya, dan abai substansi kebermamfaatan data ekonomi bagi kebijakan ekonomi.

"Data menjadi masalah krusial di Indonesia," jelas Dahnil kepada wartawan, hari ini.

Maka, untuk menghindarkan terus terulangnya kebijakan ekonomi yang tidak efektif, perlu didorong kebijakan revitalisasi kualitas data ekonomi di Indonesia.

"BPS harus menjadi sumber utama tunggal data di Indonesia, sehingga tidak ada data versi-versi kementerian dan lembaga pemerintah lainnya, yang seringkali punya vested interest bagi ukuran kinerja lembaganya, sambil tentunya memperbaiki kinerja BPS," imbuh pengajar di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang, Banten ini.

Sebelumnya, Menko Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono mengakui masih terdapat permasalahan dalam penyaluran dana BLSM sebagai kompensasi dinaikannya harga jual eceran BBM. Karena memang, masih terdapat pemberian bantuan bagi warga mampu dan menjadi salah satu permasalahan yang kerap terjadi.

Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai penyaluran Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) tidak tepat sasaran sebagai hal yang wajar. Menurut dia, ini karena data yang digunakan sebagai dasar penyaluran dan kompensasi kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bukan data baru.

"Di antara 15 juta pasti ada satu atau sekitar 1 persen itu orangnya sudah berubah. Kan datanya bukan data baru, data tahun lalu," ujar Kalla di Hotel Grand Sahid, Jakarta, hari ini.

Kalla justru menganggap baik jika terjadi kekeliruan dalam data yang digunakan untuk BLSM. "Kita harusnya bersyukur kalau ada data yang keliru. Artinya, dulu dia miskin, sekarang dia sudah tidak miskin, bagus itu," kata dia.

Selanjutnya, Kalla meminta penyaluran yang tidak tepat sasaran tidak lagi dipersoalkan. Dia yakin benar, meskipun ada kekeliruan, penerima BLSM bukan orang yang tergolong kaya.

"Sejelek-jeleknya yang salah data, dia tidak terlalu kaya. Kalau cuma 1,5 persen tidak usah dipersoalkan lah. Itu juga pasti orang yang tidak mampu benar yang menerima." pungkas Kalla.
(dat06/merdeka/rmol)




WARTA KARTUN

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment