Thursday, 23 May 2013 23:18    PDF Print E-mail
Penghargaan SBY hanya pencitraan
Warta
WASPADA ONLINE

JAKARTA - Penghargaan negarawan 2013 Appeal of Conscience Foundation (ACF) untuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, tak lebih dari sekadar pencitraan. Kenyataan bahwa pelanggaran HAM masih marak di era SBY tak bisa dibantah.

Menurut Ketua Wahid Institute, Anisa Wahid, SBY sebagai presiden tidak memiliki kepedulian terhadap kasus-kasus pelanggaran HAM. Khususnya kekerasan yang mengatasnamakan agama yang semakin marak terjadi.

join_facebookjoin_twitter

"Mari buka ingatan kita. Apakah Presiden SBY pernah mengunjungi korban kekerasan yang mengatasnamakan agama. Untuk berbagai pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia, pemerintah kesannya mendiamkan. Jadi, dimana negarawan dari presiden. Sehingga layak mendapat penghargaan tersebut," ungkapnya dalam jumpa pers Koalisi Masyarakat Sipil untuk Kebebasan Beragama Berkeyakinan kepada wartawan, di Jakarta, hari ini.

Walhasil, lanjut puteri mendiang Abdurrahman Wahid itu, penghargaan ACF tak lebih dari pencitraan untuk SBY. Tak tertutup kemungkinan, apalagi tersiar kabar bahwa SBY berkeinginan menjadi sekjen PBB setelah pensiun sebagai presiden.

"Akhirnya, penghargaan itu hanya akan menjadi alat pencitraan saja. Tanpa ada wujudnya. Ini sungguh menambah sakit hati para korban kekejahatan HAM," tandasnya.

Pengacara kondang yang dikenal juga sebagai aktivis HAM, Todung Mulya Lubis mempertanyakan penilaian ACF yang memilih Presiden SBY berhak atas penghargaan World Statement Award.

"Kami pertanyakan riset ACF. Selama SBY berkuasa, pelanggaran HAM banyak terjadi. Khususnya kejahatan HAM yang mengatasnamakan agama. Mulai kasus kekerasan di Sampang (Madura), GKI Yasmin Bogor, HKBP Bekasi, Ahmadiyah di beberapa kota. Apakah ini prestasi," tegas Todung.

Kemudian dikatakan oleh advokat senior Adnan Buyung Nasution turut mendukung penolakan pemberian World Statesman Award atas upaya memajukan kekebasan beragama dan mencegah konflik antar umat beragama oleh Appeal of Conscience Foundation (ACF) pada akhir Mei mendatang kepada Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Adnan menjelaskan, ada baiknya penghargaan itu tidak diterima SBY. Sebab, penghargaan ini dianggap Adnan sebagai jebakan untuk menjatuhkan citra SBY di depan rakyatnya sendiri.

"Ya, ini jebakan, menjatuhkan nama dia di mata rakyat," kata Adnan usai jumpa pers bersama Koalisi Masyarakat Sipil untuk Kebebasan Beragama/Berkeyakinan (KBB) dan Solidaritas Korban Pelanggaran Kebebasan Beragama/Berkeyakinan (Sobat KBB), di Hotel Atlet Century, Jakarta, hari ini.

Alasan ini dilontarkan Adnan lantaran masih banyak rakyat yang mengalami penderitaan, penyiksaan, penghinaan dan diskriminasi baik kepada kelompok agama, kesukuan ataupun minoritas. "Justru tiba-tiba kepala negara, kepala pemerintahannya, Presidennya, SBY diberikan award, yang menyangkut hati nurani kita semua," katanya.

Lanjut Adnan, jika SBY menerima penghargaan itu, sama saja tidak memiliki kejernihan nurani. Seharusnya, tambah Adnan, SBY merasa kalau dirinya tidak pantas dan tidak elok untuk menerima hadiah tersebut dan melakukan penolakan penghargaan tersebut. "Dia akan lebih dihargai dan lebih mulia ketimbang dia datang ke sana dan menerimanya," sindirnya.

Adnan menambahkan, mudah-mudahan dengan adanya petisi penolakan yang dilakukan ini, rencana SBY terbang ke Amerika Serikat (AS) untuk menerima penghargaan ini batal.

"Mudah-mudahan dengan adanya acara ini dia bisa dengar dan terbuka tergerak hatinya, bahwa banyak rakyatnya yang tidak setuju dia berbuat begitu, menerima hadiah itu," tambahnya.
(dat03/inilah/bbs)

WARTA KARTUN

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment