Wednesday, 22 May 2013 22:10    PDF Print E-mail
NKRI terancam dimangsa bangsa lain
Warta
RIDIN
WASPADA ONLINE


MEDAN - Gubernur Sumatera Utara (Gubsu), Gatot Pujo Nugroho mengingatkan keberadaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) harus dipertahankan oleh bangsa ini sendiri jika tidak akan dimangsa bangsa lain.

"Di era kesejagatan atau globalisasi bangsa yang kuat jatidirinya yang akan kuat dan besar. Kalau NKRI lemah dan kita tidak perduli, siap-siaplah kita dijadikan pecundang oleh negara lain," tegasnya melalui Kepala Badan Kesbangpol Linmas Sumut  Eddy Syofian, hari ini.

Berbicara pada Seminar Peran Nilai Budaya dalam Menyegarkan 4 Pilar Kebangsaan Refleksi Harkitnas di Fakultas Budaya USU Medan, Eddy atas nama Gubsu mengingatkan bersatulah, sebab dengan rasa persatuan dan kesatuan akan mampu menanggulangi segala permasalahan yang mengancam keutuhan NKRI.

Pembicara lainnya pakar ilmu politik Fisip USU, Rosmery juga memperkuat hal ini bahkan mengingatkan pemimpin formal maupun informal yang tidak menggambarkan 4 pilar dan NKRI dalam berkiprah termasuk dalam menjaga aset dan kekayaan negara harus diwaspadai karena hal ini indikasi pemimpin 'sontoloyo'.

"Jangan pilih orang-orang sontoloyo," tegasnya disambut tepuk tangan para mahasiswa dan peserta seminar yang dibuka Dekan Fakultas Ilmu Budaya USU. Juga tampil pemakalah   Budi Agustono,  Muhammad Takari  dan moderator   Edi Sumarno.

Lebih lanjut Eddy memaparkan keberadaan NKRI sudah menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar lagi oleh masyarakat Indonesia dan harus dipertahankan hingga tetes darah penghabisan.

 Ditambahkannya, kehancuran suatu negara itu berawal bukan dari orang luar, namun dilakukan oleh masyarakat bangsa itu sendiri.

 Sebab lanjutnya adanya perpecahan dan konflik SARA dapat meretakkan rasa persatuan dan kesatuan yang selama ini telah terjalin erat.

 “Karena itu, hendaknya kita harus mampu untuk menjaga kesatuan dan persatuan yang ada, sehingga tidak memecah belah kesatuan dan persatuan Indonesia,” katanya.

Dilanjutkan, globalisasi saat ini karena adanya persaingan antar bangsa, hal ini dapat dijalankan di negara yang telah mapan, atau istilahnya persaingan antara yang kuat dan yang lemah, negara yang kuat akan seenaknya menjajah negara yang lemah, dan negara lemah ini pasti kalah dan menjadi pencundang.

Sementara  Budi Agustono dan Muhammad Takari menitik beratkan pada pluralisme dan ke Bhinneka Tunggal Ika, dimana keragaman suku bangsa yang ada hendaknya mampu menjadi pemersatu bangsa, bukan keragaman dijadikan alat pemecah bangsa, sehingga akan mampu menjaga kesatuan dan persatuan Indonesia.

Dimana rasa persatuan dan kesatuan ini telah terbina sejak tahun 1928, pemuda yang berasal dari berbagai daerah telah bersumpah untuk satu tanah air, satu bahasa, bertanah air satu tanah air Indonesia.

”Sumpah pemuda adalah tonggak dalam menciptakan rasa kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia, dimana pada saat itu para pemuda meninggalkan kesukuannya, untuk membentuk kesatuan dalam melawan penjajahan,” pungkas Budi Agustono.

Di akhir seminar moderator memberi catatan dari semua narasumber tergambar Kalau kita lemah atau NKRI lemah maka kita akan dipecundangi bangsa lain karena hakekatnya otorita power suatu bangsa adalah kekuatan negaranya.

Editor: SASTROY BANGUN
(dat16/wol)

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment