Monday, 20 May 2013 23:06    PDF Print E-mail
Penghargaan bagi SBY bersifat semu
Warta

WASPADA ONLINE

JAKARTA - Ketua DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Bara Hasibuan menyatakan pihak Istana dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) harus mendengar dan tidak perlu bersikap defensif terhadap kritikan soal penghargaan 'World Statesman Award' yang akan diterimanya dari the Appeal of Conscience Foundation (ACF) atas upaya perdamaian dan penanganan konflik sosial di Indonesia.

Kenyataannya, intoleransi dan kekerasan terhadap berbagai kelompok mengalami peningkatan intensitas selama pemerintahan SBY.

join_facebookjoin_twitter

Jadi sebaiknya bagi Presiden, kata Bara, the World Statesman Award ini harus dimaknai sebagai tanggung jawab untuk menunjukkan kepemimpinan yang tegas dan langsung soal intoleransi dan kekerasan agama.

Manifestasi dari perbaikan kepemimpinan itu adalah penegasan langsung dari Presiden bahwa pemerintah tidak akan mentolerir segala tindakan kekerasan atas kelompok apapun. Dan tentu saja pernyataan tersebut harus diperkuat dengan aksi nyata dalam memberikan proteksi terhadap hak-hak dan kehidupan setiap golongan,

Bara mengingatkan intoleransi dan kekerasan terhadap berbagai kelompok di Indonesia berpotensi menodai legacy (warisan) dan record pemerintahan SBY, PAN berada di dalamnya.

"Seharusnya legacy pemerintahan Yudhoyono bukan hanya soal kemajuan ekonomi, tetapi juga penguatan konsolidasi demokrasi di Indonesia," kata Ketua DPP PAN bidang Hubungan Luar Negeri ini dalam keterangan persnya kepada wartawan di Jakarta, hari ini.

Bara mengatakan, kalau pada akhir pemerintahan Yudhoyono terdapat berbagai keberhasilan dibidang ekonomi akibat pertumbuhan yang signifikan, tapi intoleransi dan kekerasan terus terjadi, maka keberhasilan itu bersifat semu.

"Kita menginginkan Indonesia yang bukan hanya kuat secara ekonomi, tapi juga yang demokrasinya matang, dimana hak-hak setiap golongan dilindungi," jelasnya.

Salah satu prasyarat demokrasi, lanjut Bara, adalah dilindunginya hak-hak dasar setiap golongan. Prinsip ini sejalan dengan konstitusi dan karakteristik bangsa kita yang majemuk. "Kemajemukan harusnya menjadi kekuatan bangsa, bukan justru menjadi sumber kelemahan," ucapnya.

Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat, Dino Patti Djalal, menyatakan, penghargaan World Statesman Award kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bukanlah sesuatu yang luar biasa. "Saya tidak melihat penghargaan ini sebagai suatu yang terlalu luar biasa atau mengagetkan," kata Dino dalam keterangan tertulis, hari ini.

Penghargaan World Statesman Award dianugerahkan oleh Appeal for Conscience Foundation (ACF), suatu yayasan antar-agama di Amerika Serikat. Rencananya, Presiden SBY akan menerima penghargaan itu pada akhir bulan ini.

Ketidakistimewaan penghargaan itu, menurut Dino, karena ini merupakan kesekian kalinya Presiden SBY menerima penghargaan internasional. Sebelumnya, Presiden SBY pernah memperoleh penghargaan dari UNEP, ILO, World Movement for Democracy, US-ASEAN Business Council, WWF/WRI/TNC, dan lainnya. "Meskipun demikian, ini tetap menjadi suatu kehormatan," katanya.

Dino menambahkan, penghargaan World Statesman Award dari ACF menjadi kredit untuk bangsa Indonesia. Alasannya, dalam satu dekade terakhir, profil Indonesia di dunia internasional sudah jauh berubah.

Reputasi Indonesia dulu sebagai negara terpuruk--kata Tom Friedman: messy state--telah berubah menjadi negara yang disegani: sebagai anggota G-20; major democracy, emerging economy, pivotal state, next Asian giant, environmental power; dan lain sebagainya. "Jangan sampai kita seperti bangsa yang bingung, terpuruk, marah, sukses, kesal," ujar Dino.

Sebelumnya diberitakan, Romo Franz Magnis Suseno menyampaikan protes atas rencana pemberian penghargaan negarawan dunia 2013 atau "World Statesman Award" kepada Presiden SBY. Direktur Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara itu keberatan jika Presiden SBY disebut berjasa memajukan toleransi. Sebab, nyatanya, menurut dia, hampir 10 tahun toleransi keagamaan di Indonesia berkurang.
(dat03/inilah/tempo)

WARTA KARTUN

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment