Friday, 17 May 2013 23:19    PDF Print E-mail
Reformasi lahirkan pemimpin busuk
Warta
WASPADA ONLINE

JAKARTA - Kondisi negara pasca reformasi semakin terpuruk; rakyat semakin menderita. Padahal, reformasi diharapkan merubah kondisi Indonesia menjadi lebih baik begitu rezim Orde Baru ditumbangkan oleh gerakan mahasiswa 1998.

Begitu tak membuahkan hasil, elit atau tokoh pendukung gerakan mahasiswa disindir. Seperti dikatakan mantan Menteri Keuangan Fuad Bawazier kalau dirinya yang sejak awal mendukung reformasi menerima jawaban tak enak dari hasil reformasi sekarang ini dari berbagai kelompok masyarakat.

join_facebookjoin_twitter

"Selama 15 tahun perjalanan reformasi apa yang diperjuangkan tak terwujud. Kami yang mendukung gerakan mahasiswa menuai banyak sindiran seperti reformasi kok repot mencari nasi," kata Fuad Bawazier pada diskusi bertema "Daerah setelah 15 Tahun Reformasi" di gedung DPD, Senayan, Jakarta, hari ini.

Fuad mengakui kalau masyarakat luas kecewa dengan hasil reformasi yang tidak meningkatkan kesejahteraan rakyat. Justru yang terjadi rakyat yang miskin makin miskin dan yang kaya semakin kaya. Artinya terjadi kesenjangan sosial yang luar biasa.

"Justru yang ditekankan sekarang adalah membangun demokrasi dan HAM secara berlebihan dan pada akhirnya agenda mensejahterakan rakyat tak diperhatikan oleh pemerintah," tegas Fuad.

Dia pun bisa memaklumi kalau rakyat saat ini tengah merindukan kalau Indonesia kembali ke masa Orde Baru. Masyarakat merasa ketika Orde Baru berkuasa merasa nyaman dan tak sulit mencari uang.

"Buktinya selebaran soal kerinduan terhadap rezim Orde Baru yang dijual di jalanan laku keras. Ini jadi bukti kalau masyarakat kita merasa enak dan nyaman di jaman Orde Baru berkuasa," katanya.

Rakyat ketika reformasi diperjuangkan berharap kondisi mereka menjadi lebih baik. "Tapi justru pemimpin yang didapat tak sesuai harapan dan lebih busuk," demikian Fuad yang kini ketua DPP Partai Hanura.

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) prihatin memandang realitas di depan mata selama 15 tahun reformasi berjalan. Reformasi yang sudah diperjuangkan mahasiswa sampai berjatuhan korban jiwa malah kini jauh dari harapan awal. Realisasi kesejahteraan rakyat di daerah masih menjadi pertanyaan besar.

Hal itu dikatakan anggota DPD asal Sulawesi Utara, Marhany Victor Poly Pua, pada diskusi yang sama, hari ini. "Tidak ada perubahan terhadap daerah. Rakyat daerah malah tidak sejahtera," kata Marhany.

Dia menjelaskan, setelah reformasi APBD meningkat. Meningkatnya anggaran daerah diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat daerah. "Masih banyak daerah tertinggal. Artinya, reformasi masih menyimpan persoalan di daerah yang belum diselesaikan dengan baik," ucap Marhany.

Infrastruktur di daerah, misalnya, masih belum tersentuh pengembangan. Diserukannya, perlu evaluasi secara total dan merancang kembali agenda serius, khususnya tentang bagaimana rakyat di semua daerah bisa disejahterakan. "Hasil reformasi justru kondisi negara makin kacau," tegas Marhany.
(dat06/rmol)




WARTA KARTUN

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment