Thursday, 09 May 2013 08:20    PDF Print E-mail
Penghargaan asing SBY panen kritik
Warta
WASPADA ONLINE

JAKARTA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akan menerima penghargaan World Statesman Award dari Appeal of Conscience Foundation, sebuah organisasi yang mempromosikan perdamaian, demokrasi, toleransi, dan dialog antar kepercayaan. Rencananya, anugerah itu akan diberikan 30 Mei mendatang di New York, Amerika Serikat.

Pemberian anugerah ini tentu positif bagi Presiden SBY, menambah deretan penghargaan dunia internasional yang diterimanya. Barangkali, di antara Presiden RI era reformasi, SBY-lah yang paling banyak menerima gelar atau penghargaan.

join_facebookjoin_twitter

Selama 9 tahun menjabat presiden, SBY sudah memperoleh 7 gelar Doktor Honoris Causa. Presiden Soeharto yang menjabat 30 tahun sering ditawari, tetapi tidak bersedia menerima penghargaan DR HC.

Namun apa arti gelar dan penghargaan tersebut bagi rakyat Indonesia? Sebab, bagi pemimpin negara, yang terpenting adalah apa yang dicapai dan apa diwariskan bagi rakyat, 'legacy'.

"Bukan jumlah gelar atau penghargaan luar negeri yang diterimanya. Mikhail Gorbachev terima Hadiah Nobel dan banyak penghargaan dunia, namun tak dihargai rakyat di dalam negeri, bahkan Uni Soviet mengalami disintegrasi," kata Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra, Fadli Zon, melalui rilis yang diterima, Jakarta, tadi malam.

Anugerah World Statesman Award tersebut diberikan bagi mereka yang berhasil membangun perdamaian, demokrasi dan toleransi. "Tapi jika kita lihat di masa kini, tingkat konflik yang melibatkan kelompok etnis dan keagamaan justru makin meningkat," tegasnya.

Menurutnya, bagi seorang pemimpin negara, yang utama harus didapat adalah penghargaan dari rakyat. Penghargaan yang muncul secara tulus dari rakyat atas keberhasilan menciptakan kebahagiaan, kesejahteraan, kemerdekaan dan perdamaian. "Jangan sampai, dunia internasional memberikan penghargaan namun rakyat sendiri justru menilai sebaliknya," ucap Fadli.

Sebagaimana dikabarkan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akan dianugerahi 'World Statesman Award' oleh Appeal of Conscience Foundation (ACF). Rencananya, penghargaan itu akan diserahkan di sela-sela kunjungan kerja Presiden ke New York, Amerika Serikat pada akhir Mei ini.

Penganugerahan tersebut sempat mendapat protes dari sejumlah aktivis dengan berunjuk rasa di depan Kedutaan Besar AS di Jakarta,Senin (6/5). Mereka menolak pemberian anugerah tersebut karena dinilai masih banyak kasus intoleransi beragama yang belum terselesaikan.

Jubir Presiden Julian Aldrin Pasha menilai protes tersebut tidak berdasar. Sebab Presiden SBY sudah berupaya dan menginstruksikan dengan segera jajarannya dalam menghadapi kasus-kasus intoleransi yang ada selama ini.

"Begini, itu tidak bisa kita generalisir semua harus case by case, Ahmadiyah jadi sorotan publik tentu itu kita kembalikan pada apa yang kita lakukan pada tahun 2008 ada SKB tiga menteri kalau itu dilaksanakan enam diktum yang dilaksanakan dalam SKB tiga menteri tentu hal-hal itu tidak terjadi tapi peristiwa terus berubah dan pemerintah akan melihat kembali apa yang akan dilakukan," jelas Julian di Kantor Presiden, Jakarta, kemarin.

Julian mengatakan Appeal of Conscience Foundation (ACF) adalah sebuah organisasi yang kredibel dalam memberikan penghargaan kepada pemimpin sejumlah negara. Julian memastikan SBY akan hadir dan menerima penghargaan tersebut.

"Ya tentu itu bentuk apresiasi dan penghargaan based penilaian orang independen yang sebelumnya PM Kanada dan lain-lain juga menerima awards yang sama dan tahun ini direncanakan November. Namun karena tahun ini, Mei, Bapak Presiden akan hadir di NY untuk penyerahan HLP maka akan disesuaikan," paparnya.

Untuk diketahui, AFC adalah organisasi yang mempromosikan perdamaian, demokrasi, toleransi, dan dialog antarkepercayaan yang berbasis di New York, Amerika Serikat. Organisasi itu mulai menganugerahkan penghargaan tahunan pada 1997. Beberapa pimpinan negara mendapatkan penghargaan ini, di antaranya PM Inggris kala itu, Gordon Brown pada (2009), Presiden Perancis kala itu Nicolas Zarkozy (2008). Pada 2012, penghargaan ini dinaugerahkan kepada Perdana Menteri Kanada Stephen Harper.
(dat16/inilah/bbs)




WARTA KARTUN

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment

Warta Terkait: