Saturday, 27 April 2013 23:03    PDF Print E-mail
Isu kenaikan BBM pencitraan SBY
Ekonomi & Bisnis
WASPADA ONLINE

JAKARTA - Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi mengatakan wacana kebijakan perubahan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang diangkat pemerintah tidak lebih seperti permainan yoyo saja.

"Pemerintah seperti bermain yoyo saja," kata Tulus dalam diskusi yang bertajuk "BBM Harga Ganda" di Warung Daun, Cikini, hari ini.

Tulus menilai harga BBM naik akibat sikap pemerintah yang tidak pernah tegas mengatasi masalah ini. Dia juga menambahkan kalau isu kenaikan harga BBM cenderung dijadikan sebagai komoditas politik untuk menaikkan citra Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) semata.
 
join_facebookjoin_twitter

"Mengapa harus mendaur ulang wacana double price ini? Ini menunjukkan bahwa Presiden kita tidak produktif," katanya mengakhiri.

Diketahui, para pengusaha yang tergabung dalam Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) menolak rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak dengan dua harga berbeda alias dual price.

"Kami tidak setuju dengan dual price," kata Wakil Sekretaris DPD III Hiswana Migas, Syarief Hidayat dalam diskusi yang sama, hari ini.

Kebijakan dua harga, kata Syarief menilai, akan merepotkan pengelola Stasiun Pegisian Bahan Bakar Umum (SPBU).
"Lebih mudah bagi kami untuk menghitung dengan satu harga," lanjutnya.

Selain itu, katanya, kebijakan tersebut berpotensi memicu gejolak sosial alias kerusuhan. Oleh karena itu, sebaiknya pemerintah hanya menetapkan satu harga saja. "(Ini) supaya menghindari konflik di lapangan," demikian Syarief.

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) meminta agar pemerintah memiliki nyali politik untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dengan harga tunggal.

Saat ini, pemerintah berencana menaikkan harga BBM bersubsidi dengan dua harga. Harga BBM untuk mobil pribadi akan lebih mahal dibanding harga BBM untuk kendaraan roda dua dan angkutan umum. PT Pertamina (Persero) membagi stasiun pengisian bahan bakar umum menjadi empat jenis untuk melaksanakan kebijakan kenaikan harga BBM bersubsidi bagi mobil pribadi.

"Kalau punya nyali politik, pemerintah harus berani menaikkan harga BBM dengan harga tunggal," kata Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi pada acara tersebut.

Tulus menganggap bahwa pemerintah saat ini belum berani menaikkan harga BBM dengan harga tunggal. Padahal, di era pemerintahan sebelumnya, pemerintah berani menaikkan harga BBM sebesar Rp 6.000 per liter. Pada era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono, kata Tulus, harga BBM justru diturunkan.

Tulus berpendapat bahwa saat ini opsi menaikkan harga BBM dengan harga tunggal adalah pilihan pahit bagi pemerintah. Hal ini akan menurunkan pamor partai politik yang ada saat ini, apalagi partai politik pendukung pemerintah.
(dat16/rmol/republika)




WARTA KARTUN

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment