Monday, 04 March 2013 20:34    PDF Print E-mail
Politik, tak ada kawan atau kawan abadi
Warta
WASPADA ONLINE

JAKARTA - Pepatah tua yang menyebutkan bahwa dalam politik, tidak ada kawan dan lawan yang abadi. Hanya kepentingan yang abadi, nampaknya benar-benar terjadi dalam hubungan antara Anas Urbaningrum dan Susilo Bambang Yudhoyono.

Akibat munculnya perbedaan kepentingan di tengah persahabatan mereka yang sudah berjalan kurang lebih 8 tahun, konflik pribadi pun tak terhindarkan. Anas yang berhenti sebagai Ketua Umum Partai Demokrat pada Minggu 18 Februari 2013 membuka rahasia tentang konflik politik di tubuh Demokrat. Padahal ketika kepentingan Anas dan SBY masih sama, konflik itu disembunyikannya rapat-rapat.

join_facebookjoin_twitter

Anas buka suara, sekalipun ia terpilih sebagai Ketua Umum dalam Kongres 2010 Partai Demokrat, tetapi keterpilihannya, ibarat seorang anak yang kelahirannya tidak dikehendaki. Tanpa menyebut nama SBY, tapi Anas memberi indikasi SBY-lah yang tidak menghendakinya dan hal itu kemudian diam-diam memicu konflik di Partai Demokrat.

Sikap Anas yang menyembunyikan konflik, tidak seratus persen salah. Tetapi jelas hal itu membuktikan kepalsuan merupakan salah satu budaya politik yang dijalankan oleh partai pemenang Pilpres 2009 tersebut. Selama dua tahun tidak merasa nyaman, tapi Anas terus mengumbar wajah yang teduh dan penuh ketenangan manakala sedang bersama SBY. Ternyata semuanya serba klise dan penuh kepalsuan.

Kepalsuan lain terjadi seusai Kongres 2010. Anas terlihat kompak dengan Eddhie Baskoro alias Ibas putera kedua SBY yang terpilih sebagai Sekjen Partai Demokrat. Manakala Anas dan Eddhie Baskoro melakukan tur ke berbagai wilayah Indonesia untuk mengesankan sebuah kekompakan. Lewat Ibas, Anas menutupi konfliknya dengan SBY.

Tidak ada yang menyangka bahwa hal itu merupakan sebuah sandiwara politik. Anas tidak merasa bersalah melakoninyasekalipun tanpa sadar ia sudah memperdaya publik. Karena yang lebih penting bagi Anas, kepentingannya pada SBY tetap terjaga.

Ketika Anas mengumumkan keputusannya untuk berhenti sebagai Ketua Umum Partai Demokrat, kepalsuan berangsur terbuka. Sembari memberi sinyal kuat tentang konflik di internal partainya, Anas memulainya dengan tamsil. “...ini baru halaman pertama dari sebuah buku....".

Ia biarkan publik menafsirkan apa yang menjadi makna dari tamsilnya. Publik terutama pers dan para pengamat politik kemudian menafsirkan Anas sedang menantang SBY. Walaupun baru terbatas tamsil, hal itu sudah menunjukkan perubahan Anas dalam bersahabat dengan SBY sudah terjadi. Kepentingan mereka berdua sudah berbeda. Oleh sebab itu Anas sudah berani menyerang SBY melalui perang urat syaraf.

Dampaknya sejumlah musuh SBY yang selama ini diam, tiba-tiba tergerak bersuara. Mereka muncul dari persembunyian, kemudian berempati kepada Anas. Ada yang mendatangi rumah Anas, untuk memperlihatkan bahwa mereka semua juga mendukung sikap Anas yang memusuhi SBY.

Semenjak itu lewat status dan kasus Anas, SBY dijadikan musuh bersama. Sekalipun alasan dan kepentingan mereka memusuhi SBY, belum tentu semuanya sama.

Konflik Anas-SBY dapat menjadi sebuah pembelajaran yaitu persahabatan dalam politik, ibarat sebuah percintaan yang terbentuk karena perselingkuhan. Perselingkuhan sifatnya sementara. Dalam perselingkuhan tidak dikenal yang namanya utang budi. Sebab perselingkuhan terjadi karena adanya kepentingan yang sama yaitu suka sama suka.

Anas sebetulnya berutang budi kepada SBY. Selepas Pemilu 2004, SBY yang baru terpilih menjadi Presiden RI periode 2004 -2009, tertarik kepada Anas. Kepada anggota KPU itu, SBY menawarinya sebuah keanggotaan di Partai Demokrat. Disinilah awal 'perselingkuhan' Anas-SBY.

Tawaran SBY itu cukup mengejutkan. Sebab dengan begitu, Anas harus mengundurkan diri dari komisioner di KPU, di tengah masa jabatannya yang belum selesai. Lagi pula pada saat yang sama, Anas sebagai salah satu anggota KPU, tengah disebut-sebut di media sebagai komisioner yang terlibat masalah di lembaga itu.

Tapi perekrutan Anas oleh SBY, tidak menimbulkan reaksi. Boleh jadi karena pada waktu itu kehidupan sosial Anas belum semewah seperti sekarang. Penampilannya masih serba bersahaja. Rumahnya di sebuah kompleks perumahan umum, belum banyak yang tahu. Dan yang pasti belum mentereng. Sehingga sekalipun Anas dikait-kaitkan dengan sebuah kasus korupsi di KPU, perekrutannya oleh SBY tidak memancing kecurigaan.

Cerita tentang Anas yang punya kasus di KPU ini, akhirnya tak terdengar lagi. Tidak ada yang tahu penyebabnya. Atau mungkin ketika itu Anas hanya menjadi korban fitnah. Atau kasusnya memang ada, namun karena adanya bantuan atau jaminan dari orang nomor satu di Indonesia yaitu SBY, maka ceritera tentang kasus Anas itu pun lenyap seketika. Lenyap seperti bayangan hantu yang ditelan oleh kegelapan malam.

Sehingga tidak keliru apabila SBY disebut sebagai sosok 'penyelamat' Anas dari sebuah skandal. Oleh sebab itu dengan adanya usaha membuka kembali kasus Bank Century oleh Tim Pengawas DPR-RI dan dalam usaha itu Anas disebut-sebut ikut melibatkan diri, maka rencana itu menjadi sebuah ceritera yang absurd.

Bahkan perlu dicurigai, terutama kalau arahnya hanya ingin menjadikan SBY sebagai target tersangka korupsi. Pertanyaannya: mengapa sebelumnya Anas berusaha menjadi pahlawannya SBY, tapi kini berubah menjadi pembelot atau penghianat? Tapi apapun hasilnya yang pasti usaha ini semakin menegaskan bahwa politik itu memang tidak mengenal perkawanan abadi.

Untuk menyegarkan betapa konfik Anas-SBY timbul sebagai akibat dari berubahnya sebuah perkawanan dalam politik, kita kembali ke 2009. Tak lama setelah SBY terpilih sebagai Presiden untuk masa jabatan kedua, SBY langsung digoyang oleh politisi Senayan yang berasal dari luar Partai Demokrat.

SBY sebagai Presiden RI digadang-gadang ikut bertanggung jawab atas raibnya Rp6,7 triliun, uang talangan bagi Bank Century. Bahkan ada rumor yang menyebut, sebagian dana itu mengalir ke kader-kader Demokrat dalam rangka memenangkan Pemilu Presiden di pertengahan 2009.

Ketika goyangan politisi Senayan itu bergerak semakin kuat, Anas sudah berstatus Ketua Fraksi Partai Demokrat. Dengan kewenangan politiknya, Anas pun tampil paling depan membela SBY sebagai petinggi Demokrat.

Pembelaannya bertambah kuat manakala di 2010 Anas terpilih sebagai Ketua Umum Partai Demokrat. Anas membantah kalau dana Bank Century mengalir ke kantong-kantong kader Demokrat. Tapi pekan ini cerita skandal Bank Century dihidupkan kembali oleh Tim Pengawas DPR-RI. Dan hal itu antara lain karena adanya 'sinyal' dari Anas.

Dari bahasa tubuh maupun kosa kata para politisi Tim Pengawas Bank Century DPR-RI, mengindikasikan, Anas akan berubah sikap. Dari sikap yang kokoh membela SBY, berubah menjadi sosok yang akan menohok SBY.

Politisi asal Blitar itu seolah menginsinuasi para politisi Senayan untuk menjadikan kasus Bank Century seperti kasus makam Bung Karno di Blitar. Sebagai putera Blitar, Anas seolah tahu rahasia apa saja yang ikut dikubur di dalam makam Presiden pertama RI tersebut. Rahasia itu penting dibuka. Dan bila dibuka, akan mengubah atau memutar balikkan berbagai persepsi yang sudah diterima publik selama ini.

Demikian halnya, kalau skandal Bank Century dibongkar kembali, bakal terungkap berbagai fakta yang selama ini disembunyikan. Dengan kata lain, Anas pun ingin mengubah persepsi masyarakat tentang Presiden SBY yaitu, SBY bukanlah sosok yang bersih.

Anas tidak ingin sendirian menjadi korban. Bila perlu SBY pun bernasib sama seperti dia. Keinginan Anas terhadap SBY itu, tidak dinyatakan secara eksplisit. Tetapi dari sikapnya sudah cukup memelekkan mata publik. Bahwa Anas benar-benar sudah tidak bersahabat lagi dengan SBY. Keinginan ini kemudian ditumpangi oleh berbagai kelompok yang bertujuan 'mengeroyok' SBY.
(dat06/inilah)




WARTA KARTUN

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment