Sunday, 24 February 2013 23:01    PDF Print E-mail
Imigran gelap Afganistan harus diwaspadai
Warta

RIDIN
WASPADA ONLINE


MEDAN –  Sering masuknya pendatang haram  warga asing termasuk warga Afganistan ke Sumut menandakan lemahnya pengawasan yang dilakukan oleh aparat hukum di Sumatera Utara khususnya pihak Imigrasi.

“Kita sangat was-was dengan kinerja pihak Imgrasi di Sumut yang selalu kecolongan  dengan masuknya imigran gelap ke Sumut,” ujar pakar sosial politik Sohibul Ansor Siregar kepada Waspada Online malam ini.

join_facebookjoin_twitter    

Manurut Sohibul, selain warga Afganistan yang sering tertangkap masuk ke Sumut, warga Cina juga sering tertangkap di Sumut karena masuk secara gelap. ”Seperti yang terjadi beberapa waktu lalu, puluhan warga Cina tertangkap di Medan. Kita mengharapkan kalau pengawasan dalam hal ini perlu ditingkatkan," katanya

Sohibul juga menilai masuknya warga Afganistan dan Cina ke Sumut hanya untuk mencari perbaikan hidup. ”Kalau upaya dalam rangka terorisem saya  rasa tidak. Meraka hanya untuk mencari nafkah saja," kata dia.

Sementara itu Ketua Umum DPP Pemuda Pancasila 1959 Rudi Hartawan Tampubolon menyebutkan kalau sinyalemen pendatang haram itu masuk wilayah Sumut telah terorganisir yang tujuannnya untuk upaya menghimpun kekuatan untuk merongrong Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Sering masuknya imigran gelap ke Sumut harus segera ditangani oleh pemerintah, pihak intelijen dan Polda Sumut harus betul-betul giat untuk mencari tahu apa sebenarnya tujuan mereka datang ke Sumut. Karena secara logika tidak mungkin imigran gelap seperti dari Afganistan bisa masuk ke Sumut dengan alasan terdampar, ada dugaan besar ada yang memasok dan mengatur datangnya para pendatang haram tersebut,” ujar Rudi kepada Waspada Online malam ini.

 Lanjut Rudi, kalau dilihat kenyataan selama ini banyak warga pendatang haram dari Afganistan yang tertangkap di Sumut baik melalui pihak bea cukai ataupun pihak kepolisian tiba-tiba hilang atau lari.

”Inikan hal yang sangat mustahil, orang yang tingginya hampir dua meter dan jumlahnya ratusan orang bisa lari, sangat aneh. Saya saja kalau pergi ke Amerika kalau lari pasti tertangkap, walaupun badan saya kecil apalagi mereka yang tingginya hampir dua meter tak mungkin tak nampak, ini kalau bicara logika,” ujar Rudi.

Artinya menurut Rudi, imigran yang masuk ke Indonesia khususnya di Sumut ini sudah terorganisir dengan rapi, inilah yang harus diselidikai oleh aparat keamanan, karena lanjut Rudi bentuk-bentuk teror, bentuk-bentuk aksi disinterogarsi bangsa, itu dimulai bertahun-tahun. ”Bukan hari ini dibuat baru besok kejadian, makanya pemerintah harus waspada melihat ini,” ujar Rudi.

Yang lebih aneh lagi lanjut Rudi, para imigran gelap Afganistan tersebut saat tertangkap bisa berbahasa Indonesia.

“Inikan aneh, orang Afganistan bisa bahasa Indonesia. Sementara  menurut saya bahasa Indonesia adalah yang sangat sulit untuk dipelajari. Artinya meraka sudah lama masuk ke Indonesa, siapa yang masukkan, itu tugas polisi atau intelijen untuk mengetahui sekelompok orang yang sangat banyak ini masuk ke Indonesia,” ujar Rudi.

Rudi juga menyebutkan sebegai generasi muda, mendesak pemerintah dan aparat berwenang untuk menyikapi hal tersebut demi keutuhan NKRI yang tercinta ini.

Sementara itu DPP LSM Serikat Kerakyatan Indonesia (Sakti) Tongam Fredy Siregar kepada Waspada Online menyebutkan kalau masuknya imigran gelap khusus warga Afganistan ke Sumut harus diwaspadai. Polisi harus mampu mengungkap hal tersebut. Karena saat ini Indonesia sudah menjadi sorotan dunia luar sebagai salah satu  negara  sarang teroris.

“Kita tidak mau Sumut dikotori dengan orang-orang asing yang akan merongrong NKRI ini,” ujar Tongam.

Seperti diberitakan sebelumnya  pada September 2011 lalu sebanyak sembilan warga negara asing (WNA) yang datang ilegal ke Indonesia diduga berasal dari Afghanistan, ditangkap petugas security dan Imigrasi Bandara Polonia Medan saat akan bertolak ke Jakarta dengan penerbangan Lion Air.

Sementara itu, Kepala Unit Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) Bandara Polonia Idul Adheman membenarkan penangkapan WNA diduga berasal dari Afghanistan tersebut. “Yang menangkap petugas security Bandara Polonia Medan, setelah itu saya hubungi petugas Imigrasi agar membawa mereka ke kantor untuk penyelidikan lebih lanjut,” sebutnya.  

Menurut dia, WNA ilegal selalu menggunakan nama samaran, makanya harus diteliti lebih lanjut. Sementara dalam dua bulan belakangan ini jarang terdengar orang asing yang masuk ilegal ke Sumut.

Kesembilan WNA tersebut yakni, Ahmad Farid (Pakistan), Muhammad Asi s/o Nadir Ali dan Muhammad Dullah s/o Muhammd Ayub (Afghan) tertangkap Sabtu malam. Hassan Hubain, Azam Muhammad Ali, Asif Ali Yawas, Jon Ali , Tahira (wanita) dan Ali, semua warga Afghanistan tertangkap Senin pagi.
   
Pejabat Imigrasi Polonia belum mendapat data, kenapa WNA itu harus berangkat ke Jakarta atau hanya sebagai kota transit untuk menuju daerah lain. Belum ada informasi pasti. Namun menurut ciri-ciri meyakinkan, ke 9 WNA ini diperkirakan berasal dari Afghanistan.

“Menurut informasi, mereka sudah berada di Medan sejak tiga hari sebelumnya, entah dari mana mereka masuk ke Medan,masih dalam penyelidikan petugas Imigrasi,” sebutnya.

Sementara itu  Detensi Imigrasi (Rudenim) Tanjung Pinang, Batam mengirim 12 orang imigran gelap asal Afganistan  menggunakan peseta Lion Air ke bandara Polonia Medan untuk  ditempatkan di lokasi penampungan sementara di Kota Medan.

Humas Kantor Kamenterian Hukum dan HAM Wilayah Sumatera Utara, Safawi di Medan, Sabtu kemarin, mengatakan, imigran yang berasal dari Afghanistan itu sudah berada di Ibu Kota Provinsi Sumut sejak Jumat (22/2) kemarin.

Menurut dia, ke-12 warga Afghanistan itu tiba di Bandara Polonia Medan sekitar pukul 13.00 WIB dengan menggunakan pesawat penerbangan Lion Air dengan nomor JT 971. Kemudian, orang asing tersebut, kata dia, langsung dibawa petugas Imigrasi Kelas I Polonia Medan ke tempat penampungan imigran di Wisma Lestari.

“Jadi, orang asing itu berada di Medan ini hanya beberapa hari saja, dan menunggu pengiriman mereka ke negara ketiga, yakni ke Australia,” ucap dia.

Safawi mengatakan bahwa warga Afghanistan itu ditempatkan di Medan, karena Rudenim Tanjung Pinang, Batam sudah over kapasitas dan tidak mampu lagi menampung para imigran. Para imigran yang dititipkan di Medan juga telah memiliki kartu United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR).

“Warga Afghanistan itu merupakan tanggung jawab pihak negara ketiga, dan bukan kewenangan Imigrasi yang ada di daerah ini,” kata Safawi.

Sementara itu, Imigran yang ditampung di Rudenim Medan di Belawan, juga padat atau melebihi dari kapasitas ditentukan. Jumlah orang asing di Rudenim Medan lebih dari 200 orang, sementara daya tampung hanya untuk 120 orang dan kamar yang tersedia 80 kamar.

Kalau ingin tidur terpaksa harus berdesak-desakkan karena penghuninya sangat padat. Dari 200 orang lebih imigran tersebut terdiri atas warga Sri Lanka, Myanmar, Afghanistan, dan Pakistan.

Editor: AGUS UTAMA
(dat03/wol)  

WARTA KARTUN

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment