Saturday, 23 February 2013 09:45    PDF Print E-mail
Kisah nyata di balik cerita
Ragam
ARIANDA TANJUNG
WASPADA ONLINE


MEDAN - Banyak cara untuk menceritakan sebuah kisah yang kita alami baik sedih maupun senang dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya lewat sebuah film, karena biasanya masyarakat akan lebih mudah tergugah hatinya.

Demikian dikatakan salah satu sutradara “Rectoverso”, Marcella Zalianty, didampingi sejumlah pemain di antaranya Prisia Nasution, Lukman Sardi, dan Hamish Daud di hadapan puluhan mahasiswa dalam workshop dan diskusi film tersebut di Gedung Peradilan Semu Fakultas USU baru-baru ini.

Dikatakan, film Omnibus Rectoverso ini menggabungkan lima cerita yang ditulis oleh lima sutradara berbeda dan film-film yang terdapat di dalamnya menceritakan sebuah kisah nyata yang ada di kehidupan kita saat ini. Hebatnya, kelima sutradara ini terdiri atas nama-nama tenar. Selain Marcella, film ini disutradarai Rachel Maryam, Olga Lydia, Cathy Sharon, dan Happy Salma.

Meski lima cerita berbeda, semua itu memiliki benang merah sebuah cerita cinta. Marcella sendiri yakin rekan-rekan sutradara bisa menerjemahkan cerita dengan lebih simpel dan mudah dicerna oleh penonton.

"Saya ingin film ini lahir dari kejujuran rasa," ujar Marcella yang akhirnya mewujudkan impian lamanya untuk membuat film omnibus.

"Saya memilih untuk mencari teman-teman dekat saya dulu yang memiliki totalitas dalam dunia film karena awalnya ini hanya sebatas untuk film indie. Saya akui di sini kita masih baru dan mencoba belajar untuk menghasilkan sesuatu yang bagus," tambahnya.

"Ini tantangan buat saya. Satu produser satu sutradara aja sudah puyeng, bagaimana dengan lima sekaligus? Tapi buat saya proses film ini pasti akan luar biasa," pungkas Marcella.

Pembaca “Rectoverso” karya Dewi Lestari juga pasti tidak asing dengan tokoh-tokoh yang terdapat dalam "Malaikat Juga Tahu", "Firasat", "Curhat Buat Sahabat", "Cicak di Dinding", dan "Hanya Isyarat".

Seperti film “Malaikat Juga Tahu” yang menceritakan seorang Abang penderita autisme yang tinggal dengan ibunya. Abang lantas jatuh cinta dengan seorang gadis yang mengerti tentang dirinya, Leia, namun Bunda (ibu Abang) cemas karena tahu hubungan yang diharapkan tidak akan pernah terjadi. Kecemasan Bunda bertambah ketika Han, adik Abang, datang. Hubungan Leia dan Han pasti akan membuat Abang terluka.

Menurut Marcella, proses kreatif memproduksi film Rectoverso butuh waktu kurang lebih satu tahun. Apalagi ini pertama kali bagi Marcella jadi sutradara.

"Tentunya sangat berbeda dari yang biasanya saya di depan kamera dan berakting adegan demi adegan dengan posisi saya sebagai orang yang bertanggungjawab atas keseluruhan film," ujarnya terkait film yang diadopsi dari sebuah karya sastra itu.

Lukman Sardi menjelaskan bahwa setiap peran yang dimainkan punya tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Tapi peran sebagai seorang yang autisme diperlukan kesabaran dan sensitivitas tinggi.

“Untuk memerankan Abang, jujur saya harus melihat serta mempelajari sosok dia selama beberapa hari dengan memperhatikan tingkah lakunya. Baru saya bisa merasalkan apa yang dia rasakan,” tutur Lukman.

Hal senada juga dikatakan Prisia yang menerangkan bahwa alur cerita dari film ini kuat, sehingga baik aktor maupun aktris yang bermain di dalam film tersebut perlu kerja keras.

"Mudah-mudahan film ini bisa diterima oleh masyarakat. Nanti mungkin mereka bisa nonton sama pacar, keluarga atau teman-teman. Percayalah bahwa banyak pelajaran yang bisa kita petik dari film ini," tutur Prisia kepada Kreasi.

Selain itu, hal unik lain juga terasa dalam pembuatan soundtrack film. Nama-nama beken penyanyi tanah air, seperti Glenn Fredly, Raisa, dan Dira Sugandi berkumpul untuk sama-sama ambil bagian dalam film yang telah tayang pada 14 Februari lalu.

Editor: AUSTIN ANTARIKSA
(dat16/wol/waspada)

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment