Friday, 15 February 2013 00:04    PDF Print E-mail
Turis membelah bukit barisan
Opini

USMAN PELLY

Ada tiga hal universal yang harus kita miliki sebagai host (tuan rumah) yaitu keramahan, kerapian dan kebersihan, semua manusia menyukai dan mengharapkannya kalau pergi kesuatu destinasi wisata.

Ketika seorang turis berketetapan hati untuk melangkah meninggalkan rumahnya kesuatu tujuan wisata, apa yang hendak dicarinya? Dia ingin mendapatkan sesuatu kejutan baru (excieted)  dalam kehidupannya, agar dia dapat melepaskan rutinitas kehidupan sehari-hari yang membelenggunya. Sebab itu, ketika dia menetapkan untuk mengunjungi suatu daerah, sebenarnya dia belum mengetahui benar apa yang mengejutkannya did aerah itu. Yang jelas dia ingin menemui sesuatu yang berbeda dengan daerah yang ditinggalkannya. Karena dana yang diperlukan juga bukan sedikit, biasanya keluarga-keluarga di Eropa atau Amerika menabung untuk dapat berwisata setiap setahun atau dua tahun sekali. Tidak seperti kebanyakan kita di Indonesia, tergantung kepada "uang dadakan" (maaf umpamanya menang lotre atau korupsi) atau jatuh sakit maka harus berobat keluar negeri (health tourism).

Sewaktu saya bertugas sebagai konsultan lingkungan pada proyek wisata Bintan Utara yang dikelola perusahaan turis Singapura (1987-1990), mereka ingin mengeluarkan semua orang-orang Melayu Bintan dari Utara pulau itu. Sebagian besar tanah-tanah mereka telah dibeli, baik karena terpaksa atau imbalan tertentu, mereka yang belum pindah hidup seperti menumpang di tanah sendiri. Dalam beberapa pertemuan, tim kami yang waktu itu dipimpin Ir Wimar Witular, meyakinkan para pengusaha Singapura ini--bahwa wisata yang akan memindahkan 2-3 juta turis dari Singapura ke Bintan setiap tahunnya, apabila tidak bertemu (encounter) dengan masyarakat setempat--itu artinya hanya sekedar  "pindah tidur" dan hanya akan bertahan 2-3 tahun saja. Wisatawan akan menghindar membuang waktu berharga yang telah dijdwalkan semula.

Setelah beberapa pertemuan, akhirnya program kehadiran kami, diubah menjadi mempersiapkan living community masyarakat Melayu keseluruhan pulau Bintan itu. Yang dimaksud dengan living community adalah masyarakat Melayu yang hidup selayaknya, punya rumah, tebat (kolam ikan), sawah dan ladang (kalau nelayan punya perahu dan kelengkapannya), dalam suatu perkampungan (komunitas) yang kompak (punya masjid dan sekolah).

Pertemuan para wisatawan dengan masyarakat Melayu (living community) setempat dengan segala aneka budaya asli yang ada pada mereka--itulah salah satu faset kehidupan manusia yang menyebabkan mereka merasa excited. Apalagi kalau mereka dapat membawa oleh-oleh seperti kerajinan tangan atau benda-benda asli lainnya dari masyarakat yang mereka temui. Jadi bukan karena dapat tidur lelap di hotel berbintang lima, punya kesempatan berdisko, melantai dan menikmati konser segala, karena semua itu ada di negeri mereka. Sangat aneh pula, kalau mereka hanya dapat bertemu sesama turis saja!

Lama Turis Menetap
Lama turis (length of staying) di suatu negara sangat tergantung dari tujuan yang telah dirancangnya. Tetapi biasanya seorang turis ingin menikmati objek wisata secara menyeluruh (holistic), yang dapat dijalaninya secara melingkar, sehingga waktunya dapat dipergunakannya secara lebih efisien tidak hanya habis di tengah jalan (transportasi) saja. Karena itu kunjungan wisata yang melingkar seperti dari air-port ke kota tertentu, dari kota ke danau, dari sana ke pegunungan, terus ke pantai atau ke perkebunan, kemudian kembali ke air-port (from the airport to  town, and from the town to lake, from the lake to beach, and from the beach to mountain and then back to airport), dan akhirnya baru kembali ke tanah airnya. Dengan program wisata seperti ini, akan menghabiskan waktu minimal 6-7 hari. Kalau satu hari seorang turis mengeluarkan dana rata-rata $ 250 perhari (di luar ongkos transport), maka dengan jadwal seperti ini dia akan menghabiskan uang sekitar $1.500 selama berada di satu tempat. Kalau seorang wisata selama ini ke Sumatrea Utara, hanya mengunjugi Danau Toba kemudian, buru-buru pulang untuk mengunjungi Bali sebagai tujuan wisata kedua umpamanya, maka dia hanya mendapatkan dua destinasi wisata dengan pengeluaran yang mungkin sama.

Mungkinkah seorang wisata mengunjungi destinasi melingkar di Sumut? Dengan dibukanya Airport Silangit secara resmi oleh Menteri BUMN Dahlan Iskan bulan lalu, maka besar sekali kemungkinan destinasi wisata melingkar dikembangkan di Sumut. Pertama Sumut memiliki objek-objek destinasi wisata dari pantai Timur ke Barat yang sangat potensial untuk dikembangkan. Medan (sebagai Paris van Sumatra) memiliki daya tarik tersendiri, dia punya kota-tua (pecinaan) yang baik, pasar tradisional dan kebun binatang. Kemudian, tentu saja  Danau Toba sebagai tujuan wisata yang telah dikenal manca negara. Kita memiliki destinasi lain di sekitar danau itu, seperti kota pegunungan yang sejuk di Brastagi, proyek panas bumi, dan kebun teh Sidamanik yang menarik terutama bagi wisatawan Eropa dan Amerika--sebagai peminum teh terbesar di dunia, tetapi mereka belum pernah melihat perkebunan teh dan bagaimana teh itu diproses. Alangkah nyamannya bagi seorang turis, kalau pada suatu pagi sesudah dia minum teh hangat, kemudian pergi melihat bagaimna teh ditanam dan bagaimana pula orang memetiknya--dapat melihat sendiri bagaimana teh itu diproses di pabrik.

Mungkin di Brastagi mereka berminat mendaki gunung Sibayak. Objek ini sangat potensial untuk dikembangkan bagi turis asing. Hiking mountain (pedakian gunung) ini sangat tepat, terutama bagi mereka yang tidak memiliki gunung di daerah khatulistiwa (bayangkan seperti permainan ski dipegunungan salju pada musim dingin). Setelah itu, airport Silangit dapat segera menyeberangkan mereka umpamanya ke Sibolga atau ke Nias (karena objek-objek turis di Tapanuli Selatan belum dikemasi).

Kedua tempat ini merupakan tujuan wisata yang sangat potensial untuk dikembangkan. Selama ini turis susah menggapainya karena transportasi ke Danau Toba telah menguras tenaga dan waktu mereka. Mungkin mereka akan bersilancar di pantai teluk dalam yang sangat terkenal ombaknya (menurut para turis luar negeri, lebih baik dari Bali atau tempat lainnya di dunia). Banyak objek wisata lainnya yang dapat disarankan untuk turis di Nias (seperti mengunjungi permukiman rumah adat Nias "mendaki matahari" atau peninggalan zaman megalithik), tergantung bagaimana kita dapat memoles programnya.

Keberadaan KNIA (Kualanamu Airport) akan sangat mendukung arus wisata internasional ke Sumatra Utara. Selama ini arus turis dari Australia dan Jepang umpamanya dari Jakarta terus mengalir ke Timur  (Bali dan Yogyakarta). Dengan dibukanya KNIA mereka tidak perlu ke Jakarta lagi dapat langsung pulang pergi ke Medan. Arus turis dari Jepang saja setahunnya berjumlah hampir lima juta orang, sedang Australia tig) juta orang, merupakan potensi yang menantang untuk Sumatra Utara. Memang Bali dan Yogyakarta umpamanya memiliki keunikan tersendiri untuk orang Australia, tetapi hal ini perlu diteliti apa saja keunikan itu agar Sumut dapat berpacu setara dengan Bali atau Yogyakarta. Keunikan itu dapat membawa para turis menemukan mimpi-mimpi excited mereka. Tetapi ada tiga hal universal yang harus kita miliki sebagai host (tuan rumah) yaitu keramahan, kerapian dan kebersihan, semua manusia menyukai dan mengharapkannya kalau pergi kesuatu destinasi wisata.

Dalam tiga hal di atas, Bali dan Yogyakarta berbeda dengan Sumatera Utara yang multietnis dan multikultural. Mereka akan bertemu (encounter) dengan manusia yang tidak seragam, karena itu Sumatera Utara tidak hanya menampilkan keindahan alam yang beragam tetapi juga keanekaan budaya multikultural yang menarik. Ketika mereka mengunjungi tujuh destinasi wisata di Sumatera Utara, maka mereka seolah telah bertemu dengan tujuh bangsa yang berbeda-beda (bukankah ini unik dan memikat?). Pertanyaannya yang penting dijawab ialah dapatkan kita mengemas wisata melintasi Bukit Barisan ini dengan baik dan tidak memalukan?
(dat03/wol/waspada)