Thursday, 07 February 2013 21:31    PDF Print E-mail
Politik semakin rusuh
Ragam
HERDI SAHRASAD

JAKARTA - Situasi politik pada 2013 ini ternyata makin gaduh dan rivalitas para politisi cenderung riuh dan lusuh. Persaingan antarpartai makin keruh. Mengapa?

Berbagai kasus korupsi yang menyeret nama Lutfi Hasan Ishaaq (LHI), Andi Mallarangeng dan skandal Century, juga dinamika internal Demokrat besutan SBY, semua itu membuat politik makin riuh.

"Politik akan semakin rusuh. Presiden PKS sudah diciduk KPK. Kasus Century akan terangkat lagi. Jadi memang akan gaduh. Ini bagian dari mengaburkan sentimen politik," ungkap Sukardi Rinarkit, pengamat politik SSS.

Tidak hanya itu saja. Terjeratnya sejumlah politikus partai dalam kasus korupsi, akan berdampak terhadap dinamika internal di Sekretariat Gabungan (Setgab). Parpol yang tergabung dalam barisan pendukung pemerintah itu, otomatis akan kembali melakukan perhitungan politik.

Dalam hal ini, nampak para politikus jujur tidak diberikan tempat untuk mengepakkan sayapnya. Sebaliknya, para pemeran utama di atas panggung politik didominasi individu yang rakus kekuasaan dan harta. Luput dari alam sadar mereka, suatu saat korupsi akan terbongkar karena pembagian yang tidak merata. Apalagi tidak ada kamus uang haram bisa dibagi secara merata dan adil.

Kegaduhan politik di negeri ini terjadi bukan karena politikus berkelahi memperjuangkan kemajuan bangsa, melainkan bagi hasil tidak merata. Wajar bila masyarakat di negeri ini mulai atau bahkan sudah apatis dengan tokoh politik. Pasalnya, sebagian politikus di negeri ini saling jegal untuk meraih kekuasaan. Pada akhirnya, kekuasaan itu dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok dan pribadi.

Dalam kaitan ini, pakar komunikasi politik, Tjipta Lesmana, menilai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai sosok yang seringkali mencari kambing hitam dalam menyikapi berbagai persoalan, termasuk saat menanggapi kiprah Anas Urbaningrum, Ketum DPP Partai Demokrat. Mestinya, SBY sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, melakukan introspeksi diri. "Jangan buru-buru menyalahkan pihak lain," ujarnya.

Para analis menduga, partai-partai di Setgab, utamanya Partai Golkar dan PKS sudah berfikir akan menjadi oposisi. Tapi bukan disitu masalahnya. Hampir seluruh partai akan mencari celah kelemahan partai lain. Itu yang akan diangkat dan membuat kondisi makin gaduh dan riuh.

Situasi ini akan mempersulit langkah pemerintah menggenjot perekonomian, bahkan mungkin terjadi pelambatan pertumbuhan. Hal ini tentu mengecewakan dan bisa membuat rakyat cenderung skeptis pada demokrasi, bukan?
(dat06/bbs/inilah)

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment