Monday, 12 November 2012 09:15    PDF Print E-mail
TKI diperkosa di penjara
Warta

WASPADA ONLINE

JAKARTA - Harga diri bangsa Indonesia kembali terkoyak. Seorang pembantu rumah tangga asal Indonesia yang ditahan di Kantor Polisi Bukit Mertajam, Pulau Penang, di perkosa oleh tiga polisi Diraja Malaysia di kantor polisi tersebut.
 
Tindakan kekerasan seksual tersebut dilakukan sekira pukul pada pukul 06.00 tanggal 9 November 2012 waktu setempat. Hal itu disampaikan, Analis Kebijakan Migrant Care Wahyu Susilo melalui siaran pers, hari ini.
 
"Siti ditahan karena tidak membawa paspor, diduga kuat menjadi korban penahanan paspor oleh majikannya. Kasus ini menambah deretan panjang brutalitas polisi Diraja Malaysia terhadap buruh migran Indonesia, setelah setidaknya 151 buruh migran Indonesia ditembak mati oleh polisi Diraja Malaysia sejak 2007-2012," kata Wahyu.

join_facebookjoin_twitter
 
Dari serentetan kasus yang ada, jelasnya, tidak satu pun kasus-kasus tersebut dituntaskan dengan proses hukum yang adil oleh Malaysia.
 
"Berulangnya kasus yang serupa di Malaysia menunjukkan adanya kelemahan dalam penegakan hukum terhadap kasus-kasus yang menimpa buruh migran Indonesia. Misalnya, rentetan kasus penganiyaan terhadap PRT migran Indonesia tidak dituntaskan melalui jalur hukum, seperti kasus Ceriyati, Kunarsih, Modesta Rangga Kaka, Winfaidah, Fitria, Sumarsih dan banyak lagi kasus lainnya," ungkap Wahyu.
 
Wahyu menyatakan, ketidaktuntasan penyelesaian masalah tindak kekerasan pada TKI, juga disebabkan karena lemahnya diplomasi pemerintah Indonesia di hadapan Malaysia.
 
"Pemerintah Indonesia selama ini hanya reaktif terhadap kasus yang muncul, perlindungan pemerintah terhadap TKI seperti musiman saja. Kompleksitas TKI selama ini tidak dianggap serius sehingga penangannya juga tidak pernah serius," tandasnya.

Kronologi
Seorang TKI perempuan diperkosa 3 polisi Malaysia di kantor polisi, di Bukit Mertajam, Penang, Malaysia. Kasus ini sekarang sedang diselidiki Kepolisian Penang.

Berikut kronologi pemerkosaan yang disampaikan Direktur Eksekutif Migrant Care Malaysia Alex Ong seperti dilansir berbagai media, hari ini.

Jumat (9/11) pukul 06.00 pagi waktu setempat
Saat dalam perjalanan pulang, taksi yang digunakan korban diberhentikan polisi. Polisi memeriksa dokumen korban. Namun yang diberikan korban berupa fotokopi  paspor. Polisi lalu minta uang agar korban bisa bebas. Namun korban tidak memiliki uang.

Karena tidak memenuhi permintaan polisi, korban lalu dibawa ke kantor polisi Bukit Mertajam. Di kantor tersebut, 3 petugas polisi meminta korban memberi pelayanan seksual di sebuah ruangan. Setelah itu korban diantar pulang oleh dua petugas polisi dan meminta korban untuk tidak menceritakan peristiwa tersebut kepada orang lain.

Sabtu (10/11) pagi
Sopir taksi bernama Tan lalu menemani korban ke kantor pengaduan Partai Politik MCA (Malaysian Chinese Association). Siang harinya, korban meminta tolong kepada Biro Pengaduan MCA. Pegawai MCA yang menerima pengaduan korban adalah Liew Rui Tuan. Bahkan MCA juga menggelar jumpa pers terkait peristiwa yang dialami korban. Dalam jumpa pers itu, Ketua bidang Perempuan MCA Bukit Mertajam juga ikut hadir.

Masyarakat umum Malaysia memberi perhatian besar terhadap kasus ini. Apalagi terkait kelakuan keji penegak hukum yang tidak berdisiplin dan menyalahgunakan wewenang untuk melakukan kejahatan yang keji.

Alex juga mengatakan saat ini ketiga polisi tersebut sudah ditahan. Ketiganya akan dieknakan UU Kriminal pasal 376 dan 377 A dengan ancaman hukuman 5 sampai 20 tahun.

“Tapi bukti dan saksi harus lengkap. Masyarakat Malaysia mengecam pemerkosa yang seharusnya melindungi masyarakat. Pelaku yang paling muda berusia 26 tahun. Ada juga pelaku berpangkat sersan,” jelas Alex.

Sementara itu, Minister Counsellor Pensosbud KBRI Kuala Lumpur, Suryana Sastradiredja, saat dikonfirmasi mengatakan sudah bekerja secepat mungkin untuk melindungi korban dan memberikan bantuan hukum. Suryana mengatakan informasi soal kasus pemerkosaan sudah diterima pihak KBRI sejak Jumat (9/11) malam. Tak lama setelah itu, KBRI membuat tim khusus untuk melakukan kroscek soal peristiwa ini.

“Korban sudah berada di shelter KBRI untuk dilindungi,” kata Minister Counsellor Pensosbud KBRI Kuala Lumpur, Suryana Sastradiredja, saat berbincang dengan pers, Minggu (11/11).
(dat03/okz/bbs/wol/rls)

 



WARTA KARTUN

 

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment