Wednesday, 31 October 2012 14:33    PDF Print E-mail
Opium Asia dipasik Burma
Warta
WASPADA ONLINE

NAYPYIDAW - Sebuah tim temuan Peserikatan bangsa-bangsa menyebut meningkatnya perluasan ladang opium di Burma sepanjang enam tahun terakhir.

Menurut laporan kantor PBB untuk urusan Obat Bius dan Tindak Kriminal lahan yang dipakai sebagai tempat budidaya opium naik 17% tahun ini dari hampir 40.000 hektar menjadi 51.000 hektar.

Setelah Afghanistan, Burma adalah negara penghasil opium terbesar kedua di dunia.

Hampir semua opium yang diproduksinya ditanam di negara bagian Shan dan Kachin, yang sejak lama menjadi titik konflik antara militer Burma dengan kelompok pemberontak.

Upaya memberantas ladang-ladang haram ini dianggap setengah hati, dimana militer Burma dan kelompok pemberontak bersenjata dianggap sebagai pihak yang paling banyak mengantongi keuntungan dari perdagangan obat bius di sana, tulis wartawan BBC di Bangkok, Jonah Fisher.

Sementara itu kelompok petani mengatakan akibat ketidakstabilan situasi, mereka terpaksa menanam tumbuhan poppy yang jadi sumber opium yang kelak diproses menjadi heroin, yang di Indonesia dikenal sebagai zat adiktif bernama putaw.

Burma merupakan penghasil dari 25% opium yang ada di dunia, sementara Laos memasok 3% pangsa yang sama, kata Survey Opium Asia Tenggara 2012.

Situasi ini berbalikan dengan kondisi antara 1998 hingga 2006, saat baik produksi opium Burma maupun Laos turun deras, merosot 83% di Burma.

Wilayah Segitiga Emas, persinggungan antara Burma, Thailand dan Laos, sudah lama dikenal sebagai wilayah hitam ladang dan titik penyelundupan opium serta obat bius.

Sebagian besar opium di Burma akan diproses menjadi heroin, sekitar separohnya akan dipasarkan ke Cina, sedang sisanya dibawa ke penjuru Asia Tenggara.

Salah satu alasan kenapa produksi opium sangat tinggi di wilayah ini dan budi daya poppy terus bertahan, menurut laporan PBB, adalah karena tingginya permintaan heroin di kawasan Asia.
(dat18/bbc)

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment