Friday, 28 September 2012 08:02    PDF Print E-mail
Polda harus periksa Gatot Pujo Nugroho
Warta

RIDIN
WASPADA ONLINE

MEDAN – Kasus korupsi di tubuh Biro Umum Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) yang sedang  ditangani oleh Direktorat Reserse Kriminal Khusus Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Ditreskrimsus  Polda Sumut) terkesan hanya jalan di tempat saja.

Niat Polda Sumut yang ingin menuntaskan kasus tersebut sampai keakar-akarnya ternyata belum juga tercapai. Polisi masih menetapkan dua orange tersangka terkakit kasus tersebut dari sebanyak 59 saksi yang diperiksa.

join_facebookjoin_twitter

Janji Direktur  Reskrimsus Polda Sumut  Kombes Pol Sadono Budi Nugroho yang akan segera menahan satu tersangka lagi  yakni Suweno, PNS Pemprov Sumut yang bertugas di Bagian Rumah Tangga di Biro Umum  juga belum dilakukan.

Kasubdit III Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Ditreskrimsus Polda Sumut Kompol Juda Nusa mengatakan kalau Suweno masih diperiksa dan belum dilakukan penahanan. " Belum, Suweno masih sedang kita periksa," ujar Kompol Juda Nusa.

Sebelumnya, Suweno  menjalani pemeriksaan  pada Selasa (18/9) lalu, namun  belum tuntas, ketika akan dilanjutkan besok harinya (Rabu (19/9- red), Suweno tidak hadir, dengan alasan sakit, dan hingga kini hasil pemeriksaan terhadap Suweno tak jelas juntrungnya.

Padahal sebelumnya, menurut Direktur Reskrimsus Polda Sumut, Kombes Sadono Budi Nugroho, Suweno dipastikan bakal meringkuk di tahanan mengikuti mantan pimpinanya, Aminudin (mantan Bendahara Biro Umum Pemprovsu-red).  dan Plt Kepala Rumah Tangga, Neman Sitepu.

Dikabarkan, Aminuddin saat ini sudah berada di Rumah Tahanan (Rutan) Tg. Gusta. ironinya status berkas  Aminuddin ternyata belum dinyatakan P21 oleh pihak Kejati Sumut.

Terkait hal ini, Direktur Tahanan dan Barang Bukti (Dir. Tahti) Poldasu, AKBP. Waitimen Panjaitan membenarkan Aminuddin sudah berada di Rutan Tg. Gusta. " Aminuddin memang sudah dititip di Rutan Tg. Gusta,kalau  masalah berkasnya sudah p21 atau belum, itu urusan penyidik," jelas Waitimen hari ini kepada Waspada Online.

Kombes  Sadono  Selasa (18/9) lalu juga mengatakan,  bahwa dalam kasus ini bakal ada lagi yang menyusul sebagai calon tersangka selain Suweno yaitu, Ridwan Panjaitan, Aspri (Asisten Pribadi)  Plt Gubsu, Gatot Pudjo Nugroho. Pemeriksaan terhadap Ridwan ini dilakukan karena adanya keterangan Aminudin (Mantan Kabiro Umum Pemprov Sumut) yang mengatakan adanya aliran dana melalui Ridwan Panjaitan untuk pimpinanya, Plt Gubernur Sumut, Gatot Pujo Nugroho.

"Sebagai Aspri yang menerima dana dari Bendahara Biro Umum, Ridwan Panjaitan patut akan periksa," demikian jelas Kombes Sadono Budi Nugroho Senin (24/9) kemarin. Ironinya, Ridwan Panjaitan ternyata belum pernah mengikuti prajabatan dan tidak mempunyai Nomor Induk Pegawai (NIP), tapi dapat mengambil uang biaya perjalanan Plt  Gubernur Sumut dari Bendahara Biro Umum.

Tak Tanggung, selama tahun 2010 saja, Ridwan sudah menguras Rp1,9 miliar dari kas pengeluaran yang ditulisnya sebagai biaya perjalanan Plt. Gubsu diatas kwitansi pengeluaran. Menurut Sadono, Ridwan. Panjaitan akan diperiksa untuk dimintai keterangannya, kepada siapa dana yang diambilnya itu diserahkan.

"Bila dia (Ridwan Panjaitan-red) mengaku bahwa dana itu diserahkan kepada pimpinannya, Gatot juga bakal kita periksa," tegas Sadono.

Menanggapi hal ini, Direktur Lembaga Bantuan Hukum Medan,  Surya Adinata mengatakan, kalau memang keterangan Ridwan Panjaitan mengarah ke Pelaksana Tugas (Plt) Gubsu,seharusnya Gatot dipanggil dan diperiksa.

"Semua orang sama dihadapan hukum, polisi dalam hal ini tidak boleh tebang pilih" ujar Surya.

Dikatakanya, jangan karena seseorang punya jabatan, orang itu dinomor satukan.

Saat ini, berbagai kalangan masyarakat menganggap pengusutan kasus korupsi di Biro Umum pemprovsu ini terkesan berjalan lambat. Saat ditannya komentarnya, Surya Adinata mengatakan, " kita harus lihat juga mengapa prosesnya lambat, apa penyebabnya. Kalau memang lambat, indikasi adanya  "permainan" bisa saja terjadi.

"Mengapa masih ada tersangka yang belum ditahan,ada apa ini" paparnya.

Terkait dengan keberadaan Aminuddin yang saat ini sudah berada di Rutan Tg. Gusta Medan, Surya Adinata mengatakan, kalau tersangka itu belum dinyatakan P21 oleh kejaksaan, berarti masih dalam tahanan Dit. Reskrimsus Polda Sumut, dalam hal ini mungkin masa penyidikanya belum habis, semestinya masih wewenang Polda Sumut menahan Aminuddin.

"Artinya ini adalah diskresi kepolisian untuk meletakan seorang tersangka di Polda atau di Rutan. Jadi tidak ada masalah dalam hal ini," ujarnya.

Wakil Direktur Ditreskrimsus Polda Sumut, AKBP. Rudi Setiawan saat dikonfirmasi melalui pesan singkat, Kamis (27/9) dan ditanya mengapa Suweno dan Ridwan Panjaitan  belum juga ditahan, sepertinya tidak bisa memastikan kapan kasus korupsi ini menahan tersangka yang baru lagi. Melalui pesan singkatnya, Rudi menuliskan, " Belum masih mendalami dengan cari alat bukti lainnya....mohon beri waktu penyidik mendalami supaya bekerja profesional," ujar Rudi.

Dalam penangananya,  korupsi di Biro Umum Pemprov Sumut yang merugikan negara hingga Rp13 miliar ini, sebelumnya juga sempat memanggil istri Samsul Arifin dan istri Gatot Pujonugroho sebagai saksi, karena di dalam kuitansi pembayaran terdapat tanda tangan Fatimah Habibi dan Sutyas Handayani. Dalam kasus ini, penyidik Tipidkor Dit. Reskrimsus Poldasu juga sudah memeriksa 57 orang saksi.

Sementara, hasil audit yang dilakukan oleh BPKP di 178 pos pengeluaran, ditemukan adanya ketekoran kas di Biro Umum Pemprov Sumut pada tiga pos, salah satunya adalah biaya perjalanan plt. Gubsu.

Diketahui, mantan Pelaksana tugas Sekda Provinsi Sumut Rahmatsyah dan mantan Kepala Biro Umum Rajali serta Kepala Biro Umum saat ini Hajah Nurlela, juga sudah dimintai keteranganya.
(dat03/wol)       

WARTA KARTUN

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment