Tuesday, 10 July 2012 23:11    PDF Print E-mail
Menteri: Harga pembangkit listrik sampah mahal
Warta
WASPADA ONLINE

MEDAN - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jero Wacik menyebutkan pihaknya segera mengeluarkan peraturan tentang harga jual yang lebih mahal untuk pembangkit listrik yang terbuat dari sampah perkotaan.

"Pembuatan peraturan itu mengacu pada keberhasilan PT Growth Asia di Medan yang berhasil membuat Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Biomassa yang terbuat dari limbah seperti cangkang sawit, jerami, dan lannya," katanya di Medan.

Proyek power plant Biomassa 2x15 megawatt (MW) itu dibiayai PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dengan total untuk tujuh proyek serupa sekitar Rp575 miliar.

Dengan power plant Biomassa itu, Growth Asia, bukan saja berhasil memenuhi kebutuhan energi di perusahaannya, melainkan juga menjual ke PT Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Keberhasila Growth Asia, kata Menteri ESDM itu, harus menjadi contoh baik dalam menjalankan program pemerintah yang berupaya menekan anggaran subsidi untuk bahan bakar minyak (BBM) dan listrik, menekan pencemaran dengan mengurangi efek rumah kaca, serta penanganan sampah perkotaan.

Kementerian ESDM akan segera menghitung-hitung harga beli pembangkit listrik yang diolah dari sampah perkotaan dan membuat peraturan tentang itu sehingga semua pengusaha dan masyarakat tertarik membuat power plant dari limbah itu, katanya.

"Bank lain juga diminta mengikuti jejak BCA yang mau membiayai power plant dari limbah dan skala kecil," katanya usai meresmikan PLTU Biomassa 2x15 MW milik Growth Asia di Kawasan Industri Medan (KIM) III, kemarin.

Dewasa ini saja, kata dia, Biomassa dihargai oleh PLN sudah Rp975,00 per kwh dari sebelumnya Rp600,00 per kwh. "Kalau semua masyarakat mau dan bisa mengolah sampah menjadi pembangkit, tentunya dampaknya semakin meluas," ujarnya.

Bukan saja, Indonesia bebas dari krisis energi, beban subsidi tidak ada lagi dan industri bertumbuh, melainkan juga masalah sampah yang selama ini menjadi permasalahan besar bagi pemerintah provinsi, pemerintah kota dan kabupaten menjadi tidak ada lagi.

Manfaatkan Cangkang Berkaitan dengan terbuktinya juga cangkang sawit bisa menjadi bahan baku Biomassa, maka Kementerian ESDM akan berkoordinasi dengan kementerian terkait agar bisa lebih maksimal dalam memanfaatkan limbah sawit itu.

Kalau sebelumnya di ekspor, kata dia, ke depannya sudah harus dipikirkan agar cangkang sawit itu bisa dimanfaatkan untuk keperluan pembuatan power plant di dalam negeri.

"Saya rasa tidak perlu sampai ada pelarangan ekspor. Akan tetapi, kalau nyatanya harga cangkang di dalam negeri lebih mahal, pasti perusahaan PTPN dan swasta lebih memilih menjual di lokal," katanya.

Pemilik Growth Steel Group, Fajar Suhendra, mengatakan bahwa pembangunan PLTU Biomassa yang dibuat anak perusahaan perusahaan itu, yakni PT Growth Asia, sejak 2008.

Bahkan, tahun 2009, perusahaan itu sudah bekerja sama dengan PLN Wilayah Sumatera dalam pasokan energi itu. Dewasa ini, lanjut dia, dengan proyek 2x15 MW, pihaknya akan menjual 20 MW untuk PLN dan 10 MW sisanya untuk kebutuhan pabrik sendiri.

Presiden Direktur BCA, Jahya Setiaatmadja, menegaskan bahwa pihaknya terus berkomitmen mendukung pengembangan sektor industri dan infrastruktur seperti kelistrikan.

Kredit investasi seperti yang diberikan pada Growth Asia dharapkan memberikan kontribusi positif terhadap masyarakat luas mengingat pentingnya listrik untuk kebutuhan sehari-hari.

Langkah pemberian kredit investasi untuk power plant Biomassa juga merupakan bentuk kepedulian bank itu terhadap program pemerintah menekan subsidi BBM dan listrik serta mengurangi pencemaran lingkungan, katanya.
 
Editor: SASTROY BANGUN
(dat06/antara)

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment