Thursday, 22 March 2012 12:04    PDF Print E-mail
Asia Mega Mas jadi kawasan maksiat di Medan
Warta
RIDIN
Koordinator Liputan
WASPADA ONLINE


MEDAN - Bisnis prostitusi makin menjamur di Kota Medan. Menariknya, bisnis 'esek-esek' itu dikemas dan diberi nama panti pijat (massage) atau refleksi. Bahkan pekerjanya tidak segan-segan menawarkan jasa seks kepada para pengunjung.

Bahkan izin yang dikeluarkan Dinas Budaya dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Medan sebagai tempat kesehatan, banyak dilanggar oleh pengelola. Praktik terselubung tersebut dibuka di perumahan atau komplek, seperti Asia Mega Mas Jalan Aksara, Medan.

Warga sekitar pemukiman tersebut semakin resah dengan menjamurnya lokasi maksiat. Diyakini sejumlah warga dapat mengganggu kondisi pertumbuhan mental generasi muda, terutama dari kaum adam. Karena setiap hari, disuguhi tingkah laku yang genit dan seksi.

"Siapa yang tidak tergoda. Kita takut anak-anak dan keluarga ada yang terjerumus. Karena tempat ini bukan menjadi rahasia lagi," ujar Amidah, warga sekitar Komplek Asia Mega Mas.

Namun ironisnya, kata Amidah, usaha 'esek-esek' yang berkedok panti pijat atau refleksi ini dibeacking oleh oknum aparat. Bahkan Disbudpar selaku pihak berwenang tidak mampu mencabut izin operasional usaha 'esek-esek' tersebut.

Senada dengan itu, Hati Hasibuan mengatakan, dari bisnis ini, oknum polisi maupun camat, lurah dan OKP diduga mendapat upeti setiap bulan dari si pengelola untuk mengamankan bisnis ilegal tersebut. Sehingga tidak ada tindakan dari instansi terkait untuk melakukan razia.

"Kemana tokoh masyarakat kita, kenapa lokasi maksiat dibiarkan menjamur. Pihak kepolisian dan instansi terkait kenapa tidak bisa mengambil sikap untuk menutup bisnis tersebut. Ada apa ini. Apa mungkin karena uang membuat  mereka tidak bertindak," tanya Hati.

Adapun lokasi diduga protitusi di Asia Mega Mas, di antaranya Dior Salon, Nico Salon, Angel Refleksi, Tahi Refleksi Queen Salon, Freshly Salon, Zhipo Beuty end Halt Center, Bali dan lainnya tanpa ada penindakan yang  dilakukan aparatur pemerintah.

Menyikapi hal ini, penasihat Gerakan Daerah (Garda) Sumatera Utara, Muhammad Faisal Nasution mengatakan, pihaknya akan menyurati Disbudpar maupun instansi terkait untuk segera menutup bisnis 'esek-esek' tersebut. Karena permasalahan ini terkesan dibiarkan.

Seperti halnya dengan salon dan refleksi di Jalan Negara yang pernah di razia polisi dan mengamankan sejumlah pekerja seks komersial, namun bisnis tersebut masih tetap berjalani. "Ini  harus menjadi perhatian walikota untuk segera bertindak," pinta Faisal.

Untuk menghapus kawasan barak tersebut dari lokasi maksiat, kata Faisal, masyarakat di Kecamatan Medan Area telah berulangkali menyurati pihak kecamatan, kelurahan maupun kepolisian, serta dinas terkait untuk menertibkan praktik ilegal tersebut.

Namun pada kenyataannya, menurut Faisal, tidak berjalan.  Karena lokasi Asia Mega Emas telah menjelma menjadi kekuatan dan sandaran hidup bagi oknum-oknum yang melindungi pengusaha atau pengelola bisnis tersebut.

"Tapi kita sangat berharap agar dinas terkait menindaklanjuti laporan masyarakat. Setidaknya Pemko menurunkan Satuan Polisi Pamong Praja untuk melakukan penertiban tempat maksiat tersebut," pungkas Faisal.

Editor: PRAWIRA SETIABUDI

(dat18/wol)

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment