Wednesday, 23 November 2011 00:10    PDF Print E-mail
Nilai, etika sosial dan moralitas
Opini
RAMLI LUBIS
 
Krisis ini terjadi karena sendi-sendi beretika sosial dan menjaga nilai-nilai agama sudah dilupakan.
 
Jika kita membandingkan beberapa penggalan masa yang berlangsung, ada beberapa kesenjangan yang terjadi. Khususnya menyangkut etika sosial dan nilai-nilai moral yang dahulu kala merupakan kebanggaan bangsa ini. Sekarang, baik suka ataupun tidak suka, kita harus mengakui bahwa telah terjadi pergeseran dalam etika dan moral itu. Keduanya tidak lagi menjadi kebangaan.

Indikasinya runtuhnya nilai dan moralitas ini gampang saja. Karena perilaku tawuran dari mulai pelajar, mahasiswa, rakyat jelata sampai para wakil rakyat sudah jadi pemandangan sehari-hari. Perilaku yang menyedihkan ini sepertinya bahkan telah melampaui hukum adat dan budaya. Tidak ada lagi rasa pengagungan terhadap sikap menghargai orang yang lebih dewasa. Maka tanda bagi cacat etika itu sesungguhnya benar terjadi.

Ketika membahas masalah ini, serta merta telunjuk akan mengarah kepada sistem demokrasi yang telah menjadi idola di negeri ini. Bahkan ada yang percaya bahwa sistem demokrasi inilah yang menjadi biang matinya sebagian nilai-nilai dan budaya, terutama menyangkut moralitas di kalangan anak bangsa.

Demokrasi yang dipercaya sebagai sistem yang paling tepat dalam mengatur pola kehidupan sosial masyarakat modern, di sisi lain memiliki celah yang menganga lebar bagi penyebab pergeseran budaya dan nilai-nilai itu. Karena meski difahami bahwa tidak semua budaya yang datang dari belahan dunia Barat bisa diterapkan di negara, tapi kita seolah tak mampu menghadang deras masuknya aneka budaya asing yang di awalnya terasa tidak cocok, namun perlahan namun pasti bisa diterima dan bahkan mengakar.

Padahal, sebagai sebuah negeri, Indonesia memiliki ratusan suku dengan etika sosial dan adat yang sudah berlaku dari generasi ke generasi. Namun sayangnya negeri ini telah secara umum menunjukkan gejala kecacatan tersebut. Hal itu dapat kita lihat dari runtuhnya otoritas orang tua dan guru sebagai pengamat dan penjaga etika sosial dan moral di tengah-tengah masyarakat.

Krisis ini terjadi karena sendi-sendi beretika sosial dan menjaga nilai-nilai agama sudah dilupakan. Tidak ada lagi kepedulian kepada generasi muda dalam hal beragama dan berbudaya sesuai tuntutan budaya setempat. Ini dibuktikan dengan makin maraknya pelanggaran etika sosial bahkan jatuhnya moralitas para generasi tanpa bisa dicegah oleh guru dan orang tua. Akhirnya mari kita cegah tindakan perilaku generasi dari kecacatan etika sosial dan moralitas yang tidak sesuai dengan budaya kita, seingga akan tercipta masyarakat yang saling menjaga dan menghargai sesamanya.
 
Teori etika
Ketika berbicara tentang etika s sosial, maka tidak bisa dilepaskan dari masalah etika terhadap lingkungan. Lingkungan dalam arti sebuah organisme yang hidup yang berinteraksi secara lekat dengan keberadaan setiap mahluk di bumi ini. Pengembangan etika lingkungan hidup diperlukan untuk mengendalikan perubahan secara mendasar dari pandangan kosmologi yang menumbuhkan sikap hormat dan bersahabat dengan alam lingkungan (J. Sudriyanto, 1992:13).

Dewasa ini, terjadinya krisis ekologi telah meluas dan sangat berpengaruh pada pandangan kosmologi yang menimbulkan eksploitasi terhadap lingkungan. Relevansi pemikiran untuk memberikan landasan filosofis yang lebih mahal dan cocok semakin diperlukan. Semuanya ini terfokus pada manusia, sebagai peletak dasar dari semua permasalahan ini, serta mencari kedudukannya dalam seluruh keserasian alam yang menjadi lingkungan hidupnya. Maka, suatu etika yang mampu memberi penjelasan dan pertanggungjawaban rasional tentang nilai-nilai, asas dan norma-norma moral bagi perilaku manusia terhadap alam lingkungan ini akan sulit didapatkan tanpa melibatkan manusia.

Kita mengenal etika yang mendasarkan diri pada berbagai kepentingan individu (self). Egosentris didasarkan pada keharusan individu untuk memfokuskan diri dengan tindakan apa yang dirasa baik untuk dirinya. Egosentris mengklaim bahwa yang baik bagi individu adalah baik untuk masyarakat. Orientasi etika egosentris bukannya mendasarkan diri pada narsisisme, tetapi lebih didasarkan pada filsafat yang menitikberatkan pada individu atau kelompok privat yang berdiri sendiri secara terpisah seperti “atom sosial” (J. Sudriyanto, 1992:4)

Menurut Sonny Keraf (1990:31), inti dari pandangan egosentrisme ini adalah tindakan dari setiap orang pada dasarnya bertujuan untuk mengejar kepentingan pribadi dan memajukan diri sendiri. Maka etika egosentris mendasarkan diri pada tindakan manusia sebagai pelaku rasional untuk memperlakukan alam menurut insting “netral”. Hal ini didasarkan pada berbagai pandangan “mekanisme” terhadap asumsi yang berkaitan dengan teori sosial liberal.

Kita mengenal bahwa pengetahuan mekanistik didasarkan pada asumsi bahwa segala sesuatu merupakan bagian yang berdiri sendiri secara terpisah. Atom-atom merupakan komponen riil dari alam. Begitu juga manusia yang merupakan komponen riil dari masyarakat. Keseluruhan adalah penjumlahan dari bagian-bagian. Hukum identitas logika (A=A) mendasari penggambaran alam secara matematis. Demikian pula masyarakat, yang tidak lain merupakan penjumlahan dari banyak pelaku rasional individu.

Mekanisme mempunyai asumsi bahwa banyak sebab eksternal berlaku dalam berbagai bagian internal. Serupa dengan masyarakat, hukum dan berbagai aturan yang dipaksakan oleh penguasa akan ditaati oleh rakyat secara positif. Perubahan dapat terjadi dengan cara menyusun kembali bagian-bagiannya. Bangunan tuntutan masyarakat ditentukan oleh bagian-bagiannya tersebut.

Selanjutnya menurut J.Sudriyanto, ilmu mekanis selalu dualistik, seperti, pengetahuan mekanis menempatkan bagian individu sebagai komponen utama dalam pembangunan timbul korporat. Etika egosentris menempatkan manusia sebagai individu paling utama dalam pembangunan lingkungan sosial. Maka jelas sudah, gambaran ini memberikan sudut pandang yang lebar bagi kita untuk menilai pola-pola pergeseran nilai-nilai, etika sosial dan moralitas dalam masyarakat kita.
 
Rumusan norma
Rumusan tentang norma dan nilai pada dasarnya sama. Nilai sosial adalah suatu perbuatan atau tindakan yang oleh masyarakat dianggap baik. Nilai sosial dalam setiap masyarakat tidak selalu sama, karena nilai di masyarakat tertentu dianggap baik tapi dapat dianggap tidak baik dimasyarakat lain.

Nilai ini dibagi beberapa bagian yaitu: Nilai material artinya segala sesuatu yang berguna bagi manusia. Nilai vital artinya segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat melakukan aktivitas atau kegiatan. Nilai kerohanian artinya segala sesuatu yang berguna bagi rohani manusia.

Selanjutnya norma sosial adalah suatu petunjuk hidup yang berisi larangan maupun perintah.

Yang membedakan nilai dan norma adalah nilai merupakan sesuatu yang baik, diinginkan, dicita-citakan dan dipentingkan oleh masyarakat. Sedangkan norma adalah kaidah atau pedoman, aturan berperilaku untuk mewujudkan keinginan dan cita-cita tersebut, atau boleh dikatakan nilai adalah pola yang diinginkan sedangkan norma adalah pedomana atau cara-cara untuk mencapai nilai tersebut.

Norma merupakan faktor perilaku dalam kelompok tertentu yang memungkinkan seseorang untuk menentukan terlebih dahulu bagaimana tindakan akan dinilai orang lain. Norma merupakan aturan, pedoman, atau petunjuk hidup dengan sanksi-sanksi untuk mendorong seseorang, kelompok, dan masyarakat mencapai dan mewujudkan nilai-nilai sosial. Norma-norma merupakan aturan yang tumbuh dan hidup dalam masyarakat sebagai unsur pengikat dan pengendali manusia dalam hidup masyarakat.
 
Penutup
Nilai dan norma tersebut adalah bahan bakar bagi wujud nyata moralitas sosial. Dengan begitu, jelas sekali bahwa norma dan nilai-nilai adalah ruh bagi terciptanya sebuah masyarakat yang maju dan berkembang. Pembangunan sebuah bangsa tidak bisa tidak harus dimulai dari pembangunan ruh-nya ini, bari seara fisik pembangunan bisa berlangsung secara efektif, optimal dan rasional.
 
Penulis adalah Mantan Wakil Walikota Medan.
(dat15/waspada)