Saturday, 05 November 2011 00:10    PDF Print E-mail
Memaknai hakikat kurban
Opini
Satu bulu satu kebaikan. Itulah gambaran kata yang menyuguhkan tentang orang yang berkurban di hari raya haji atau Idul Adha. Perayaan Idul Adha memang tidak semeriah Idul Fitri.

Namun, bagi orang yang menjalankan ibadah haji maka hari raya seperti ini di Arab Saudi tidak akan kalah dengan Idul Fitri. Idul Adha pastinya dilatari oleh pengorbanan Nabi Ibrahim terhadap anaknya.

Sejarah itulah yang tertera dalam Alquran dan kemudian diamalkan hingga saat ini. Dalam laporan berbagia media, kemarin, sudah lebih dari 2,5 juta jamaah yang menunaikan haji meninggalkan Makkah untuk wukuf di Arafah.

Pemerintah Arab Saudi telah menyelesaikan semua persiapan bagi pertemuan paling besar umat Islam itu dengan mengerahkan semua sumbernya guna menjamin kenyamanan dan keamanan jamaah (Harian Waspada, edisi Jumat 4/11).

Dari sisi ekonomi setiap kali perayaan Idul Adha tetap saja banyak keuntungan bagi masyarakat. Terutama para pedagang hewan kurban. Ini rutinitas yang tidak bisa kita kesampingkan setiap tahun.

Jadi walaupun ini merayakan orang yang berhaji tapi masyarakat kebanyakan pun akan mendapat hikmah dari ibadah tersebut. Sekarang mari kita maknai hakikah berkurban. Berkurban sebenarnya hanya diwajibkan bagi yang mampu melakukannya.

Menyembeli hewan pada Idul Adha adalah simbol pengorbanan yang harus dilakukan setiap orang atas dirinya sendiri. Karena pada hakikatnya hewan kurban itu kita yang menikmati (manusia).

Sedangkan yang akan sampai dihadapan-Nya adalah ketakwaan yang mendasari pengorbanan tersebut. Pengorbanan yang sebenarnya adalah pengorbanan diri atas segala sesuatu yang dimilikinya. Ketika binatang kurban disembelih melambangkan hilangnya sifat kebinatangan dalam diri kita.

Memaknai kurban berarti menjadikan manusia terangkat dari sisi kebinatangan. Itulah yang harus menjadi filosofi dasar ibadah kurban bagi yang melaksanakannya. Ketakwaan adalah dasar pengorbanan dilandasi kecintaan, karena kecintaan menjadi unsur untuk memperoleh keberhasilan dalam pengorban.

Allah SWT mencintai hamba yang selalalu mencintai-Nya dan membuktikannya dengan mencintai orang-orang yang dicintai-Nya. Pengorbanan menjadi salah satu sarana untuk membuktikan cinta hamba kepada Allah SWT, yaitu dengan jalan mengabdikan dirinya kepada Rasulullah Muhammad SAW.

Kajian sederhana ini sebenarnya harus memberi kita inspirasi bahwa seperti itulah berkurban. Daging kurban itu nantinya bukan untuk dimakan sendiri. Tapi akan dibagikan kepada orang lain di sekitar.

Berarti dengan kita berkurban seperti mengangkat sifat kebinatangan dari diri sendiri. Selebihnya yang dibagikan kepada kaum dhuafa adalah bukti kalau kita juga menyayangi hamba Allah yang lain.

Bagi kaum dhuafa yang selama ini sering kesulitan buat makan, ketika ada daging kurban mereka akan sangat bersukacita. Semoga kemudian menjadi kebaikan bukan saja untuk mereka tetapi juga bagi yang berkurban.

Makan daging pun mungkin hanya mampu mereka dapatkan sekali setahun ketika ada pembagian hewan kurban. Atas dasar itu pulalah seharusnya kita tetap berprinsip bahwa daging kurban yang kita bagikan ikhlas lillahi taala.

Karena itulah yang akan sampai kepada Allah. Seperti disebutkan dalam surah Al Hajj ayat 37: Dagingnya sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah dan tidak pula darahnya, akan tetapi ketakwaanmulah yang akan sampai kepada-Nya. Demikianlah Dia menundukkan mereka untuk kamu, supaya kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia telah berikan kepadamu. Dan berikan khabar suka kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.

Dengan berkurban selain keikhlasan tentu saja akan mendorong umat Islam mengukuhkan tali persaudaraan. Mengingatkan pribadi masing-masing untuk saling berbagi kepada mereka yang serba kekurangan.

Kita pun berharap kalau ibadah kurban ini bukan saja dimaknai saat Idul Adha. Tapi juga berlaku sepanjang tahun karena sesungguhnya berkurban banyak mengajari agar yang kaya memperhatikan kaum dhuafa dan dhuafa merasa diperhatikan. Kesenjangan sosial pun setidaknya terkikis.
(dat15)