Friday, 12 August 2011 06:02    PDF Print E-mail
“Naskah proklamasi” dan proses kelahirannya
Opini
MUHAMMAD TOK WAN HARIA

Berkat rakhmat Allah YME dan didorongkan keinginan luhur, supaya kehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaanya. Demikian bunyi alinea ketiga pembukaan Undang-undang Dasar Republik Indonesia yang waktu itu disebut “Piagam Jakarta”. Dari kandungan alinea ini lahirlah kalimat : “Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaanya” Agar ada komplemennya yang menyatakan bagaimana caranya menyelenggarakan revolusi nasional Indonesia, maka lahirlah kalimat yang berbunyi sebagai berikut : “Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan diselenggarakan dalam tempo sesingkat-singkatnya.” Kedua kalimat ini menyatu dalam “Naskah Proklamasi”.

Dalam kaitan ini mungkin timbul pertanyaan, bagaimana memanfaatkan Preambul atau Pembukaan UUD alinea ke tiga, apakah waktu itu telah ada UUD untuk Republik Indonesia? Jawabnya, Pembukaan UUD yang dikenal dengan “Piagam Jakarta” dan Undang-undang Dasarnya, memang telah disusun beberapa bulan sebelum proklamasi kemerdekaan. Tapi belum disahkan, baru disahkan tanggal 18 Agustus 1945, setelah pengesahan itu tidak disebut lagi “Piagam Jakarta” tapi “Pembukaan UUD 1945. Tiga alinea tidak berobah yang berobah kalimat alinea ke empat yang berbunyi : Dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya.”

Atas usul Mr  Teuku M Hasan kepada Ki Bagus Hadikusumo, kalimat yang tujuh kata itu diganti dengan “Ketuhanan Yang Maha Esa” demi persatuan dan kesatuan bangsa. Usul ini diterima oleh Ki Bagus Hadikusumo.

Pengumuman Proklamasi
Detik-detik paling bersejarah adalah pada saat pemimpin bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaan negeri ini. Dengan diumumkannya kemerdekaan Indonesia oleh Proklamator Soekarno Hatta atas nama bangsa Indonesia yang memegang kedaulatan rakyat dan dengan pemindahan kekuasaan kepada Republik Indonesia. Pada hari proklamasi itu telah terbentuk hak dari perjuangan pergerakan bangsa Indonesia. Ditinjau dari segi hukum maka proklamasi itu adalah “source of the sources” atau “dasar dari segala dasar ketertiban baru” di tanah Indonesia sejak tanggal 17 Agustus 1945. Kemudian berlakulah Undang-undang Dasar Republik Indonesia yang batang tubuh Konstitusi itu adalah perwujudan dari ajaran Pancasila.

Teks proklamasi yang diucap Bung Karno tanggal 17 Agustus hari Jum’at dan bertempatan 17 Ramadhan telah ada dalam kantong Adam Malik salah seorang pemuda radikal yang bersama Sukarni mendesak Bung Karno segera memproklamirkan kemerdekaan.

Adam Malik membacakan teks proklamasi itu melalui telpon kepada Asa Bafaqih anggota redaksi “Antara” untuk disiarkan melalui Kantor Berita Jepang DOMEI, dengan instruksi pendek : “jangan sampai gagal.” Berkat keberanian Penghulu Lubis dari “Antara” menyelipkan teks proklamasi dalam “morsecast” Kantor Berita DOMEI, melalui tangan markonis Wau yang dijaga oleh markonis Sugirin, maka berkumandanglah seluruh dunia berita bahwa “Indonesia telah merdeka”.

Naskah Proklamasi dan Kekuatannya
Seharusnya para pemuda akan menyiarkan teks proklamasi itu pada saat dibacakan oleh kedua pemimpin Indonesia, akan tetapi stasiun radio di Jakarta sejak tanggal 15 Agustus dijaga ketat oleh Kompetai Jepang. Baru malam harinya jam 19.00 teks proklamasi itu disiarkan dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Tetapi hanya dapat didengar oleh penduduk sekitar Jakarta. Kemudian pegawai teknik menyalurkan siarannya melalui siaran luar negeri melalui pemancar satu-satunya yang ada di Bandung. Dengan demikian pendengar Australia lebih dahulu mendengar Indonesia merdeka dari bangsa Indonesia. Penyiar radio Bandung (bekas Hoso Kyoku) yang dibaca oleh Sakti Alamsyah dengan resiko diberondong metraliur Kompetai Jepang. Siaran melalui Bandung itu diudarakan melalui gelombang pendek 16 meter, 19 meter, 24 meter, dan 45 meter.

Harus diakui teks proklamasi atau Naskah Proklamasi itu kalimatnya begitu sederhana tetapi tenaga bahasanya cukup kuat. Meski ringkas tetapi mengandung makna dan berhubungan dengan perjuangan yang dilakukan oleh kaum pergerakan untuk mencapai kemerdekaan.

Dalam kaitan Naskah Proklamasi ini, Prof. Mohd Yamin dalam bukunya “Proklamasi dan Kontitusi RI” menegaskah : Meskipun Naskah Proklamasi sangat sederhana kalimatnya, tapi sama kuatnya dengan “Declaration of Independence (4 Juli 1776) bagi revolusi Amerika. Juga sama kuatnya denga revolusi Lenin (November 1917) bagi Revolusi Sovyet.

Kalau kita telusuri kembali proses kelahiran Naskah Proklamasi dan Pengumuman Proklamasi, rangkaiannya adalah sebagai berikut : Tanggal 6 Agustus Hiroshima hancur berkeping-keping akibat ledakan bom atom. 9 Agustus giliran Nagasaki porak poranda. Tanggal 14 Agustus 1945 Bung Karno dan Bung Hatta kembali dari Dalat, 15 Agustus Jepang menyerah kepada Sekutu. Bung Karno masih belum mau memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.

Menjelang sahur  tanggal 16 Agustus dengan bantuan anggota PETA pemuda radikal menculik Bung Karno dan Bung Hatta dan membawa mereka ke Rengasdengklok agar meproklamirkan kemerdekaan di tempat itu. Adam Malik tidak turut dalam penculikan itu, dia tetap berada di Jakarta untuk menyiarkan proklamasi kemerdekaan ke seluruh dunia melali Kantor Berita Jepang Domei. Setelah Bung Karno dan Bung Hatta tahu secara pasti Jepang telah kalah, Bung Karno dan Bung Hatta kembali ke Jakarta.

Berdebat Dengan Jenderal Nisyimura

Bung Karno, Bung Hatta, Subardjo dan Sukarni yang berseragam PETA kembali ke Jakarta. Menurut Bung Hatta dalam bukunya “Sekitar Proklamasi” Mereka sampai di Jakarta jam 8.00 malam. Bung Karno, Fatmawati dan Guntur telah diantar ke rumahnya. Sesampai di rumah Bung Hatta di Jalan Diponegoro 57, Bung Hatta menyuruh telpon Admiral Mayeda untuk meminjamkan ruang tengah rumahnya guna dilangsungkan rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan. Kemudian seluruh anggota Panitia berkumpul di sana.

Sebelum Bung Karno dan Bung Hatta ke rumah Mayeda di Jalan Syowa Dori (Oranye Boulevard) lebih dahulu singgah dirumah seorang petinggi Jepang Mayor Jenderal Nisyimura. Kepada petinggi Jepang ini Bung Karno, Bung Hatta mengatakan, malam ini kami akan meneruskan rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia yang pagi tidak jadi dilaksanakan karena kami diculik oleh para pemuda dan dibawa ke Rengasdengklok.

Nisyimura mengatakan, kalau tadi pagi masih dapat dilangsungkan mulai pukul 1.00 tadi siang tentara Jepang di Jawa tidak mempunyai kebebasan bergerak lagi. Jadi sekarang rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan itu terpaksa kami larang, demikian kata Jenderal Nisyimura.

Bung Karno-Bung Hatta mengatakan : kami minta Jepang jangan menghalang-halangi kami. Rakyat Indonesia dengan pemuda di depan bersedia mati untuk melaksanakan cita-cita Indonesia merdeka. Nasyimura menjawab : “Saya mengerti dan dapat merasakan cita-cita rakyat Indonesia. Saya menangis dalam hati tapi apa boleh buat kami sebagai alat telah menerima perintah menghalang-halangi setiap perubahan.” Kemudian Sukarno Hatta bertanya : “Apakah tentara Jepang akan menembaki pemuda Indonesia sebagai bunga bangsa yang bergerak untuk kemerdekaan?”.

Nisyimura menjawab : “Dengan hati berat kami terpaksa melaksanakannya.” Sukarno-Hatta kemudian menjawab lagi: “Kami akan berjalan terus apapun yang akan terjadi setelah hampir dua jam berdebat tanpa hasil. Bung Karno dan saya kembali ke rumah Admiral Mayeda.

Dirumah Mayeda telah lengkap hadir Anggota Panitia Persiapan Kemderdekaan Indonesia pemimpin-pemimpin pemuda dan beberapa orang pemimpin pergerakan. Semua ada berjumlah 40 atau 50 orang. Setelah duduk sebentar sambil menceritakan hal-hal yang diperdebatkan dengan Nisyimura.

Bung Hatta Yang Dikte Bung Karno Yang Tulis
Bung Karno dan saya demikian tulis Bung Hatta mengundurkan diri dan bergerak menuju ke sebuah ruang kecil bersama dengan Subardjo, Sukarni, dan Sayuti Malik. Kami duduk du sebuah meja dengan maksud untuk membuat sebuah teks ringkas tentang proklamasi. Tidak ada seorangpun diantara kami yang mempunyai teks yang resmi yang dibuat tanggal 22 Juni 1945.

Bung Karno berkata : Saya persilakan Bung Hatta menyusun teks singkat itu, sebab bahasanya, saya anggap lebih baik, setelah itu kita persoalkan bersama-sama. Setelah kita peroleh persetujuan, kita bawa ke sidang lengkap yang sudah hadir di ruang tengah. Kalau saya mesti memikirkannya, kata bung Hatta lebih baik Bung Karno yang menuliskan saya yang mendiktekannya. Kalau semua setuju kalimat pertama diambil dari alinea ketiga rencana Pembukaan Undang-undang Dasar mengenai Proklamasi, yang berbunyi : “Kami Bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia.” Tapi, kata Bung Hatta kalimat itu harus menyatakan kemauan bangsa Indonesia untuk menentukan nasib sendiri. Sebab itu mesti ada koplemennya yang menyatakan bagai mana caranya menyelenggarakan revolusi nasional. Lalu Bung Hatta mendiktekan kalimat yang berbunyi sebagai berikut : “Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuaasan diselenggarakan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya”. Setelah bertukar fikiran teks ini disetujui oleh anggota panitia kecil yang berjumlah lima orang.

Setelah selesai kerja panitia kecil mereka masuk ke ruang tengah disana telah berkumpul anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Bung Karno membacakan isi Naskah Proklamasi Kemerdekaan itu. Gemuruh suara menyatakan setuju. Bung Hatta kemudian mengatakan kalau saudara semua setuju maka saya usulkan semua yang hadir ini yang menanda tangani Naskah Proklamasi itu. Tidak lama sesudah itu Sukarni maju ke depan dan menyatakan Naskah Proklamasi cukup ditanda tangani oleh dua orang saja atas nama bangsa Indonesia yaitu Soekarno-Hatta.

Dalam pada itu dapat dijelaskan, bahwa tahun 1970-an dalam satu wawancara penulis dengan Mr. Teuku Moehd Hasan menyatakan beliau juga tidak setuju Naskah Proklamasi itu ditanda tangani beramai-ramai. Ketika saya menyatakan tidak setuju sambil menumbuk meja, kata Mr. Mohd Hasan.

Demikian sekelumit kisah proses lahirnya “Naskah Proklamasi” Kemerdekaan yang kini kita memperingati Hari Kemerdekaan yang ke 66. Dirgahayu Hari Kemerdekaan.

Penulis wartawan senior, Veteran Pejuang Kemerdekaan, Pemerhati Sejarah

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment