Monday, 30 May 2011 06:04    PDF Print E-mail
Karakter pendidikan
Opini
SUWARDI LUBIS

Isu utama dunia pendidikan kita sekarang ini menyangkut pendidikan karakter. Pendidikan seperti ini dipercaya selain menjadi bagian dari proses pembentukan akhlak anak bangsa, juga dianggap mampu menjadi pondasi utama dalam mensukseskan Indonesia Emas 2025.

Maka tidak heran kalau dalam perspektif Kemdiknas, pendidikan karakter menjadi fokus pendidikan di seluruh jenjang pendidikan yang dibinanya, tidak kecuali di pendidikan tinggi. Wakil Menteri Pendidikan Nasional, Prof dr Fasli Jalal, PhD menyatakan bahwa pendidikan karakter sangat erat dan dilatarbelakangi keinginan mewujudkan konsensus nasional yang berparadigma Pancasila dan UUD 1945.

Konsensus tersebut selanjutnya diperjelas melalui UU No 20 tahun 2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional, yang berbunyi “ Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokrasi serta bertanggung jawab.”

Tulisan ini merupakan narasi yang diharapkan dapat menjadi sumbang saran dalam aplikasi proses pendidikan yang dicita-citakan tersebut.

Perkembangan kognitif
Ada beberapa pendekatan dalam menjelaskan perkembangan kognitif dalam dunia pendidikan. Salah satunya adalah teori konstruksi pemikiran sosial yang merupakan suatu  perspektif yang menyatakan bahwa lingkungan sosial dan budaya akan memberikan pengaruh terbesar terhadap pembentukan kognisi dan pemikiran anak.

Dalam teori Perkembangan Sosial Kognitif dikembangkan Lev Vygotsky, memiliki implikasi langsung pada dunia pendidikan. Teori Vygotsky menyatakan bahwa anak belajar secara aktif lebih baik daripada secara pasif. Teori ini kerap dijadikan salah satu bahasan kajian. Alasannya, ia memiliki penilaian tersendiri yang membedakannya dengan para tokoh yang lain.

Vygotsky merupakan satu di antara tokoh konstruktivis. Di mana konstruktivisme adalah argumen bahwa pengetahuan merupakan konstruksi dari seseorang yang mengenal sesuatu. Seseorang yang belajar dipahami sebagai seseorang yang membentuk pengertian/pengetahuan secara aktif dan terus-menerus.

Sumbangan penting teori Vygotsky adalah penekanan pada hakekatnya pembelajaran sosiokultural. Inti teori Vygotsky adalah menekankan interaksi antara aspek “internal” dan “eksternal” dari pembelajaran dan penekanannya pada lingkungan sosial pembelajaran. Menurut teori ini, fungsi kognitif berasal dari interaksi sosial masing-masing individu dalam konsep budaya. Vygotsky juga yakin bahwa pembelajaran terjadi saat siswa bekerja menangani tugas-tugas yang belum dipelajari namun tugas-tugas itu berada dalam zone of proximal development mereka. Ini adalah zona jarak antara tingkat perkembangan sesungguhnya yang ditunjukkan dalam kemampuan pemecahan masalah secara mandiri dan tingkat kemampuan perkembangan potensial yang ditunjukkan dalam kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau teman sebaya yang lebih mampu.

Teori ini menjabarkan implikasi utama teori pembelajarannya. Pertama, menghendaki setting kelas kooperatif, sehingga siswa dapat saling berinteraksi dan saling memunculkan strategi-strategi pemecahan masalah yang efektif dalam masing-masing zone of proximal development mereka. Kedua, pendekatan Vygotsky dalam pembelajaran menekankan scaffolding. Jadi teori belajar Vygotsky adalah salah satu teori belajar sosial sehingga sangat sesuai dengan model pembelajaran kooperatif karena dalam model pembelajaran kooperatif terjadi interaktif sosial yaitu interaksi antara siswa dengan siswa dan antara siswa dengan guru dalam usaha menemukan konsep-konsep dan pemecahan masalah

Dalam aplikasinya, teori ini menuntut pada penekanan interaksi antara peserta didik dan tugas- tugas belajar. Mengedepankan suatu proses belajar dimana siswa lebih berperan aktif. Dengan demikian peran guru lebih bergeser lebih menjadi fasilitator konstruksi siswa.

Pembelajaran juga dituntut menggunakan zone of proximal development. Dengan penyesuaian terus menerus. Selanjutnya adalah dengan banyak menggunakan teman sebaya sebagai guru. Artinya bahwa memang bukan hanya orang dewasa yang mampu membantu seorang anak dalam perkembangan kognitifnya. Karena faktanya memang bahasa teman sebaya lebih mudah untuk dipahami dalam interaksinya.

Analisis awal adalah langsung membandingkan inti teori Vygotsky. Hal pertama yang menjadi  sorotan kita adalah tentang argumen bahwa interaksi sosial dan budaya lebih berperan dalam pengembangan kognitif anak. Inti penekanan teori adalah bahwa interaksi sosial dengan sesuatu di luar dirinya yang membuat kognitif anak berkembang. Dengan demikian, zone proximal development anak semakin meningkat.

Pada intinya dapat disimpulkan bahwa dalam teori ini mengandung banyak unsur  psikologi pendidikan, khususnya pokok bahasan pendidikan dan budaya. Jika dalam teori ini  anak perlu berinteraksi dengan budaya. Maka dalam filsafat pendidikan pun dapat kita temukan bahwa bahasa, sebagai hasil budaya juga menjadi sangat sentral bagi berkembangnya kognitif. Bahasa menjadi alat transfer ilmu. Beberapa konsep dalam psikologi pendidikan juga selaras dengan teori pengembangan kognitif Vygotsky. Psikologi pendidikan telah memberikan landasan filosofis bagi teori-teori pengembangan intelektual.

Kebutuhan
Kita mencoba mengelaborasi pemikiran Abraham Maslow terkait kebutuhan di sekolah. Paparan Maslow tentang Teori Hierarki Kebutuhan Individu coba kita aplikasikan ke dalam kebutuhan sekolah atau untuk kepentingan proses pendidikan.

Kita tahu, Maslow membagi kebutuhan manusia ke dalam lima kebutuhan yang membentuk tingkatan-tingkatan atau disebut juga hirarki dari yang paling penting hingga yang tidak penting dan dari yang mudah hingga yang sulit untuk dicapai atau didapat. Lima kebutuhan dasar Maslow berikut ini disusun berdasarkan kebutuhan yang paling penting hingga yang tidak terlalu krusial.

Pertama, kebutuhan fisiologis seperti sandang, pangan, papan, dan kebutuhan biologis. Kedua, kebutuhan keamanan dan keselamatan seperti tidak terancam lain sebagainya. Ketiga, kebutuhan sosial seperti memiliki teman, memiliki keluarga dan lain-lain. Keempat, kebutuhan penghargaan seperti penghargaan, hadiah dan lainnya. Kelima, kebutuhan aktualisasi diri yakni kebutuhan bertindak sesuai dengan bakat dan minatnya.

Aplikasi kebutuhan fisiologi dalam dunia pendidikan bisa berupa penyediaan infrastruktur pendidikan yang memadai. Sebutlah, bangunan yang representatif, ruang kelas, ruang kamar mandi, ruang istirahat, ruang pertemuan yang nyaman.

Kebutuhan rasa aman diaplikasikan dengan sikap guru yang melakukan pendekatan pertemanan dengan peserta didik. Lebih memposisikan diri sebagai teman ketimbang hakim ataupun polisi dengan tetap mengendalikan suasana kelas, menegaskan disiplin dan aturan reward and punishment secara konsisten.

Kebutuhan sosial diaplikasikan dengan sinergi antara hubungan antara guru dengan siswa, hubungan antara siswa dengan siswa. Dalam hubungan antara guru dengan siswa misalnya, guru menunjukkan sikap peduli, sabar dan terbuka hingga menimbulkan ketertarikan siswa. Guru lebih banyak memberikan umpan balik positif, menghormati setiap keputusan siswanya dan bisa diandalkan setiap munculnya masalah pada diri siswa. Sedangkan dalam hubungan antar siswa adalah mendorong sikap saling percaya antar siswa, seperti membentuk berbagai forum disukusi, olahraga dan lainnya.

Aplikasi kebutuhan akan penghargaan misalnya dilakukan dengan scaffolding atau pengembangan pengetahuan baru berdasarkan latar pengetahuan dan kebutuhan peserta didik. Mengembangkan strategi pembelajaran yang bervariasi, melibatkan seluruh isi kelas untuk berpartisipasi dan bertanggungjawab.

Sedangkan pemenuhan kebutuhan aktualisasi diri seperti dengan memberikan kesempatan kepada bagi peserta didik melakukan yang terbaiknya dan menjelajah kemampuan dan potensi yang dimilikinya. Pembelajaran dilakukan secara momentum atau dikaitkan dikaitkan dengan kondisi yang sedang terjadi.

Penutup

Adalah suatu keniscayaan bahwa pendidikan karakter itu harus didahului oleh karakter pendidikan itu sendiri. Kalau pendidikan karakter adalah prosesnya dan peserta didik yang berkarakter kebangsaan itu adalah outputnya, maka karakter pendidikan itu adalah bahan bakunya.

Penulis adalah Guru Besar USU Dan STIK-P.