Tuesday, 14 August 2007 06:37    PDF Print E-mail
Seks Bebas, HIV/AIDS, Narkoba Ancaman Loss Generation
Opini
Akhir-akhir ini, ancaman HIV/AIDS kian mengkhawatirkan. Hal ini didasarkan epideminya yang sangat cepat, sebagaimana laporan terakhir UNAIDS, yang saat ini tercatat 39,5 juta penderita HIV/AIDS.

WASPADA Online
Oleh Windry Lestari, ST
Akhir-akhir ini, ancaman HIV/AIDS kian mengkhawatirkan. Hal ini didasarkan epideminya yang sangat cepat, sebagaimana laporan terakhir UNAIDS, yang saat ini tercatat 39,5 juta penderita HIV/AIDS. Selain itu, penyakit yang menghabisi sistem kekebalan tubuh ini, hingga sekarang belum ditemukan obatnya, karena antiretroviral hanya mengurangi aktivitas virus dan infeksi oportunistik.

Di Indonesia, menurut DepKes RI, hingga 30 September 2006, tercatat 11.604 orang penderita HIV/AIDS. Ini berarti dalam waktu dua tahun, peningkatan insiden 178%. Karena fenomena gunung es jumlah yang sesungguhnya jauh lebih besar. Insiden terutama terjadi pada usia produktif dan juga pada bayi serta anak-anak. Jika dan loss generation. Inilah alasan penting, mengapa HIV/AIDS harus segera diatasi.

Pencegahan Semu
Upaya pencegahan HIV/AIDS pun gencar dilakukan. LSM-LSM telah banyak memberikan edukasi kepada mereka  yang rentan terkena HIV/AIDS. Di antaranya dengan mengadakan penyuluhan kepada para pelaku seks aktif, seperti Pekerja Seks Komersial (PSK). Bukan itu saja, pengetahuan tentang HIV/AIDS pun telah dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan. Pemerintahan Kabupaten Merauke dan Biak, Provinsi Papua, bekerjasama dengan Dinas Pendidikan setempat mulai memasukkan pelajaran mengenai seluk-beluk HIV/AIDS dan penyakit menular lain dalam kurikulum pendidikan tahun ajaran 2007/2008 ini.

Materi tentang HIV/AIDS, sebagai bahan mata pelajaran muatan lokal di sekolah, akan diajarkan mulai sekolah dasar hingga SMA/SMK, dengan tujuan agar siswa memperoleh berbagai pengetahuan tentang penularan HIV/AIDS dan tata cara pencegahannya. Materi tentang HIV/AIDS juga dikemas dalam kurikulum Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) dan sedang disosialisasikan ke sekolah-sekolah.

Sayang, materi penyuluhan tentang HIV/AIDS untuk masyarakat umum maupun pelajar itu minus muatan moral dan agama. Bahkan faktor moral dan agama seganja dihilangkan dan sama sekali tabu dibicarakan, karena menurut mereka, HIV/AIDS sekadar fakta medis yang tidak bisa dikait-kaitkan dengan moral dan agama. Ini karena menurut mereka, tidak semua ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) adalah para pelaku tidak amoral seperti pelaku seks bebas. Ada anak yang tertular HIV/AIDS dari ibunya, atau istri baik-baik tertular dari suaminya.

Jadi dalam logika ini, memasukkan nilai-nilai moral atau agama hanya akan memvonis ODHA sebagai pelaku tindak amoral. Padahal, penyakit HIV/AIDS jelas-jelas terkait dengan perilaku sosial yang tentu erat kaitannya dengan moral. Sebab jika ditelususri, munculnya HIV/AIDS terjadi karena aktivitas sosial yang menyimpang dari tuntunan agama. Ingat, virus mengerikan ini pertama kali ditemukan tahun 1978 di San Francisco Amerika Serikat pada kalangan homoseksual. Di Indonesia kasus HIV/AIDS ini pertama kali ditemukan pada turis asing di Bali tahun 1981. Kita tahu, bagaimana perilaku seks turis asing, meski tak semuanya memang penganut seks bebas. Karena itu, minusnya muatan agama dalam kurikulum penyuluhan HIV/AIDS dipastikan tidak akan membuat upaya pencegahan penyebaran HIV/AIDS efektif.

Belum lagi bila dilihat materi penyuluhan atau kurikulum pencegahan HIV/AIDS yang bersumber dari UNAIDS (United Nation Acquired Immune Deficiency Sy ndrome) dan WHO melalui PBB. Dalam kampanyenya pencegahan HIV/AIDS, ada istilah ABCD, yakni A= Abstentia alias jangan berhubungan seks ; B= be faithfull alias setialah pada pasangan, C= condom alias pakailah kondom, atau D= drugs atau hindari obat-obatan.

Solusi yang ditawarkan tampaknya bagus. Namun, pada realitasnya program kondomisasi lebih mendominasi. Padahal, orang bodoh pun tahu bahwa menyodorkan kondom sama saja menyuburkan seks bebas. Apalagi, faktanya kondom justru dibagikan di lokasilokasi prostitusi, hotel dan tempat-tempat hiburan yang rentan terjadinya transaksi seks. Lagipula, efektivitas kondom dalam pencegahan HIV/AIDS masih diperdebatkan, mengingat tidak ada produsen kondom yang berani mengklaim 100 % produknya aman tak bisa ditembus virus  HIV/AIDS. Selanjutnya, untuk mencegah substitusi kondom, legalisasi jarum suntik dan anti-diskriminasi terhadap ODHA. Jika dicermati, dengan solusi yang ditawarkan tersebut virus HIV/AIDS justru semakin menyebar. Kenapa demikian? Mari kita lihat satu persatu.

Substitusi Metadon. Metadon adalah turunan narkoba (morfin, heroin dkk) yang mempunyai efek adiktif (nyandu) dan menyebabkan 'loss control' (tidak mampu mengendalikan diri). Dengan dalih agar tidak menggunakan narkoba suntik metadon pun ditempuh karena metadon melalui mulut. Akibat dari program ini, 'loss control' penularan yang utama virus HIV/AIDS. Harga metadon di Puskesmas Rp5000 dan dapat dibeli secara bebas dan terang-terangan.

Akses metadon yang mudah dan murah akan memperluas pengguna metadon. Adiktif (nyandu) akan melestarikan pengguna narkoba. Legalisasi Jarum Suntik. Dengan dalih agar tidak terjadi penggunaan jarum suntik secara bersama-sama, legalisasi jarum pun dilakukan. Padahal dengan langkah ini berarti ada upaya legalisasi penggunaan narkoba suntik (tetap dilestarikan). Selain itu jarum suntik akan tetap digunakan secara bersama-sama karena pengguna karena pengguna narkoba menjadi loss control sehingga mendekatkan pada kemungkinan seks bebas. Di samping itu pengguna narkoba pun bisa jadi akan semakin banyak.

Anti Deskriminasi terhadap ODHA. Dengan dalih hak asasi manusia (HAM) para ODHA maka digulirkan isu anti diskriminasi ODHA. Opini menyesatkan pun dibangun bahwa air liur, air keringat, tinja, air seni, air mata ODHA tidak mengandung virus HIV. Padahal sejatinya seluruh cairan tubuh ODHA mengandung virus HIV dan mampu menularkan kepada orang lain. Dengan demikian jelaslah bahwa solusi yang diberikan/ditawarkan oleh PBB untuk memberantas penyakit AIDS tidak memberantas faktor penyebab utama (akar masalah) atau menghilangkan media penyebarannya yaitu seks bebas, namun justru melestarikannya. Dengan melestarikan seks bebas, virus HIV/AIDS ini akan semakin merajalela. Tidak hanya dikalangan pelaku seks bebas, bahkan akan meluas kepada setiap korban yang berinteraksi dengan sang pelaku.

Ketika kondom dilegalisasi, maka akan berdampak pada membludaknya pelaku seks bebas, kehamilan tidak diinginkan di kalangan remaja khususnya serta aborsi yang merajalela. Legalisasi jarum suntik steril anti diskriminasi pada ODHA akan berdampak pada penyebaran dan pembludakan HIV/AIDS dan meningkatnya jumlah penderita HIV/AIDS. Ditambah lagi metadon yang difasilitasi secara resmi dan struktural oleh pemerintah akan melestarikan pengguna narkoba, bahkan justru akan bertambah karena murah dan mudah didapat. Rencana ini akan berjalan secara struktural dan sistematis memalui jaringan pemerintah (yang dipaksakan) sampai tingkat Puskesmas dan masyarakat akar rumput. Artinya, upaya ini bersifat struktural (serempak dan menyeluruh dari pusat sampai daerah bahkan desa-desa).

Solusi Preventif dan Kuratif
Transmisi utama (media penularan yang utama) penyakit HIV/AIDS adalah seks bebas. Oleh karena itu pencegahannya harus dengan menghilangkan praktik seks bebas tersebut. Hal ini meliputi media-media yang meransang (pornografi-pornoaksi), tempat-tempat prostitusi, club-club malam, tempat maksiat atau pelaku maksiat. Penderita HIV/AIDS yang tidak karena melakukan maksiat maka tugas negara adalah mengkarantina mereka. Sebuah hadist Rasulullah SAW memungkin ditempuh cara seperti ini. Sekali-kali janganlah orang yang berpenyakit menularkan kepada orang sehat. (HR. Bukhori).

Apabila kamu kamu mendengar ada wabah di suatu negeri maka janganlah kamu memasukinya dan apabila wabah itu terjangkit sedangkan kamu berada dalam negeri itu, janganlah kamu keluar melarikan diri. (HR. Ahmad, Bukhori, Muslim dan Nasai dari Abdurrahman bin 'Auf). Mengarantina agar penyakit tersebut tidak menyebar luas, perlu memperhatikan hal-hal berikut: selama karantina seluruh kebutuhannya tidak diabaikan; diberi pengobatan gratis; berinteraksi dibawah pengawasan dan jauh dari media serta aktivitas yang mampu menularkan; merehabilitasi mental (keyakinan, ketakwaan, kesabaran) sehingga mempercepat kesembuhan dan memperkuat ketaqwaan.

Telah diakui bahwa kesehatan mental mengantarkan pada 50 % kesembuhan. Di sisi lain, jika selama ini penyakit seperti HIV/AIDS belum ditemukan obatnya maka negara wajib mengerakkan dan memfasilitasi para ilmuawan dan ahli kesehatan agar secepatnya bisa menemukan obatnya. Dengan cara-cara tersebut diharapkan dapat memutus mata rantai penyebaran HIV/AIDS sehingga jutaan anak bangsa dapat diselamatkan. Jika tidak, kita akan menemui bangsa ini kehilangan generasi.

(Penulis adalah Aktivis Hizbut Tahrir Indonesia)

(wns)