Thursday, 16 September 2010 07:17    PDF Print E-mail
Letusan Sinabung yang hentakkan dunia
Ragam
ABDULLAH LATHIF MANJORANG
Koresponden Karo
WASPADA ONLINE


NAMAN TERAN – Tidak ada yang menduga bahwa Gunung Sinabung, sebagai puncak tertinggi di Sumatera Utara dengan ketinggian 2.460 meter bakal menyemburkan lavanya untuk kedua kalinya. Bahkan, letusan yang mengeluarkan lava pijar, Sabtu (28/8) malam, sekitar pukul 23.50 WIB, membuat status yang disandang gunung tersebut langsung melejit dalam waktu yang singkat.

Dari yang sebelumnya menyandang tipe B dengan status AKTIF NORMAL, langsung melejit menjadi tipe A dengan level tertinggi berstatus AWAS. Tipe B adalah dimana tak perlu dilakukan pemantauan aktivitas gunungnya. Sedangkan tipe A merupakan gunung aktif dan sering terjadi letusan. Hal itu membuat Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) merekomendasikan dilakukan pengungsian masyarakat yang bermukim dan beraktivitas para radius 6 km dari kawah aktif Gunung Sinabung.

Menarik menyimak letusan kedua Sinabung ini, karena inilah yang membuat segalanya berubah. Sekejap saja, pandangan dunia pun langsung mengarah ke puncak tertinggi di Sumatera Utara ini. Buktinya, kantor berita Reuters yang memasukkan Sinabung ke dalam tajuknya. Demikian juga Associated Press, Foxnews, Telegraph, CNN, New York Times, Washington Post, Xinhua dan banyak lagi media level dunia yang ikut menyoroti meletusnya Sinabung dalam laporan yang berkelanjutan.

Kebetulan, saat terjadinya letusan kedua ini, Waspada Online sedang berada di desa paling dekat dengan gunung tersebut, hanya dalam radius 0 Km, yaitu desa Bekerah kecamatan Naman Teran kabupaten Karo. Waspada Online merupakan satu-satunya media yang bergabung bersama tim dari Pusat Vulkanologi Dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Bidang Mitigasi Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumut dan Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Provinsi Sumut serta tim dari Pemkab Karo.

Kedatangan kami, Sabtu (28/9) malam itu, untuk memasang alat pendeteksi seismograph. Dalam perjalanan menuju desa Bekerah, Waspada Online yang menumpangi mobil milik BPBD sempat berbincang-bincang dengan salah seorang petugas BPBD Sumut, yang mengatakan bahwa kondisi Gunung Sinabung sebenarnya belum bisa diprediksi. Hal ini disebabkan belum adanya peralatan yang dipasang di gunung itu. Saat itulah saya ketahui, bahwa di mobil yang kami naikilah semua peralatan diangkut.

Namun, bila melihat aktifitas gunung yang belum pernah meletus sejak lebih dari 400 tahun lalu, kecil kemungkinan gunung ini akan kembali meletus. Hal ini diperkuat setelah ia melihat rekaman foto Waspada Online (yang kebetulan disiang harinya saya ke lokasi) menunjukkan bahwa asap yang keluar berwarna putih. Sehingga, menurutnya, Gunung Sinabung hanya mengalami ‘batuk’ sebelumnya.

“Tapi ini hanya sebuah prediksi. Karena kita belum melihat dan menge-check langsung. Namun, kalau dilihat asap yang keluar berwarna putih, sepertinya (Gunung Sinabung-red) hanya batuk saja,” katanya saat itu.

Cerita dan dialog yang terjadi di sepanjang perjalanan ini membuat saya sedikit tenang bahwa Gunung Sinabung akan ‘baik-baik’ saja. Meski, di lubuk hati yang terdalam ada kekhawatiran, was-was dan bayangan gunung ini akan kembali meletus. Penyebabnya? Karena seismograph dan peralatan pendukung lainnya masih ada bersama kami di mobil yang kami kendarai alias belum terpasang. Jadi, bagaimana kita bisa mengetahui aktivitas gunung Sinabung saat itu?

Menjelang tibanya di desa bekerah, kami pun melewati sejumlah desa yang memang ramai. Hal ini disebabkan, warga diminta kembali menuju rumahnya pada Sabtu (28/8) dinihari yang dihantar mobil milik Polres Karo. Pengakuan warga, mereka ‘dipaksa’ pulang oleh beberapa oknum, dinihari itu juga. Padahal, letusan pertama terjadi pada Jumat (27/8) pukul 18.30 WIB yang menurut warga, saat itu gunung ini juga mengeluarkan semburan api yang belakangan diketahui lava pijar.

Tak lama berselang, kami tiba di desa Bekerah. Di lokasi ini rencananya seismograph akan dipasang. Namun, karena tempat yang dituju jalannya sangat mendaki, maka saat itu kami berhenti sejenak untuk memilih mobil yang diikutsertakan naik (mobil yang saya tumpangi diperbolehkan sekaligus diwajibkan untuk naik) serta tempat yang cocok untuk memasang alat itu sekaligus memperbincangkan kembali persiapan-persiapan tentang apa saja yang akan dilakukan.

Saya saat itu, keluar dari mobil dan menemui warga yang lagi berjaga malam sembari membuat api unggun. Kemudian, saya dipanggil oleh salah seorang pegawai Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) dan Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI) untuk berbincang-bincang. Sesaat kemudian, setelah ia menyampaikan keinginannya, saya pun pamit menuju kendaraan BPBD, yang tadi saya tumpangi.

Setibanya di samping mobil itu, saya berhenti sejenak dan melihat kondisi Gunung Sinabung. Baru saya sadari, ternyata posisi mobil yang saya tumpangi berada di tempat strategis. Pandangan ke Gunung Sinabung terlihat begitu jelas, tanpa pemisah, tanpa jarak. Dari puncak hingga tempat saya berdiri seakan terhubung langsung tanpa apa pun yang menghalangi.

Selang beberapa detik pandangan mata saya terfokus ke puncak Gunung Sinabung, tiba-tiba, terdengar gemuruh yang begitu kuat, getaran yang sangat terasa. Mendadak semuanya histeris. Namun, hal ini tidak membuat saya bergerak. Pandangan saya tetap menuju Sinabung menyaksikan bagaimana detik-detik keluarnya lava pijar serta debu vulkanik yang meluncur dari puncak gunung itu. Untungnya, lava pijar itu tidak mengarah ke kami.

Lantas, saya pun sadar dan mencari ‘senjata’ saya, yaitu kamera. Sayangnya (dan merupakan hal yang sangat saya sesali), berulang kali mencoba untuk mengabadikan momen sangat berharga tersebut, Canon D 1000 yang saya bawa ternyata tidak bisa diajak berkompromi. Setidaknya, ada lima menit waktu yang saya habiskan sia-sia saat itu, sebelum akhirnya teringat ponsel yang saya bawa. Ironisnya, terkesan memang tidak memiliki rezeki, ponsel saya dalam keadaan low bat. Akhirnya, saya memutuskan untuk kembali naik ke mobil dan meminta kepada pengendaranya untuk segera kembali.

Tak lama naik ke mobil, puluhan, bahkan ratusan warga langsung menyerbu dan berebut naik ke mobil yang saya tumpangi. Akhirnya, dari jumlah maksimal penumpang hanya lima orang, diisi menjadi 16 orang. Mereka berlomba-lomba menaikkan keluarga mereka. Namun, karena kapasitas mobil yang tidak mencukupi, tidak semua anggota dari tiga keluarga berhasil naik. Alhasil, ada yang ibunya tertinggal, anaknya atau anggota keluarganya yang lain. Jeritan histeris warga riuh terdengar.

Sementara, di sepanjang perjalanan, terlihat warga berduyun-duyun meninggalkan kampung halamannya sembari mencoba menghentikan setiap kendaraan yang melintas. Suasana yang paling mencekam, disaat abu belerang mulai berjatuhan menghujani ribuan warga yang ada dibawahnya. Tangisan warga makin kuat terdengar. Namun, terpaksa harus menunggu bantuan dari Kabanjahe tiba.

Sepanjang perjalanan saya mencoba untuk tenang dan bersama salah seorang petugas BPBD yang menyetir mobil, berusaha menenangkan dan meyakinkan warga bahwa bantuan akan segera datang untuk menjemput keluarga mereka yang tertinggal. Namun, deruan tangis mereka tetap histeris sembari berdoa menurut agamanya. Anehnya, kembali ke persoalan kamera tadi, dalam perjalanan ini, saya sempat mengabadikan kondisi warga di mobil dan bisa terekam dengan baik.

Terlepas dari hal itu, tidak bisa dipungkiri, letusan kedua Sinabung inilah yang merubah segalanya. Letusan yang ‘mengajak’ mata dunia untuk melihat Karo lebih dalam. Letusan yang ‘mengundang’ Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Karo. Letusan yang mengubah pernyataan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Surono, yang mengaku bersalah atas prediksi dan analisanya. Juga letusan yang menimbulkan opini bahwa letusan ini diperkirakan pertanda kemungkinan terjadinya gempa besar di Kabupaten Karo, menyamakannya dengan Gunung Talang di Sumatera Barat.

“Letusan Sinabung bisa saja menjadi pertanda bahwa gempa besar karo dengan masa perulangan setiap 70 tahun bakal segera terjadi. Sebelumnya Karo pernah diguncang gempa dengan kekuatan 7,2 SR pada 1936 lalu yang meluluhlantakkan Karo dan mengguncang kabupaten disekitarnya. Apalagi memang sekarang ini sudah memasuki masa siklus 70-80 tahunan gempa Karo,” kata ketua dewan pakar Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Sumut-Aceh, Jonathan Tarigan.

Letusan ini juga yang mengubah status Gunung Sinabung, dari tipe B, AKTIF NORMAL, langsung melejit menjadi tipe A dengan level tertinggi berstatus AWAS. Hal ini menunjukkan bahwa sewaktu-waktu Gunung Sinabung akan meletus. Kapan? Tidak ada yang bisa memprediksinya. Bahkan, Kepala PVMBG pun tidak.

“Saya bukan pawang, Saya hanya mendengarkan apa maunya Sinabung. Saya juru bicara Sinabung,” kata Surono kepada Presiden SBY dalam pemaparannya di Desa Perteguhen Kecamatan Simpang Empat, Senin (6/9).

Bahkan, hingga saat ini, Rabu (15/9) malam, gunung ini masih terus menunjukkan aktivitasnya. Namun, letusan terdahsyatnya adalah sesaat setelah Presiden SBY meninggalkan Karo, persisnya pada Selasa (7/9), sekitar pukul 00.12 WIB dinihari. Letusan ini yang membuat untuk pertama kalinya Kabanjahe dihujani lumpur debu vulkanik, karena bertepatan dengan hujan yang sangat deras.

Namun, apa pun yang terjadi, saat ini pemerintah harus fokus kepada 25.998 jiwa pengungsi, sampai Rabu (15/9) malam. Bagaimana tidak, saat ini mereka yang terbiasa memiliki rutinitas bekerja ke ladang, harus berdiam diri di posko yang dihuni ribuan jiwa. Hal ini tentu sangat rentan terhadap kejiwaan mereka. Belum lagi anak-anak pengungsi yang terbiasa riang diharuskan menghadapi kenyataan ini.

Seperti dikatakan Gubsu, Syamsul Arifin, saat ‘sidak’, Senin (31/8) tengah malam, bahwa pemerintah juga manusia yang memiliki kekurangan dalam memberikan pelayanan kepada manusia. Namun, Pemerintah juga harus berupaya secara maksimal untuk memberikan pelayanan terbaik dalam membantu kebutuhan pengungsi, terkhusus masalah kesehatan dan psikologi pengungsi.

Selain kebutuhan lainnya yang mendesak, penanganan masalah psikologis merupakan hal yang terpenting. Banyak yang mengira kejadian ini hanyalah aktivitas gunung biasa. Namun, saat orang yang tak terbiasa, bahkan baru mengalami sekali seumur hidupnya, ini adalah musibah yang sangat luar biasa. Apalagi, saat berada langsung di sekitar Gunung Sinabung, tentu rasa kaget, khawatir, takut, was-was bercampur menjadi satu. Inilah yang diperlukan oleh pengungsi saat ini, saat posko dipenuhi makanan fisik, namun mereka lapar ‘santapan’ rohani yang bisa membuat jiwanya tenang dan terpuaskan.
(dat04/wol-mdn)

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment