Wednesday, 23 June 2010 14:43    PDF Print E-mail
Mengenal 2 jenis mimisan
Ragam
WASPADA ONLINE

Keluarnya darah dari hidung disebabkan pecahnya pembuluh darah di selaput lendir hidung. Darah bisa banyak keluar, bisa sedikit, tergantung besar kecilnya pembuluh yang pecah. Mimisan terbagi dua, epistaksis anterior dan epistaksis posterior. Jenis posterior, titik perdarahan hanya di hidung bagian depan, sehingga tidak berbahaya.

Dr. Handikin menjelaskan, arteri di anterior letaknya di permukaan dan sangat kecil. Bila terjadi mimisan, pecahnya cuma kecil. Bila pendarahan normal, sekitar 3-5 menit akan berhenti sendiri. Mimisan jenis ini biasa terjadi pada anak yang kurang istirahat, panas tinggi, menjelang akil balik, atau trauma di hidung luar.

Jenis kedua, epistaksis posterior, titik perdarahan tidak kelihatan karena letak arteri di dalam. Bisa tiba-tiba terjadi perdarahan terus-menerus lewat hidung. "Pada epistaksis posterior, yang pecah adalah arteri besar, sehingga perdarahan bisa terus-menerus," tambahnya.

Mimisan jenis ini kerap terjadi karena hipertensi. Yang menarik, pecahnya arteri sfenopalatina pada penderita hipertensi justru baik karena menjadi klep pengaman dari stroke. "Kalau stroke, yang pecah arteri di dalam otak. Sebelum arteri itu pecah, arteri sfenopalatina sudah pecah dulu, sehingga tensinya turun dan bisa meredakan sakit kepala," paparnya. Ini biasanya terjadi pada orang usia di atas 40 tahun.

Seseorang yang pernah mimisan posterior akibat hipertensi, tekanan darahnya harus selalu terkontrol. Jika tidak, kernungkinan arteri sfenopalatina pecah lagi, sekitar 50 persen.

Jenis-jenis mimisan bisa ada kaitannya dengan umur. Sinusitis biasa terjadi di usia 4 tahun. Mimisan pada anak usia awal masuk SD seringkali disebabkan flu yang lama, alergi, atau radang. Mimisan karena perubahan cuaca, biasanya karena radang, misalnya hidung mampat karena udara dingin maupun terkena panas sinar matahari.

"Radang membuat pembuluh darah melebar dan cenderung mudah terjadi perdarahan. Perubahan suhu secara tiba-tiba juga bisa membuat pembuluh darah pecah, sehinga panas sedikit saja mimisan," ujar Dr. Tiara.

Mimisan yang tak terkait usia umumnya karena kelainan darah, diantaranya leukemia, hemofilia (darah sukar membeku), dan talasemia. "Ini yang harus diwaspadai. Mimisan karena penyakit darah tidak menunjukkan gejala seperti batuk, pilek, atau alergi, meski mungkin ada demam," ujar Dr. Handikin.

Mimisan ini susah dihentikan, tidak seperti mimisan karena genetik. Mimisan karena alergi akan berhenti bila penderita istirahat, hidung bisa dikompres dingin atau disumpal daun sirih.

Penyakit yang memicu perdarahan di hidung, misalnya tumor, juga harus diwaspadai. Pada orang dewasa, gejalanya seperti flu yang tak jua sembuh. "Harus waspada, kalau flu tidak juga sembuh. Kadang hidung tersumbat, setelah diperiksa teryata ada sel-sel ganasnya," ujarnya.
(dat01/pas)

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment