|
|
| Pemerintah harus hati-hati terbitkan obligasi di 2010 |
| Ekonomi & Bisnis - Bisnis |
WASPADA ONLINE JAKARTA - Analis ekonomi dari Econit Hendri Saparini mengingatkan pemerintah untuk berhati-hati menerbitkan obligasi pada tahun depan. Pasalnya, aliran modal jangka pendek (hot money) pada 2010 diyakini tidak sederas tahun ini dan 2008."Karena kemungkinan negara maju akan banyak menarik dananya," ujar dia di Jakarta, pagi ini. Ketika likuiditas mengetat dan pemerintah tetap berkukuh menerbitkan obligasi, Hendri menuturkan, beban imbal hasil (yield) surat utang akan naik. Hal ini lantaran pemerintah terpaksa menaikan penawaran yield supaya obligasinya laku. Dengan dugaan kondisi likuiditas pada 2010 tersebut, Hendri menyarankan agar pembiayaan APBN lewat utang dikurangi. Pemerintah lebih baik meningkatkan penerimaan negara di luar pajak. Dalam hal ini, pemerintah bisa menggenjot penerimaan dari royalti perusahaan tambang atau mendesain sistem bagi hasil yang lebih menguntungkan kepentingan nasional. "Harus ada reformasi penerimaan nonpajak dari sumber daya alam," ujar Hendri. Pemerintah berencana menarik utang sebesar Rp233,66 triliun pada tahun depan, baik dari penerbitan surat utang maupun pinjaman langsung. Utang baru ini diperlukan untuk menutup kebutuhan pembiayaan 2010 yang diperkirakan mencapai Rp236,13 triliun. Direktur Jenderal (Dirjen) Pengelolaan Utang Departemen Keuangan (Depkeu) Rahmat Waluyanto mengatakan, penarikan utang tersebut dirancang berasal dari penerbitan surat utang secara bruto (gross) Rp175,06 triliun, pinjaman program Rp24,44 triliun, pinjaman proyek Rp33,13 triliun, dan pembiayaan dalam negeri yang memungkinkan dari perbankan nasional Rp1 triliun. "Pemerintah akan mengoptimalkan sumber pembiayaan dalam negeri untuk merealisasi seluruh rencana utang baru tersebut," ujarnya. (dat07/kez) |













Twitter
JAKARTA - Analis ekonomi dari Econit Hendri Saparini mengingatkan pemerintah untuk berhati-hati menerbitkan obligasi pada tahun depan. Pasalnya, aliran modal jangka pendek (hot money) pada 2010 diyakini tidak sederas tahun ini dan 2008.

Comments