Tuesday, 04 September 2007 07:00    PDF Print E-mail
Membangun Kesadaran Politik Masyarakat
Opini
Tahun 2008 akan diadakan Pemilihan Gubernur Sumatera Utara (Pilgubsu). Momentum itu harus mendapat perhatian serius dan ketat agar dapat mengubah nasib 'gelap' masyarakat Sumut. Mulai dari membidani pencerahan PLN mengusir 'kegelapan' Sumut, sampai dengan pengentasan kemiskinan, pemberantasan korupsi serta pelayanan kesehatan dan pendidikan berbiaya murah yang sangat didambakan masyarakat. Perubahan menuju kehidupan yang 'terang' sungguh membutuhkan tangan-tangan cerdas, kerja keras dan ikhlas. Dan itu sangat ditentukan oleh kesadaran politik masyarakat untuk memilih kepala daerah yang akan mengurusi urusan masyarakat nantinya. WASPADA Online    

Oleh Rony Darwin, ST

Tahun 2008 akan diadakan Pemilihan Gubernur Sumatera Utara (Pilgubsu). Momentum itu harus mendapat perhatian serius dan ketat agar dapat mengubah nasib 'gelap' masyarakat Sumut. Mulai dari membidani pencerahan PLN mengusir 'kegelapan' Sumut, sampai dengan pengentasan kemiskinan, pemberantasan korupsi serta pelayanan kesehatan dan pendidikan berbiaya murah yang sangat didambakan masyarakat. Perubahan menuju kehidupan yang 'terang' sungguh membutuhkan tangan-tangan cerdas, kerja keras dan ikhlas. Dan itu sangat ditentukan oleh kesadaran politik masyarakat untuk memilih kepala daerah yang akan mengurusi urusan masyarakat nantinya.

Politisasi Politik Negatif
Pernyataan: 'Politik itu kejam, politik itu kotor, politik itu menghalalkan segala cara', menurut saya merupakan pembodohan politik masyarakat oleh politikus tikus yang takut bertarung secara jantan dalam pentas politik praktis. Tidak sedikit orang yang menjauh dan menutup diri dari aktivitas politik akibat stigmatisasi negatif politik itu. Dampak paling keras dirasakan pada kalangan agamais, bahkan sampai pada pernyataan: 'Politik itu haram', ketika dihadapkan dengan agama yang suci, bersih dan beradab. Sering kita temukan tokoh-tokoh agama yang menyeru jamaahnya untuk menjauhi politik hanya karena pernyataan itu sesuai dengan fakta kekinian. Padahal, fakta itu merupakan fakta buruk yang harus diubah dari keniscayaan politik dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Tujuan dari politisasi politik negatif itu sungguh kasat mata, yaitu untuk mengurangi pesaing politik menuju tampuk kekuasaan dan menciptakan kondisi kondusif praktik politik kotor yang mendapat pembenaran dengan pernyataan di atas. Keberlangsungan kekuasaan mereka terjamin karena tidak ada lagi pengawasan (amar ma'ruf nahi munkar) dari kalangan agamais yang bermoral. Apa yang terjadi selanjutnya sudah dapat diketahui. Politikus tikus dengan mudah meraih kekuasaan. Kalaupun terjadi pertarungan, pertarungan itu hanya terjadi di antara tikus-tikus nakal, dan yang menang tetap tikus. Sedangkan kalangan agamais yang memiliki hati nurani telah menjauh dan menutup diri dari arena politik karena kebodohannya. Bagaimana tidak bodoh, mereka telah membiarkan diri, keluarga dan masyarakat yang dicintainya dipimpin oleh para tikus. Membiarkan politikus tikus berkuasa berarti berperan dalam mewujudkan kehidupan 'gelap' yang disukai para tikus.

Kesadaran Politik
Politik adalah pengaturan urusan masyarakat melalui kekuasaan. Kekuasaan diperoleh dari rakyat melalui pemilihan. Ini berarti yang akan menduduki tampuk kekuasaan ditentukan oleh masyarakat. Selain itu, masyarakat juga merupakan lahan tempat lahirnya para pemimpin. Oleh karena itu, kualitas masyarakat akan menentukan kualitas penguasa yang terpilih. Di sinilah pentingnya mencerdaskan masyarakat dengan membangun kesadaran politik. Adanya kesadaran politik berarti adanya kesadaran masyarakat tentang bagaimana pengaturan urusan mereka; aturan seperti apa dan siapa yang akan menjalankan aturan tersebut. Masyarakat tidak akan tertipu lagi janji-janji palsu yang ditebar calon penguasa saat kampanye, apalagi sampai menggadaikan hak pilih hanya untuk selembar baju kaos murahan, uang makan siang atau sembako.

Kesadaran politik bisa terwujud dengan melakukan pembinaan politik. Pembinaan dapat dilakukan melalui aktivitas pembinaan pemikiran berdasarkan kaidah-kaidah tertentu. Pemikiran itu haruslah pemikiran yang mendasar dan menyeluruh yang mampu memancarkan sistem hidup, atau biasa disebut dengan ideologi. Dengan begitu, masyarakat akan memiliki gambaran yang jelas tentang sistem hidup (baca: aturan hidup) yang akan diterapkan, dan siapa (baca: penguasa) yang pantas untuk menjalankannya. Jadi, pertarungan politik pada hakikatnya adalah pertarungan ideologi, baik yang bersumber dari kejeniusan akal manusia -seperti kapitalisme dan sosialisme- atau yang bersumber dari agama. Di sini penting untuk membedakan antara agama dan ideologi. Agama adalah ajaran ketuhanan dan peribadatan yang bersifat individual, sedangkan ideologi adalah tentang sistem hidup yang bersifat komunal. Ideologi apa pun yang diterapkan, tidak ada hubungannya dengan pemaksaan suatu agama. Yang ada hanyalah keberhasilan pengemban ideologi tersebut untuk meyakinkan masyarakat tentang meraih hidup damai, sejahtera, adil dan beradab jika ideologi tersebut diterapkan, tanpa melihat lagi darimana asalnya. Semua orang, apa pun agamanya, pasti menginginkan hal yang demikian.

Pembinaan juga dilakukan melalui aktivitas pengamatan berita dan peristiwa politik secara berkesinambungan. Sebab, berita dan peristiwa itu merupakan untaian yang saling berhubungan sesuai dengan situasi dan kondisi yang berlaku. Tidak boleh ada berita dan peristiwa yang terlewatkan. Terputusnya mata rantai berita dan peristiwa politik akan menyulitkan untuk memahami realitas politik, bahkan bisa jadi salah. Di sinilah kemampuan dan kemudahan akses media, baik cetak maupun elektronik menjadi urgent. Yang penting untuk dijelaskan selanjutnya adalah bagaimana membedakan antara fakta dan opini yang ada dalam pemberitaan media. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa media juga bisa menjadi corong politik yang berpihak dengan pemberitaan fakta konstruksi untuk menonjolkan kesan tertentu.

Penutup
Kesadaran politik akan memunculkan peran aktif masyarakat dalam meningkatkan mutu kehidupan dengan melakukan pengawasan ketat atas kebijakan penguasa. Apalagi jika hal ini dilandasi oleh kesadaran atas hubungannya dengan Tuhan yang mewajibkannya untuk memikirkan urusan masyarakat. Tidak akan ada hambatan dan ancaman yang akan menghentikannya. Tidak akan ada bujukan, rayuan yang akan memalingkannya. Maka terciptalah social control yang berasal dari people power yang cerdas dan bermoral. Dalam kondisi seperti ini, perubahan dari kehidupan 'gelap' menuju 'terang' tinggal menunggu waktu. Dari masyarakat seperti ini juga akan lahir pemimpin-pemimpin yang mumpuni dan amanah yang siap untuk mengambil alih kepemimpinan mewujudkan kehidupan damai, sejahtera, adil dan beradab. Wallahu'alam bi ashshawab

Penulis adalah pengamat Sospol
(wns)

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment