Thursday, 18 July 2013 06:22    PDF Print E-mail
Rupiah melemah pengaruhi ekonomi
Ekonomi & Bisnis
WASPADA ONLINE

JAKARTA - Direktur Utama Bank Negara Indonesia (BNI) Syariah Dinno Indiano berpendapat bahwa kurs atau nilai tukar dolar Amerika terhadap rupiah yang telah melewati angka Rp10.000 belum tentu suatu nilai ekuilibrium (harga keseimbangan) yang baru.

"Kalau mengenai nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika yang terakhir ini semakin melemah tentu akan berpengaruh pada ekonomi kita. Namun, kami belum bisa mengatakan kalau ini memang ekuilibrium baru karena sebetulnya ini bisa saja suatu adjustment (penyesuaian)," kata Dinno di Jakarta, malam tadi.

Nilai tukar dolar Amerika terhadap rupiah memang sudah cukup lama mendekati Rp10.000, tetapi tidak pernah lewat dari Rp10.000.

"Jadi, hal ini kan terjadinya baru beberapa hari ini saja. Artinya, dalam masa 'adjustment' (penyesuaian) ini tentunya kita perlu waktu untuk mengatakan apakah ini suatu ekuilibrium yang baru atau tidak," ujarnya.

Dinno menekankan keadaan tersebut sebenarnya juga tergantung pada "supply" (penawaran ) dan "demand" (permintaan) terhadap dolar Amerika di pasar.

Oleh karena itu, dia berharap Bank Indonesia (BI) dapat segera mengambil suatu tindakan yang tepat agar nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika dapat stabil kembali.

"Kami berharap ini akan menjadi 'smooth' (lancar,red) dalam beberapa hari kedepan. Kami juga berharap dari BI ada gerakan agar nilai tukar rupiah ini dapat lebih stabil," katanya.

Dia menyadari nilai tukar rupiah yang melemah itu akan berdampak bagi sektor-sektor ekonomi, khususnya bagi sektor ekspor dan impor.

Dia mengatakan, kalangan dunia usaha menilai pelemahan rupiah terhadap dolar AS dapat membantu kinerja ekspor Indonesia. Akan tetapi, kondisi tersebut juga menimbulkan permasalahan bagi industri manufaktur yang sangat bergantung pada bahan baku impor.

"Kalau untuk eksportir tentunya senang bila kurs rupiahnya melemah, tetapi untuk importir yang bergantung pada bahan baku impor tentu tidak," ucap Dinno.

Bagaimanapun, dia menilai hal yang paling penting untuk diusahakan saat ini adalah kestabilan dari nilai tukar rupiah guna mendukung sektor perdagangan dan bisnis.

"Jadi, yang diharapkan adalah ditentukan hasil ekuilibriumnya mau berapa. Terutama kestabilan dari nilai tukar rupiah ini yang paling diperlukan agar di dalam perdagangan menjadi lebih mudah memprediksi untuk jangka waktu kedepan," katanya.
(dat16/antara)

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment